Lintal Muna: Indahnya Berdakwah di ‘Aisyiyah

Inspirasi 24 Mar 2020 0 402x

Lintal Muna, perempuan kelahiran Pati yang akrab dipanggil Lin merupakan salah satu muballighat andalan ‘Aisyiyah Jawa Tengah. Bahkan 2018 silam, ia baru saja dianugerahi penghargaan Perempuan Penggerak Gender Kabupaten Pati. “Saya baru mulai aktif berdakwah setelah masuk ‘Aisyiyah,” ungkap Lintal Muna. Setelah menikah dengan suami yang pada saat itu menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah, Lintal mulai tertarik mempelajari tentang Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Ia pun kemudian memutuskan masuk ke ‘Aisyiyah. Kini, Lintal justru memegang peranan penting dalam tabligh ‘Aisyiyah. Perempuan berusia 57 tahun ini mengaku menemukan keindahan serta keberkahan dalam berdakwah di ‘Aisyiyah.

Lintal Muna, saat menerima penghargaan Wanita Penggerak Gender oleh Bupati Pati

Lin kemudian menjelaskan alasannya menggemari dakwah, “Dakwah adalah tempat terbaik untuk mengamalkan ilmu, seperti dalam sebuah hadis  بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً, atau sampaikanlah walau hanya satu ayat,” jelasnya. Perempuan kelahiran 10 September 1965 ini menjelaskan, jika mempunyai ilmu dan tidak disampaikan, maka ilmu tersebut tidak bermanfaat. Kelak di hari akhir, imbuhnya, yang akan dibawa manusia setelah meninggal dunia hanyalah tiga amalan, salah satunya ilmu yang bermanfaat.  

Lintal konsisten menyampaikan pesan kesetaraan beramal saleh dalam bertabligh sesuai paham Islam Berkemajuan,  “Saya memasukkan materi pencerahan saat bertabligh.” Lintal memberikan contoh tentang kesetaraan gender, di mana pada zaman dahulu perempuan ditempatkan sebatas melayani suami. Padahal, ungkapnya, posisi laki-laki dan perempuan sama di hadapan Allah swt. sebagaimana tersebut dalam Q.S. an-Nahl: 97. Selain itu, terkait dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan seksual yang makin meningkat.

Kedua isu tersebut, terang Lintal, menjadi problem perempuan saat ini. Oleh karena itu, Lintal mengajak untuk berdakwah mencegah KDRT dan kekerasan seksual. Ketua Majelis Tabligh PWA Jawa Tengah yang sekaligus menjadi Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Pati ini, kerap menyibukkan dirinya dengan memberikan kajian di berbagai tempat yang tersebar di tingkat daerah mapun se-Jawa Tengah.

Lintal bukan hanya berdakwah di Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal (TK ABA), pertemuan PKK, musholla, masjid,  radio, bimbingan rohani di rumah sakit, maupun pendampingan masyarakat. Namun juga berdakwah hingga ke Lorong Indah (LI) tempat banyak terdapat PSK. Menurutnya, lewat dakwah, ia berharap ilmu yang dimiliki dapat bermafaat bagi orang banyak.

Dalam jalan kebajikan mana pun, selalu ada tantangan yang dihadapi. Begitu pula jalan dakwah Lintal Muna. Ibu empat anak ini mengaku, terkadang sulit mengajak perempuan mengaji dengan dalih berbagai alasan. Tidak jarang, Lintal mendapatkan penolakan saat memberi kajian pada komunitas yang berbeda ideologi, “Padahal sejatinya mendakwahkan al-Islam tidak perlu melihat organisasi maupun warna ‘baju’,” tukasnya.

Maka, dengan berbagai prestasi serta pencapaian yang diraih oleh Lintal Muna. Hendaknya menjadi sebuah inspirasi segar bagi kader-kader lainnya, yang menjadikan dakwah sebagai jalan hidup,  serta ‘Aisyiyah sebagai wadah berproses suskes. Terakhir, Lintal Muna berpesan agar menjaga kekompakan dalam memperjuangkan Islam, serta jangan mau dibeda-bedakan karena perbedaan warna ‘baju’. “Dengan saling memahami dan berjabat tangan, “Insya Allah dakwah kita akan semakin bagus,” pungkasnya”. (Gustin Juna)

Sumber Ilustrasi : http://pwmjateng.com/lintal-muna-ketua-majelis-tabligh-pwa-jateng-raih-penghargaan-wanita-penggerak-gender/

Tulisan ini pernah dimuat pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 12 Desember 2019, Rubrik Inspirasi

Leave a Reply