Berita

LP2PPM Sebut Kuantitas dan Kualitas Pesantren Muhammadiyah Belum Cukup Memuaskan

Bandung, Suara ‘Aisyiyah – Jika dibandingkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) lain di bidang pendidikan, jumlah Pesantren Muhammadiyah dapat dibilang masih sedikit. Kondisi itu dibenarkan Maskuri selaku Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah (LP2PPM) 2015-2022.

Dalam Gerakan Subuh Mengaji ‘Aisyiyah Jawa Barat dengan tema “Pesantren Muhammadiyah sebagai Pusat Penyemaian Kader Ulama: Realitas, Harapan, dan Tantangan”, Maskuri mengatakan bahwa secara kuantitas, Pesantren Muhammadiyah memang terbilang sedikit. Selain itu, secara kualitas banyak yang belum dikelola secara profesional dan belum menghasilkan lulusan dengan kualifikasi yang diharapkan.

Selama beberapa waktu terakhir, terang Maskuri, Muhammadiyah‘Aisyiyah memang terlihat cukup serius mengurus pesantren. Salah satu faktornya adalah karena banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa Muhammadiyah juga punya lembaga pendidikan berbentuk pesantren.

Baca Juga: Kaderisasi Ulama di Muhammadiyah-‘Aisyiyah

Jika dibandingkan data tahun 2015 –masa ketika LP2PPM dibentuk–, Pesantren Muhammadiyah yang saat ini berjumlah 402 memang cukup menggembirakan. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan pesantren di Indonesia atau jumlah AUM lain di bidang pendidikan, jumlah tersebut tentu terbilang sedikit.

Dilihat dari persebarannya, dari 34 provinsi di Indonesia, Pesantren Muhammadiyah baru tersebar di 27 provinsi. Adapun provinsi yang belum mempunyai Pesantren Muhammadiyah adalah: Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Ditinjau dari aspek kualitatif, kata Maskuri, Pesantren Muhammadiyah diharapkan mampu menyiapkan lulusan yang berkompeten menjadi ulama dan zu’ama. “Menjadi pendidik yang mampu berjuang dan berkontribusi positif bagi pembangunan dan kemajuan masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya, Selasa (11/1).

“Kita harus berani untuk meluluskan lulusan menjadi pemimpin. Sehingga Indonesia bisa dipimpin oleh kader-kader yang secara ilmu pengetahuannya luas dan juga agamanya kuat,” imbuhnya.

Secara lebih spesifik, profil lulusan Pesantren Muhammadiyah adalah: (a) bertakwa kepada Allah swt., (b) berakhlak mulia; (c) berpikir maju; (d) mampu membaca al-Quran dengan fasih, lancar, dan memahami maknanya dengan benar, dan; (e) mampu menghafal minimal 5 juz al-Quran (1, 2, 28, 29, 30). (sb)

Related posts
Berita

LP2M PWM Jawa Tengah Gelar Sarasehan Budaya dan Ekonomi Pesantren Muhammadiyah

Tegal, Suara ‘Aisyiyah – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah memiliki 180 Pesantren Muhammadiyah dengan santri sebanyak 23.547. Ini adalah aset yang…
Liputan

Pesantren Sains Muhammadiyah: Ijtihad Muhammadiyah Lahirkan Ibnu Sina Abad Ke-21

Muhammadiyah memasuki tahap baru pengembangan pesantren. Kehadiran Pesantren Sains (Trensains) Muhammadiyah Sragen pada 2012 mengawali proses pengembangan itu. Suara ‘Aisyiyah berkesempatan mewawancarai…
Wawasan

Optimalisasi Peran Aisyiyah dalam Pemajuan Pesantren

Oleh: Muhbib Abdul Wahab Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, mendahului madrasah dan sekolah. Sejak abad ke-15, pesantren hadir sebagai…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *