Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah — Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah menyelenggarakan Training of Trainer (ToT) Madrasah Perempuan Berkemajuan (MPB) di Aula Lantai 2 Kantor PP ‘Aisyiyah Yogyakarta, Sabtu-Ahad (12-13/7/25).
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Risalah Perempuan Berkemajuan (RPB), yang menjadi keputusan penting hasil Muktamar ‘Aisyiyah ke-48 di Surakarta, Jawa Tengah.
ToT MPB diikuti oleh 43 peserta secara luring dari berbagai wilayah Indonesia, di antaranya DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Lampung, NTB, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Selain itu, sebanyak 178 peserta lainnya telah mengikuti pelatihan secara daring, menjadikan total lulusan ToT MPB berjumlah 220 trainer.
Ketua LPPA PP ‘Aisyiyah, Siti Syamsiyatun, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyosialisasikan dan membumikan nilai-nilai RPB agar tidak berhenti pada tataran dokumen formal.
“Melalui training ini, kita ingin membumikan tujuh karakter perempuan berkemajuan dan sepuluh komitmennya, supaya risalah ini tidak hanya menjadi dokumen, tetapi menjadi perilaku hidup warga ‘Aisyiyah di seluruh Indonesia, bahkan dunia,” ujarnya.
Syamsiyatun menyebut bahwa tema MPB menjadi pengayaan penting bagi kader ‘Aisyiyah, sekaligus panggilan bagi unsur pimpinan untuk menerjemahkan RPB dalam program-program konkret hingga ke level akar rumput.
“Madrasah Perempuan Berkemajuan ini harus menjadi pengetahuan umum yang tersosialisasi dan terlaksana dengan baik,” tambahnya.
Baca Juga: Mempromosikan Perdamaian Menuju Keadilan untuk Semua
ToT MPB sendiri memuat sembilan materi utama yang mencakup dasar-dasar Manhaj Muhammadiyah, pemahaman mendalam mengenai RPB, perspektif GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) dalam Islam, konsep keluarga sakinah, dakwah advokasi, serta peran ‘Aisyiyah dalam kontestasi gerakan perempuan Islam.
“Intinya, materi-materi ini disiapkan untuk membantu teman-teman di ‘Aisyiyah menjalankan amanat organisasi dengan lebih terarah dan kontekstual,” jelas Guru Besar Bidang Kajian Islam dan Gender UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut.
Lebih jauh, Syamsiyatun menekankan bahwa secara faktual, ‘Aisyiyah telah melakukan revolusi damai dalam mentransformasi masyarakat perempuan di Indonesia, yakni dari posisi sebagai objek menjadi subjek yang aktif dan mencerahkan. “Kita ingin warga ‘Aisyiyah menjadi subjek yang mampu membaikkan kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Melalui ToT ini, para peserta akan mendapatkan bekal dan modul Madrasah Perempuan Berkemajuan yang dapat diimplementasikan secara fleksibel, menyesuaikan kebutuhan dan konteks daerah masing-masing.
“Seberapa berkemajuan kita bisa diukur dari konsistensi kita terhadap karakter dan komitmen perempuan berkemajuan. Di titik mana kita sudah kuat dan di titik mana yang masih perlu diperkuat,” kata Syamsiyatun.
Ia menutup dengan menyerukan bahwa amanah membumikan Risalah Perempuan Berkemajuan ini harus dijalankan oleh LPPA dengan semangat riang gembira.
“Tugas ini bukan beban, tetapi jalan dakwah yang menggembirakan. Kita ingin perempuan ‘Aisyiyah menjadi penggerak perubahan, membangun masyarakat yang inklusif, adil, dan berkemajuan,” pungkas Syamsiyatun.
Dengan terselenggaranya ToT ini, LPPA PP ‘Aisyiyah berharap para trainer dapat menjadi ujung tombak penyebarluasan nilai-nilai perempuan berkemajuan di wilayah masing-masing.
Madrasah Perempuan Berkemajuan tak hanya menjadi ruang pendidikan, tapi juga wahana konsolidasi gerakan perempuan Islam yang mencerahkan dan membebaskan.

