Majalah Suara Aisyiyah adalah Wajah Kemajuan Aisyiyah

Berita 14 Sep 2021 0 89x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Terbit kali pertama pada 1926, Majalah Suara ‘Aisyiyah merupakan wajah progresif yang ditampilkan ‘Aisyiyah dalam konteks masa itu. Bahkan, jika diamati lebih jauh, banyak gagasan ‘Aisyiyah –yang terekam dalam Majalah Suara ‘Aisyiyah—yang masih relevan jika dibicarakan hari ini.

Pernyataan itu disampaikan Muh. Ichsan Prabowo dalam forum Bedah Karya Sejarah Muhammadiyah dengan tema “Perkembangan Wacana Perempuan dalam Majalah Suara ‘Aisyiyah (1930-1985)” yang diselenggarakan secara daring pada Senin (13/9). Kegiatan ini merupakan rangkaian diskusi menuju Kongres Sejarawan Muhammadiyah 2021.

Menurut Ichsan, Majalah Suara ‘Aisyiyah hadir dengan mengemban dua misi utama, yakni (a) menjadi media milik ‘Aisyiyah yang memperjuangkan nilai-nilai Islam yang berkemajuan, dan (b) media milik gerakan perempuan yang menyuarakan nilai-nilai universal yang dikaitkan/didialogkan dengan nilai Islam.

Mengutip penelitian Susan Blackburn tentang Kongres Perempuan Pertama di Indonesia, Ichsan menyampaikan bahwa ada perbedaan yang cukup mencolok antara pola dan/atau strategi gerakan perempuan Islam di Indonesia dan di Barat. Di Barat, sebagai upaya memperjuangkan aspirasinya, gerakan perempuan Islam cenderung menggunakan strategi benturan sosial. Aspek yang lebih fundamental seperti perjuangan kemerdekaan, keadilan, dan sebagainya seringkali tidak terlalu menjadi perhatian utama.

Baca Juga: Suara Aisyiyah Tahun 1927: Perjuangan Mengangkat Derajat Perempuan

Sementara itu, gerakan perempuan Islam di Indonesia sangat kental dengan semangatnya dalam memperjuangkan nilai-nilai humanisme yang “melampaui” batas-batas keperempuanan, seperti kemerdekaan. “Kemerdekaan menjadi ruh penting dalam gerakan perempuan Indonesia. Kemajuan perempuan di Indonesia tidak akan dicapai maksimal tanpa adanya sebuah kemerdekaan,” terang Ichsan.

Media Diseminasi Informasi

Sebagaimana gerakan modernis lain, Muhammadiyah-‘Aisyiyah menjadikan pendidikan sebagai salah satu hal pokok dalam upaya mencerdaskan dan memajukan umat Islam dan bangsa Indonesia. Perhatian Muhammadiyah tentang pendidikan ini dibuktikan dengan penguatan budaya literasi di tubuh organisasi.

Menurut Ichsan, eksistensi Bagian Taman Pustaka, Majalah Suara Muhammadiyah, dan Majalah Suara ‘Aisyiyah hanyalah beberapa bukti konkret keseriusan Muhammadiyah-‘Aisyiyah dalam upaya tersebut. “Kalau sejarah surat kabat di Muhammadiyah-‘Aisyiyah digali lagi, hampir tidak ada habisnya, karena setiap bagian/ortom/daerah memiliki kekhasan masing-masing,” jelasnya.

Ichsan menjelaskan bahwa penerbitan surat kabar dan majalah di Muhammadiyah-‘Aisyiyah itu merupakan upaya organisasi Islam modernis ini untuk menyebarkan informasi dan melakukan kontrol ke cabang-ranting di berbagai daerah di Indonesia.

Wacana Perempuan dalam Suara ‘Aisyiyah

Pada masa awal berdirinya Majalah Suara ‘Aisyiyah, Ichsan mengamati ada setidaknya tiga aspek yang menonjol dalam konteks dinamika wacana perempuan, yakni: pertama, Majalah Suara ‘Aisyiyah berhasil menciptakan pondasi yang penting, yaitu re-organisasi redaktur majalah. Waktu itu, kata Ichsan, Majalah Suara ‘Aisyiyah dikelola oleh perempuan-perempuan terdidik dan mempunyai kapasitas lebih dari cukup untuk mengelola sebuah majalah.

Kedua, pembentukan jati diri pers perempuan di masa kolonial. Majalah Suara ‘Aisyiyah, kata Ichsan, sangat kental dengan nuansa dan narasi perjuangan mengangkat harkat martabat perempuan yang dibalut dengan nilai-nilai Islam. Menurutnya, Majalah Suara ‘Aisyiyah lahir di momen sejarah yang tepat, yakni ketika terjadi kebangkitan gerakan Islam dan kebangkitan gerakan perempuan, dan lebih dari itu, para pimpinan mampu memanfaatkan momentum itu.

Ketiga, wacana perempuan Muslim dalam misi kemerdekaan. Mengenai aspek ini, Ichsan mengatakan, “hal ini karena memperjuangkan kemerdekaan merupakan tugas umat beragama dan kemajuan perempuan Indonesia sejatinya tidak akan dicapai tanpa kemedekaan itu sendiri”.

Baca Juga: Sejarah ‘Aisyiyah: Kelahiran Perempuan Muslim Berkemajuan

Pada masa pasca-kemerdekaan, tepatnya pada era orde lama, Majalah Suara ‘Aisyiyah mengalami beberapa dinamika yang cukup krusial. Hal ini, menurut Ichsan, tidak dapat dilepaskan dari arah politik Muhammadiyah yang cenderung mendekat ke Masyumi. Kedekatan itu sedikit-banyak menggeser wacana utama yang digaungkan Majalah Suara ‘Aisyiyah.

Selanjutnya, pada era orde baru, Majalah Suara ‘Aisyiyah juga mengalami situasi yang cukup sulit. Di satu sisi ada tekanan dari pemerintah kepada gerakan perempuan, dan di sisi yang lain ada pembatasan gerak-perkembangan gerakan Islam. “Meski begitu, secara perlahan ‘Aisyiyah justru menemukan posisi baru sebagai gerakan perempuan, mengembalikan posisi awalnya sebagai gerakan pelayanan sosial,” kata Ichsan.

“Melihat Majalah Suara ‘Aisyiyah,” ungkap Ichsan, “sama dengan melihat bagaimana sebuah bentuk kekhasan Islam Indonesia yang menghargai dan menempatkan perempuan dalam posisi yang penting dan setara dalam masyarakat”.

Dalam diskusi ini, hadir pula Pemimpin Redaktur Majalah Suara ‘Aisyiyah tahun 80-an, Uswatun Hasanah. Beliau bercerita bahwa dalam momen Kongres Perempuan Pertama di Indonesia, ‘Aisyiyah merupakan satu-satunya organisasi perempuan yang sudah mempunyai majalah. Sehingga, lanjutnya, ketika Kongres Perempuan berencana membuat majalah, yang ditunjuk sebagai pemimpin redaksi adalah kader ‘Aisyiyah, yakni Siti Hayinah (yang pada waktu itu juga menjadi pemred Majalah Suara ‘Aisyiyah).

Keterlibatan aktif ‘Aisyiyah dalam Kongres Perempuan dan lebih khusus terpilihnya Siti Hayinah sebagai pemred majalah, menurut Uswatun Hasanah, memberi nuansa tersendiri bagi gerakan perempuan di Indonesia, yakni nuansa keislaman. (sb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *