Berita

Majelis Tarjih Tegaskan Ramalan Zodiak dan Perdukunan Digital adalah Syirik

Pengajian Tarjih

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah Dewasa ini, praktik perdukunan menjadi makin populer dan diminati oleh masyarakat karena di-back up oleh media. Oleh media, praktik ini dikemas menggunakan istilah-istilah yang seakan-akan tidak menunjukkan adanya penyimpangan.

“Di sinilah dibutuhkan peran agama dan para tokohnya (termasuk Muhammadiyah) untuk melakukan peran purifikasinya dalam rangka mensterilkan akidah umat Islam dari berbagai penyimpangan dan kesyirikan yang dapat membatalkan ketauhidan mereka,” ucap Ruslan Fariadi.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam Pengajian Tarjih, Rabu (11/1). Dalam pengajian bertema “Hukum Percaya pada Ramalan Zodiak dan Praktik Perdukunan Digital”, Sekretaris Divisi Kaderisasi dan Organisasi Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah itu menjelaskan bahwa ada perbedaan mendasar antara perdukunan dan kajian saintifik.

Untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan, para ilmuan melakukan kajian berdasarkan prinsip keilmuan yang objektif, sedangkan para dukun menggunakan cara-cara yang dilarang oleh agama. Menurut Ruslan, prediksi yang bersifat saintifik tidak masuk ke dalam kategori ramalan atau perdukunan.

Baca Juga: Penanaman Tauhid di Masyarakat

Selain peran media sebagaimana disinggung di muka, praktik perdukunan menjadi marak karena beberapa faktor, di antaranya adalah lemah iman, tidak mengerti agama, malas berusaha, korban iklan, dan cinta-benci yang berlebihan. Seiring perkembangan teknologi, perdukunan juga merambah ke dunia digital.

Dalam pandangan Majelis Tarjih, ramalan zodiak, horoskop, sio hewan, dan sebagainya merupakan bagian dari perdukunan (digital). Oleh karenanya, ia merupakan bagian dari bentuk kesyirika. Illat hukum-nya didasarkan pada ayat dan hadits Nabi sw. “Para aktivis perdukunan,” kata Ruslan, “berusaha untuk memodernisasi diri dengan melakukan modifikasi dan kreasi-inovasi sesuai dengan kemajemukan dan perkembangan teknologi”.

Bagaimana jika ramalan tersebut benar? Mengenai hal ini, Ruslan menegaskan, umat Islam mestinya tidak memercayai berbagai ramalan tersebut, bahkan jika itu benar. Ia mengingatkan mengenai dampak yang ditimbulkan dari ramalan itu, mulai dari bagian dari dosa besar, bentuk kedurhakaan kepada Allah, racun amal, menjadi pengikut setan, dan sebagainya.

Mengutip hadits Nabi saw., Ruslan menjelaskan bahwa sesiapa saja yang datang kepada dukun dan membenarkan apa yang ia sampaikan, maka ia telah kafir terhadap wahyu Tuhan. “Bahwa orang yang melakukan kesyirikan, apapun bentuknya, termasuk di dalamnya ramalan-ramalan yang tidak dibenarkan dalam agama kita memiliki dampak yang sangat panjang. Tidak hanya dalam kehidupan kita di dunia, tetapi juga kehidupan kita di akhirat,” tegasnya. (sb)

 

Related posts
Berita

PP Muhammadiyah Himbau Warganya untuk Cerdas Sikapi Hasil Pemilu

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Pengajian Tarjih Edisi 250 Rabu kemarin (14/2) mengusung tema “Akhlak dalam Kehidupan Bernegara: Cerdas Menyikapi Hasil Pemilu”. Narasumber…
Berita

Miftah Khilmi Hidayatullah Sampaikan Posisi Muhammadiyah dalam Akidah

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Mazhab biasanya dikaitkan dengan fikih, sedangkan akidah dikaitkan dengan firaq. Hal itu disampaikan oleh Miftah Khilmi Hidayatullah pada…
Berita

Pengajian Tarjih Muhammadiyah: Hamim Ilyas Sampaikan Beberapa Ketentuan Hukum Perang

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Pengajian Tarjih edisi 226 yang berlangsung pada Rabu (23/8) membahas tafsir surah Al-Baqarah ayat 216-218. Ketua Majelis Tarjih…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *