Maklumat: Sastra Harus Terlibat dalam Sejarah Kemanusiaan

Aksara 7 Jul 2021 1 135x
Maklumat Sastra Profetik Kuntowijoyo

Maklumat Sastra Profetik Kuntowijoyo

Selain sebagai sejarahwan dan budayawan, Kuntowijoyo adalah seorang sastrawan. Melalui sastra, Kunto –begitu ia kerap dipanggil—hendak menggambarkan, memberikan penilaian dan kritik atas realitas dengan cara yang beradab.

Oleh: Sirajuddin Bariqi

Di tengah menjamurnya karya sastra di Indonesia, karya Kunto tak pernah kehilangan daya tarik pembacanya. Bahasanya yang sederhana, kisahnya yang menggugah dan tak terlepas dari realitas, serta nilai yang terkandung dalam setiap bait dan kisahnya barangkali merupakan di antara sebab karyanya tetap eksis sampai sekarang.

Dalam Maklumat Sastra Profetik (2019), Kunto menjelaskan bahwa yang ia inginkan dari sastra adalah sastra sebagai ibadah dan sastra yang murni. Maksudnya, pekerjaan sastra yang lahir darinya merupakan hasil dari penghayatannya atas nilai keagamaan, serta hasil tangkapannya atas realitas yang objektif dan universal (hlm. 1-2).

Lahirlah apa yang kemudian disebut dengan istilah “sastra profetik”, yakni “sastra yang terlibat dalam sejarah kemanusiaan” (hlm. 2). Oleh karena tujuan sastra profetik adalah memberi arah pada realitas, maka untuk mencapainya, diperlukan kaidah-kaidah yang menjadi dasarnya.

Baca Juga: Menggali Kebijaksanaan dari Pribadi Zuhud Pak AR

Kaidah Pertama, Epistemologi Strukturalisme Transendental. Dalam pandangan Moh. Wan Anwar, Kunto merupakan sosok yang rasional sekaligus spiritual (hlm. 145). Pribadinya yang rasional-spiritual ini begitu kentara ketika ia menuliskan gagasannya. Kunto, termasuk melalui sastra profetiknya, hendak melampaui apa yang tidak bisa digapai akal manusia. Pengetahuan tertinggi baginya adalah pengetahuan yang diwahyukan (kitab suci, misalnya), sebab ia bersumber dari Tuhan. Oleh karena kitab suci adalah struktur dan Tuhan mempunyai sifat Maha Transenden, maka oleh Kunto, epistemologinya disebut strukturalisme transendental (hlm. 3).

Kaidah Kedua, Sastra sebagai Ibadah. Secara umum, ibadah berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ibadah bukan hanya terbatas pada shalat, puasa, dan segala yang dimasukkan ke dalam kategori ibadah mahdhah lainnya. Apa yang seolah tidak bernilai ibadah, seperti muamalah, bisa bernilai ibadah jika diniatkan sebagai wujud ketaatan kepada Allah. Dalam bahasa Kunto, “pengarang yang salat dengan rajin, zakat dengan ajeg, haji dengan uang halal, Islamnya tidaklah kaffah kalau pekerjaan sastranya tidak diniatkan sebagai ibadah” (hlm. 4).

Kaidah Ketiga, Keterkaitan Antarkesadaran. Jika Islam menghendaki keterkaitan antara hubungan manusia dengan manusia (hablun minannās) dan hubungan manusia dengan Allah (hablun minallāh), begitupun dengan sastra profetik. Dalam sastra profetik, kesadaran ketuhanan dan kesadaran kemanusiaan harus berimbang, masing-masing tidak boleh lebih dominan (hlm. 7-8). Sikap ini terinspirasi dari etika yang dimiliki oleh Nabi Muhammad saw. Kunto menyebutnya sebagai “etika profetik”.

Etika Profetik

Bagi seorang sufi, perjumpaan dengan Tuhan adalah puncak kenikmatan. Muhammad Iqbal, salah seorang pembaharu dari Pakistan, pernah mengutip sebuah kisah tentang seorang sufi yang merasa heran ketika Nabi Muhammad saw. diberi kesempatan untuk berjumpa dengan Sang Kekasih (mi’raj), lalu memutuskan untuk kembali ke bumi. Jika itu aku, kata si sufi, aku tidak akan kembali ke bumi dan menikmati perjumpaan itu.

Nabi Muhammad saw. tidak terlena dengan perjumpaan tersebut, dan memilih untuk kembali ke bumi, sebab tugas kerasulannya belum selesai. Sang Rasul masih harus bergulat dengan realitas. Bertemu dan membersamai umatnya untuk –dalam bahasa Al-Qur’an—keluar dari kegelapan menuju cahaya (min adz-dzulumāt ila an-nūr). Kunto sering mengutip kisah tersebut dalam karyanya, sebab ia ingin meniru perbuatan Nabi saw. yang mempunyai dan mengaplikasikan kesadaran ketuhanan dan kesadaran kemanusiaan.

Etika profetik Kunto juga terinspirasi dari QS. Ali Imran: 110. Menurutnya, konsep umat  terbaik (khairu ummah) yang dimaksud dalam ayat tersebut tidak bisa diraih dengan serta merta tanpa usaha. Untuk menjadi umat terbaik, umat Islam harus terlibat dalam sejarah manusia (ukhrijat linnās). Keterlibatan itu berupa; menyuruh berbuat baik (ta’murūna bil ma’rūf atau humanisasi); mencegah kemungkaran (tanhauna ‘anil munkar atau liberasi), dan; beriman kepada Allah swt. (tu’minūna billāh atau transendensi).

Baca Juga: Dialektika Seni dan Agama dalam Islam

Setiap karya Kunto selalu memuat nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi. Kunto menegaskan, “karena Etika Profetik bersumber kitab-kitab suci, Sastra Profetik adalah senjata budaya orang beragama untuk melawan musuh-musuhnya, materialisme dan sekularisme tersembunyi” (hlm. 26-27).

Dalam Maklumat ini, kesan transendensi digambarkan lewat cerpen Sepotong Kayu untuk Tuhan. Dikisahkan ada seorang laki-laki tua yang tergerak hatinya untuk menyumbangkan kayu dari pohon yang ada di kebunnya guna pembangunan mushalla. Singkat cerita, kayu telah siap dan rencana sudah diatur. Laki-laki tua dan penebang pohon meletakkan kayu di pinggir sungai. Mereka berencana menghanyutkan kayu tersebut sampai ke mushalla. Tanpa seorang pun yang tahu. Sayangnya, malam hari sebelum kayu akan dihanyutkan, banjir datang dan membawa pergi kayu tersebut. Laki-laki tua gagal menyumbang. Tapi ia tidak bersedih, tidak juga menyesal. Niatnya baik, hanya barangkali Tuhan belum merestui. Nilai transendensinya adalah keikhlasannya, bukan pada sampai atau tidaknya kayu, apalagi penilaian orang atas tindakannya.

Sebuah Maklumat

Di antara sebab kenapa maklumat ini ditulis adalah karena menurut Kunto, sastra saat ini dinilai tidak memberi sumbangan nilai bagi pembaca, terlebih dianggap tidak menyentuh realitas. Maklumat ini juga tidak sedang berusaha “menyembelih sastra sebagai simbol” (hlm. 27) seperti yang dikhawatirkan beberapa pihak. Konsep-konsep yang disajikan adalah suatu upaya untuk ‘menaikkan’ derajat sastra, sehingga sastra yang seringkali dianggap tidak memberi nilai kemanfaatan bagi masyarakat pembacanya, bisa lebih diterima dan mendapat posisi yang setara dengan ilmu lain karena mengandung nilai yang adiluhung (hlm. 28).

Jelas ini adalah subjektivitas Kunto, yang boleh saja dibantah. Tetapi bahwa saat ini tengah terjadi krisis peradaban yang sifatnya global dan universal, di mana banyak manusia kehilangan makna hidupnya, mendapat pembenaran dari banyak cendekiawan. Dalam konteks tersebut, sastra harus terlibat. Menjadi senjata untuk melawan proses dehumanisasi, merebaknya alienasi manusia dengan manusia lain, terlebih manusia dengan Tuhannya.

Baca Juga: Mengenal Sastra ‘Aisyiyah

Di sinilah pentingnya meletakkan konsep-konsep etika profetik dalam sebuah karya sastra. Sastra, bagi Kunto adalah “strukturalisasi dari pengalaman, imajinasi, dan nilai” (hlm. 31). Selain berisikan semangat humanisasi, liberasi, dan transendensi, kerja sastra Kunto lahir dari proses strukturalisasi pengalaman hidupnya dan/atau orang lain, imajinasinya, dan penghayatan akan nilai agama, ilmu pengetahuan, adat istiadat, dan sebagainya.

Akhirnya, mengutip ungkapan Paul Goodman, Kunto menyatakan, “inilah cara bagi saya untuk mengabdi kepada Tuhan dan tanah air” (hlm. 33). Sebuah perpaduan antara kesadaran ketuhanan dan kemanusiaan. Jika akhlaq Nabi Muhammad saw. digambarkan ‘Aisyah ra. sebagai Al-Qur’an karena saking mulianya (kāna khuluquhul qur’ān), maka –dengan tidak bermaksud mensejajarkan Kunto dengan Nabi saw.—pribadi Kunto adalah perwujudan dari konsep-konsep dalam sastra profetiknya.

One thought on “Maklumat: Sastra Harus Terlibat dalam Sejarah Kemanusiaan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *