Maklumat: Sastra Harus Terlibat dalam Sejarah Kemanusiaan

Aksara 13 Aug 2020 0 105x

Kuntowijoyo

Selain sebagai sejarawan dan budayawan, Kuntowijoyo adalah seorang sastrawan. Melalui sastra, Kunto demikian ia kerap dipanggil hendak menggambarkan, memberikan penilaian, dan kritik atas realitas dengan cara yang beradab

Di tengah menjamurnya karya sastra di Indonesia, karya Kunto tak pernah kehilangan daya tarik pembacanya. Bahasanya yang sederhana; kisahnya yang menggugah dan tak terlepas dari realitas, serta nilai yang terkandung dalam setiap bait barangkali merupakan sebab karyanya tetap eksis sampai sekarang.

Dalam Maklumat Sastra Profetik (2019), Kunto menjelaskan bahwa yang ia inginkan dari sastra adalah sastra sebagai ibadah dan sastra yang murni. Maksudnya, pekerjaan sastra yang lahir darinya merupakan hasil dari penghayatannya atas nilai keagamaan, serta hasil tangkapannya atas realitas yang objektif dan universal (hlm. 1-2).

Dari sini lahirlah istilah “sastra profetik”, yakni “sastra yang terlibat dalam sejarah kemanusiaan” (hlm. 2). Oleh karena tujuan sastra profetik adalah memberi arah pada realitas, maka untuk mencapainya diperlukan kaidah-kaidah yang menjadi dasarnya.

Kaidah Pertama, Epistemologi Strukturalisme Transendental. Dalam pandangan Moh. Wan Anwar, Kunto merupakan sosok yang rasional sekaligus spiritual (hlm. 145). Pribadinya yang rasional-spiritual ini begitu kentara ketika ia menuliskan gagasannya. Kunto, termasuk melalui sastra profetiknya, hendak melampaui apa yang tidak bisa digapai akal manusia. Pengetahuan tertinggi baginya adalah pengetahuan yang diwahyukan (kitab suci, misalnya), sebab ia bersumber dari Tuhan. Oleh karena kitab suci adalah struktur dan Tuhan yang mempu-nyai sifat Maha Transenden, maka oleh Kunto, epistemologinya disebut strukturalisme transendental (hlm. 3).

Kaidah Kedua, Sastra sebagai Ibadah. Secara umum, ibadah berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ibadah bukan hanya terbatas pada shalat, puasa, dan segala yang dimasukkan ke dalam kategori ibadah mahdhah lainnya. Apa yang seolah tidak bernilai ibadah, seperti muamalah, bisa bernilai ibadah jika diniatkan sebagai wujud ketaatan kepada Allah. Dalam bahasa Kunto, “pengarang yang salat dengan rajin, zakat dengan ajeg, haji dengan uang halal, Islamnya tidaklah kaffah kalau pekerjaan sastranya tidak diniatkan sebagai ibadah” (hlm. 4).

Kaidah Ketiga, Keterkaitan Antarkesadaran. Jika Islam menghendaki keterkaitan antara hubungan manusia dengan manusia (hablun minannās) dan hubungan manusia dengan Allah (hablun minallāh), demikian pula dengan sastra profetik. Dalam sastra profetik, kesadaran ketuhanan dan kesadaran kemanusiaan harus berimbang, masing-masing tidak boleh lebih dominan (hlm. 7-8). Sikap ini terinspirasi dari etika yang dimiliki oleh Nabi Muhammad saw. Kunto menyebutnya sebagai “etika profetik”.

Etika Profetik

Bagi seorang sufi, perjumpaan de-ngan Tuhan adalah puncak kenikmatan. Muhammad Iqbal, salah seorang pembaharu dari Pakistan, pernah me-ngutip sebuah kisah tentang seorang sufi yang merasa heran ketika Nabi Muhammad saw. diberi kesempatan untuk berjumpa dengan Sang Kekasih (mi’raj), lalu memutuskan untuk kembali ke bumi. Jika itu aku, kata si sufi, aku tidak akan kembali ke bumi dan menikmati perjumpaan itu.

Nabi Muhammad saw. tidak terlena dengan perjumpaan tersebut, dan memilih untuk kembali ke bumi sebab tugas kerasulannya belum selesai. 

Sang Rasul masih harus bergulat dengan realitas. Bertemu dan membersamai umatnya untuk –dalam bahasa al-Qur’an—keluar dari kegelapan menuju cahaya (min adz-dzulumāt ila an-nūr). Kunto sering mengutip kisah tersebut dalam karyanya, sebab ia ingin meniru perbuatan Nabi saw. yang mempunyai dan mengaplikasikan kesadaran ketuhanan dan kesadaran kemanusiaan.

Etika profetik Kunto juga terinspirasi dari Q. S. Ali Imran: 110. Menurutnya, konsep umat  terbaik (khairu ummah) yang dimaksud dalam ayat tersebut tidak dapat  diraih dengan serta merta tanpa usaha. Untuk menjadi umat terbaik, umat Islam harus terlibat dalam sejarah manusia (ukhrijat linnās). Keterlibatan itu berupa; menyuruh berbuat baik (ta’murūna bil ma’rūf atau humanisasi); mencegah kemungkaran (tanhauna ‘anil munkar atau liberasi), dan; beriman kepada Allah swt. (tu’minūna billāh atau transendensi). (Sirajuddin)

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 3, Maret 2020

Sumber gambar : ibtimes.id

 

Leave a Reply