Manfaat Shalat dari Segi Kesehatan Fisik dan Mental (1)

Info Sehat 8 Aug 2020 0 103x

Sumber ilustrasi : artikula.id 

Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah R.A,

“Rasulullah SAW melihatku sedangkan aku tidur melingkar karena sakit perut, lalu beliau berkata, asykam darda? Aku menjawab, betul wahai Rasulullah SAW. Beliau berkata, bangunlah lalu shalat karena shalat adalah obat.”

Shalat adalah salah satu syariat dalam keseharian yang wajib dilakukan oleh seorang muslim. Shalat memiliki faedah yang luar biasa bagi kesehatan mental dan fisik seorang hamba. Maka sudah seharusnya, seorang Muslim menjalankan setidaknya shalat wajib lima waktu agar kesehatan mental dan fisiknya tetap dalam kondisi prima laiknya sebuah mesin dan tidak mengalami kerapuhan. Muslim seharusnya menyadari penghambaannya karena shalat akan menjadi pusat dari seluruh perhatian manusia.

Perlu kita pahami bahwa shalat semacam resep kesehatan karena seluruh gerakannya sudah mewakili postur tubuh manusia. Terlebih, shalat dilakukan secara rutin. Jika mau diungkap lebih jauh, maka banyak rahasia yang terkandung dalam gerakan shalat. Dalam hadist sendiri, kita diberi petunjuk dengan sangat detail bagaimana posisi-posisi dalam shalat. Mulai dari gerakan berdiri hingga sujud. Jika dikaji secara ilmiah, saya yakin gerakan shalat bukan gerakan sembarang.

Gerakan shalat memiliki pengaruh yang luar biasa. Itu baru dilihat dari sisi gerakan. Belum lagi dari sisi kontemplasi karena gerakan shalat berhubungan dengan bacaan dan makna yang terkandung di dalamnya. Terlebih, apabila seorang Muslim mengaplikasikan makna yang terkandung dalam ibadah shalat dalam kesehariannya. Perlu kita sadari bahwa ketika manusia sudah mampu menyatukan gerak dan menyatukan pikiran –dalam bahasa elektromagnetik— aura dan energi yang dihasilkan terhitung luar biasa.

Gerakan shalat tidaklah sama dengan gerakan akrobat, beladiri, atau senam. Anatomi fisiologi tubuh seseorang bisa terrepresentasi dalam gerakan shalat, misalnya saja saat berdiri. Jalur perjalanan meridian limpa/pankreas (tunggai bagian dalam) mengalami stimulasi secara berimbang kanan-kiri. Penyelarasan posisi berdiri kita pada saat-saat biasa di luar shalat, bisa mencegah pergeseran tumpuan berat badan dan resiko keseleo. Dilihat dari ilmu Ortopedi, saat berdiri tekanan pada tulang akan mempengaruhi jalur kompaksitas di dalam tulang, Hukum Wolf (Wolf Law). Saat takbiratul ikhram, rongga dada melebar, tekanan udara di dalam rongga mengecil dan memudahkan udara nafas masuk dengan cepat. Sekat rongga badan (diafragma) terlatih bersamaan mengucap Allahu akbar. Saat itu ketiak dibuka, merupakan gerakan “active pumping” yang sangat bermanfaat.

Khusus saat ruku’ dan sujud, stimulasi menjadi paling optimal, telapak tangan menumpu (opponens pollicis); ketiak membuka (lattissimus dorsi); badan tersangga oleh lengan (trapezius) dan bangkit siku melurus (triceps brachii). Bagaimana gerakan ruku’ yang benar? Wabisyah bin Ma‘bad berkata : Aku pernah menyaksikan Rasulullah mengerjakan shalat, dimana ketika ruku‘, beliau meluruskan punggungnya sehingga apabila dituangkan air di atasnya, air akan tetap di tempat (HR Ibnu Majah).

 Jadi posisi rukuk yang benar adalah  horizontal. Berat badan bergeser ke depan dan tubuh seakan-akan mau terperosok ke depan, kompresi antar ruas-ruas tulang belakang dapat dikurangi. Kedua lengan menyangga, tangan memegang di lutut. Mendorong lagi ke depan ruas-ruas tulang belakang, inilah gerakan anti-kompresi alias peregangan. Hal ini harus dilakukan secara tuma’ninah (harus ada periode tenang) dalam tiap gerakan shalat. 

Dalam gerakan sujud, posisi ini normal. Namun kepala (dalam hal ini otak) berada di bawah jantung. Pembuluh darah sendiri dipompa oleh jantung. Ketika posisi sujud, di mana otak berada di bawah jantung, maka pemompaan yang sedikit akan menimbulkan tekanan yang besar karena posisinya berada di bawah. Tekanan yang tinggi inilah yang memberi pelatihan pada elastisitas yang tinggi pada pembuluh tersebut. Manusia sendiri membutuhkan elastisitas tersebut supaya pembuluh darah tidak mudah pecah. Secara tidak langsung, gerakan sujud juga berpengaruh pada kecerdasan otak.

Vitamin-vitamin untuk otak sejatinya bekerja dalam urusan kelancaran peredaran darah. Misalnya saja …

Bersambung ke Manfaat Shalat dari Segi Kesehatan Fisik dan Mental (2)

 

Leave a Reply