Manfaat Shalat dari Segi Kesehatan Fisik dan Mental (2)

Info Sehat 8 Aug 2020 0 108x

Lanjutan dari Manfaat Shalat dari Segi Kesehatan Fisik dan Mental (1)

Vitamin-vitamin untuk otak sejatinya bekerja dalam urusan kelancaran peredaran darah. Misalnya saja obat-obat anti stroke atau obat hipertensi. Kesemuanya berhubungan dengan elastisitas. Jika seorang muslim terbiasa shalat, maka elastisitas tersebut merupakan sebuah rutinitas dan upaya melatih diri. Bukan tidak mungkin diadakan suatu penelitian lebih lanjut mengenai dampak shalat terutama pada orang-orang yang terbiasa melakukan gerakan sujud dan yang tidak. Kita bisa membandingkan, golongan mana yang lebih banyak terkena stroke atau bagaimana kondisi IQ di antara keduanya. 

Pada saat sujud, dimana posisi merapatkan kedua telapak kaki dan menegakkannya, terjadi gesekan yang memberi stimulasi pada awal perjalanan meridian limpa/páncreas (Tay Pai). Bentuk ketundukan tertinggi seorang hamba di hadapan Tuhannya. Dari sudut pandang medis, sangat unik karena merupakan satu-satunya posisi dimana otak bisa lebih rendah dari jantung, yang mudah dikerjakan tanpa harus menjungkir-balikkan tubuh. 

Mengapa sujud tidak berfungsi optimal? Yang banyak terjadi biasanya karena tidak menegakkan paha dan mengangkat pantat, dikarenakan terpengaruh oleh pendeknya sajadah (alas shalat). Berat tubuh bagian depan jangan ditopang penuh oleh tangan, akan tetapi kening menyangga lebih besar,  kening terletak satu garis sumbu tubuh. Pengaruh sujud terhadap peredaran darah di otak, debit darah naik karena posisi jantung lebih tinggi dari otak sehingga  menambah elastisitas pembuluh darah, pada gilirannya gerakan sujud bisa merupakan gerakan anti-stroke. Pengaruh posisi ruku’ dan sujud ini terhadap organ-organ dalam bisa memperkuat ikatan penggantung organ ke dinding rongga tempat organ itu berada. 

Shalat sendiri merupakan ibadah yaumiag yang periodiknya hari ke hari dan dilakukan secara berulang-ulang. Tentu saja kerutinan ini akan mengatur kehidupan seorang muslim. Dalam bahasa medis, ada istilah biological clock atau jam biologis yang mempengaruhi bioritme dan mempengaruhi sel-sel yang ada dalam tubuh. Jam biologis juga berurusan dengan daya tahan tubuh, bagaimana memfungsikan tubuh secara maksimal. Kesemuanya merupakan bagian dari irama tubuh yang membutuhkan keteraturan. Ambil contoh, ketika kita terpaksa harus begadang karena perlu mengurusi anggota keluarga yang sakit atau dalam perjalanan jauh, maka bisa jadi terganggulah irama tubuh kita. Hal ini bisa berefek menimbulkan kelelahan atau mengurangi tingkat konsentrasi. Shalat bisa menjadi solusi bagi itu semua. 

Dalam ilmu kedokteran timur, kita mengenal siklus horarius yang menyebut bahwa ada duabelas organ dalam tubuh. Antara lain paru-paru, lambung, limpa, pankreas, jantung, usus kecil, kandung kemih, ginjal feri kardium, empedu, dan hati. Dalam ilmu kedokteran, keduabelas organ ini memiliki jam jaga optimal selama dua jam. Jam kerja kedua belas organ ini benar-benar teratur. Masing-masing memilik jam jaga selama dua jam untuk kemudian bergantian dengan organ tubuh yang lain. Jika seseorang menjalankan shalat secara teratur maka sudah dipastikan fungsi organ-organnya pun teratur ketimbang orang-orang yang tidak teratur menjalankan shalat. Maka tidak salah apabila ada nasihat berbunyi, “Kalau hidupmu kacau, produktivitasmu kacau, penghasilan kacau, coba tengok shalatmu. Beres ndak?”

 Shalat adalah ritual terpenting antara hamba kepada Tuhannya, maka jagalah shalat dengan kesempurnaan gerakan-gerakannya secara benar, dan lihatlah efeknya, insya Allah kondisi tubuh akan  sehat dan kuat . Dan bila seorang hamba diuji dengan sakit, maka sakit itu merupakan sapaan kasih sayang Sang Pencipta agar kita ikhtiar dan tawakkal, dan perlu juga introspeksi terhadap pelaksanaan shalatnya, sudahkan sesuai dengan gerakan yang diajarkan oleh Rasulullah saw apa belum. Tugas ilmuwan dan praktisi adalah meneliti yang hasilnya Allah akan menampakkan ke-Maha Kuasa-anNya dalam gerakan hati dan fisik baik terhadap kesehatan maupun terhadap pencapaian-pencapaian kesuksesan seorang hamba. (d)

*Berdasarkan wawancara dengan Dr.dr.H.Sagiran,S.PB.M.Kes. (dosen Kedokteran Umum UMY dan dokter di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta)

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 5 Mei 2016, Rubrik Kalam

Leave a Reply