Melihat Peristiwa Hijrah Lebih Dekat

Sejarah Wawasan 11 Agu 2021 0 70x
Hijrah Nabi Muhammad

Hijrah Nabi Muhammad

Momen hijrah Nabi Muhammad dan umat Islam dari Makkah ke Madinah ditetapkan sebagai awal mula penanggalan Islam (Hijriyah). Penetapan itu terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab. Hal itu didasarkan atas usulan Ali bin Abi Thalib.

Rencana Pembunuhan

Ketika mendengar rencana hijrah Nabi Muhammad ke Madinah, kaum kafir Quraisy segera menggelar rapat darurat di Darun Nadwah. Rapat tersebut dihadiri oleh pembesar-pembesar kabilah Quraisy, seperti Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Abu Sufyan bin Harb, Munabbih bin al-Hajjaj, dan Umayyah bin Khalaf. Sebuah riwayat bahkan menyebutkan bahwa Iblis turut hadir dalam rapat tersebut dengan menyamar sebagai orang tua dari daerah Najd.

Dalam rapat tersebut, Iblis memainkan perannya sebagai penghasut ulung. Ia terus menggiring opini peserta rapat agar memutuskan tindakan yang benar-benar dapat menghentikan laju dakwah Islam di muka bumi.

Singkat kata, setelah beberapa ide tertolak, Abu Jahal melontarkan ide gila. Ia mengusulkan agar setiap kabilah mengutus seorang pemuda yang gagah untuk membunuh Nabi. Pelibatan para pemuda dari tiap kabilah itu merupakan upaya untuk menghindari terjadinya perang saudara, mengingat Bani Abdi Manaf tidak akan mampu menghadapi semua kabilah yang bersatu.

Terhadap usulan itu, Iblis dengan lantang menyatakan dukungannya. Ia mengatakan, “pendapat yang tepat adalah pendapat orang ini. Inilah pendapat yang saya kira tidak ada lagi yang lebih tepat darinya”. Alhasil, ide tersebut disepakati oleh seluruh peserta rapat. Rencana pembunuhan Nabi pun dimulai.

Mulai Bergerak

Keputusan rapat di Darun Nadwah itu terdengar oleh Nabi Muhammad. Adalah Jibril as. yang memberitahu rencana pembunuhan tersebut, sekaligus membawa pesan diizinkannya Nabi hijrah ke Yatsrib. “Malam ini, kamu (Muhammad) jangan tidur di tempat tidur yang biasanya,” kata Jibril.

Menyikapi situasi tersebut, Nabi bergegas mengunjungi Abu Bakar ash-Shidiq di kediamannya. Kepada Abu Bakar, Nabi Muhammad menyampaikan bahwa ia telah diizinkan untuk berhijrah. Beliau juga meminta sahabatnya itu untuk menemani perjalanannya ke Yatsrib.

Situasi Makkah semakin mencekam seiring hari yang mulai larut. Total ada sebelas orang yang diutus untuk menindaklanjuti rencana pembunuhan Nabi. Sebelas orang itu adalah Abu Jahal, Al-Hakam bin Abil Ash, Uqbah bin Abi Mu’ith, An-Nadhar bin al-Harits, Zam’ah bin al-Aswad, Umayyah bin Khalaf, Thaimah bin Adi, Abu Lahab, Ubay bin Khalaf, Nabih bin al-Hajjaj, dan Munabbih bin al-Hajjaj.

Baca Juga: Hijrah dan Visi Masyarakat yang Berkeadaban

Allah swt. menggambarkan situasi pada waktu itu dalam QS. al-Anfal [8]: 30 (yang artinya), “dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah mengagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya”.

Ya, sebagaimana termaktub dalam ayat tersebut, Allah menggagalkan tipu daya kaum kafir Quraisy. Malam itu, Nabi Muhammad meminta Ali bin Abi Thalib untuk tidur di ranjangnya dan menggunakan burdah berwarna hijau miliknya sebagai selimut, seperti halnya beliau biasa menggunakannya.

Dengan mengagumkan, Nabi berhasil melewati sebelas orang yang mengepung rumahnya. Dikisahkan bahwa pada waktu itu Nabi menaburkan tanah di atas kepala mereka. Pada waktu yang bersamaan, sebagaimana disebutkan dalam QS. Yasin [36]: 9, Allah menutup pandangan mereka sehingga tak mampu melihat sekitar.

Setelah itu, Nabi segera menyusul Abu Bakar ash-Shidiq untuk selanjutnya bergerak ke Yatsrib. Untuk menghindari kejaran para kafir Quraisy, keduanya memilih rute melingkar. Pilihan itu membuat jarak dan waktu tempuh semakin panjang.

Sampai di Gua Tsur

Dalam kondisi capai, keduanya akhirnya sampai di Gua Tsur. Abu Bakar sempat mengecek kondisi gua sebelum Nabi Muhammad masuk. Setelah memastikan kondisi aman, keduanya masuk untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Keduanya tinggal di sana selama tiga malam. Adalah Amir bin Fuhayra, Abdullah bin Abu Bakar, dan Asma binti Abu Bakar yang menyediakan makanan bagi keduanya selama hari-hari tersebut.

Baca Juga: Asma binti Abu Bakar: Perempuan Salehah di Balik Keberhasilan Hijrah Nabi Muhammad

Suatu ketika, keduanya hampir tertangkap kaum kafir Quraisy. Mereka sudah sampai di mulut gua. Abu Bakar menceriterakan, “aku berada di sisi Nabi saw. di gua, lalu saat aku menengadahkan kepalaku, aku dapati kaki-kaki mereka tepat di atas(ku). Lantas aku berkata, “wahai Rasulullah! Andaikata salah seorang dari mereka menoleh ke bawah, pasti ia dapat melihat kita”.

Mengetahui perasaan takut Abu Bakar, Nabi saw. segera menenangkan. Beliau mengatakan, “wahai Abu bakar! Kita (memang) berdua, tapi Allah-lah pihak ketiganya”.

Sekali lagi, Allah melindungi Nabi-Nya. Dia kembali membuat keberadaan Nabi Muhammad dan Abu Bakar tak terdeteksi oleh kaum kafir Quraisy. Dan dengan demikian, perjalanan keduanya ke Yatsrib dilanjutkan.

Menuju Madinah

Setelah hari ketiga, seorang kafir Quraisy datang ke Gua Tsur. Namanya Abdullah bin Uraiqith. Ia merupakan orang sewaan Abu Bakar yang bertugas membawa dua unta miliknya sekaligus menjadi penunjuk jalan. Dituntun Abdullah bin Uraiqith dan Amir bin Fuhayra, perjalanan keduanya ke Yatsrib dimulai.

Bertepatan dengan 23 September 622 M, mereka akhirnya sampai dan singgah di Quba. Di sana mereka menempati rumah milik Kultsum bin al-Hidm. Mereka singgah di Quba selama empat hari. Di sana Rasulullah mendirikan Masjid Quba, masjid pertama dalam sejarah kenabian Muhammad saw.

Baca Juga: Islam dan Nasionalisme

Di hari kelima, tepatnya pada hari Jumat, atas izin Allah mereka melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan itu, mereka sempat dikawal Bani an-Najjar, yang merupakan keluarga Nabi Muhammad dari jalur Abdul Muthallib.

Di hari yang sama, Nabi Muhammad tiba di Yatsrib melalui sela-sela bukit Wada’. Kedatangan beliau disambut meriah oleh para penduduk Yatsrib yang sudah merindukan kehadiran sosok Nabi; sang pemersatu umat dan pembawa rahmat.

Mereka melantunkan syair kegembiraan,

طلع البدر علينا *** من ثنيات الوداع

وجب الشكر علينا *** ما دعا لله داع

أيها المبعوث فينا *** جئت بالأمر المطاع

Bulan purnama muncul di hadapan kita

Dari jalan di sela-sela bukit Wada’

Kita wajib bersyukur karenanya

Apa yang dia serukan sebagai seorang dari adalah untuk Allah

Wahai orang yang diutus kepada kami

Engkau telah membantu perkara yang ditaati

***

Setibanya di Yatsrib, Nabi Muhammad mulai membangun masjid, menyatukan kelompok masyarakat yang beragam suku dan agama, serta membangun peradaban Islam yang gemilang. Ya, peristiwa hijrah menjadi titik mula agama Islam menyebar ke berbagai penjuru dunia. Peristiwa itulah yang oleh Amirul Mukminin Umar bin Khaththab –atas usulan Ali bin Abi Thalib—dijadikan sebagai awal mula penanggalan Islam (HIjriyah). (brq)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *