Memahami Dialektika Keimanan dalam Visi Tauhid

Wawasan 27 Mei 2021 2 181x
Tauhid

Tauhid

Oleh: Andy Dermawan

Bukan persoalan mudah memahami keyakinan sebagai kebenaran imani. Dibutuhkan metode tafsir tersendiri agar tidak bias dalam menyibak kebenaran keyakinan. Ikhtiar itu dilakukan dalam rangka mencari tahu apa yang dimaui Tuhan, agar nantinya semua tindakan yang manusia lakukan tidaklah sia-sia. Terlebih ketika masuk ke wilayah syiar (dakwah), penyebaran misi, atau propaganda agama sebagai sebagai sebuah kebenaran, tentu menjadi urusan tersendiri.

Setidaknya ada tiga hal yang menjadi muara masalah. Pertama, agama sebagai sumber nilai karena agama menjadi blue print manusia dalam bersosial-budaya dan mencari makna kehidupannya. Kedua, agama sebagai kabar gembira karena agama merupakan rajutan nilai-nilai ilahiah penting untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia, maka ia membutuhkan metode dan strategi dalam penyebarannya. Ketiga, agama sebagai cara mengenal Tuhan, maka manusia melalui agama berikhtiar untuk mencari, menemukan, dan mengenal Tuhan dengan baik.

Baca Juga

Memerdekakan Jiwa dengan Tauhid

Masalah muncul ketika rajutan nilai-nilai dan “kabar gembira” itu disampaikan kepada masyarakat untuk dianut dan diikuti. Tulisan ini berikhtiar memahami dan menemukan “simpul hidup” masalah tersebut, khususnya berkaitan dengan Yesus dan Isa, serta bagaimana sumber-sumber Islam meresponsnya. Tulisan ini merupakan proses pembelajaran untuk memahami masalah tersebut. Tulisan ini menggunakan pendekatan dari sisi teks Islam yang mengisahkannya, bukan dari sisi teologis.

Dialektika: Yesus, Isa, dan Visi Tauhid

Menilik kesejarahan, Yesus hadir melalui Maria dari silsilah Daud, dan Isa lahir dari Maryam, dua hal berbeda. Al-Quran surah al-Ma`idah ayat 116 menyatakan,

Artinya, “dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib”.

Ayat di atas menunjukkan penghormatan dan pengagungan Isa kepada Allah swt. sebagai Tuhan yang Esa pencipta alam semesta dan sekaligus menunjukkan diri Isa sebagai makhluk yang dhaif, tak berdaya kecuali hanya kekuatan Allah swt. semata. Ayat di atas juga menunjukkan bahwa Isa as. adalah seorang nabi atau utusan-Nya. Dan setiap utusan Allah swt. senantiasa menyeru tentang ketauhidan. Al-Quran surah al-Anbiya` ayat 25 menyatakan,

Artinya, “dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

Merupakan sebuah penyimpangan nyata ketika ada manusia menyembah Tuhan selain Allah swt. Ayat di atas menegaskan dengan jelas bahwa ada konsistensi narasi dan berpikir dari hulu ke hilir. Artinya, ayat tersebut menegaskan sejak zaman Adam as. hingga Muhammad saw., pada hakikatnya penyeruan itu hanya satu: tiada Tuhan selain Allah. Itulah visi Tauhid. Para nabi lahir dari visi yang sama, yakni visi Tauhid. Perbedaannya terletak pada cara dakwahnya, yang secara sosiologis ditentukan oleh bagaimana situasi dan kondisi masyarakatnya. Itulah mengapa Allah membekali masing-masing nabi dengan mukjizat yang berbeda-beda.

Kontekstualisasinya dengan visi Tauhid, penting menilik kembali al-Quran surah al-Maidah ayat 73,

Artinya, “sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah swt. murka karena disekutukan dengan yang lain. Allah swt. pencipta langit dan bumi, tak layak satu pun di alam semesta ini menyerupai-Nya. Kemurkaan itu beralasan, karena tidak mungkin Zat Pencipta sama dengan zat yang diciptakan. Kualitas Pencipta lebih mulia dan tinggi dari kualitas yang diciptakan. Kemurkaan itu dapat ditemui dalam al-Quran surah Maryam ayat 88-93.

Artinya, “dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.”

Baca Juga

Haedar Nashir: Umat Islam Harus Menjadi Aktor Pembangun Peradaban

Secara logika saintifik, satu itu tidak mungkin dua, atau tiga, atau empat, dan seterusnya. Satu itu Satu, begitu juga sebaliknya. Visi tauhid adalah visi ke-Esa-an Allah swt. yang memastikan bahwa tiada Tuhan selain Allah swt. yang berhak disembah. Jika visi ke-Esa-an itu dapat dimaknai lebih dari itu, maka kualitas ke-Esa-an Tuhan itu gugur dengan sendirinya. Bahkan itu sebuah kemungkaran nyata.

Persoalan Yesus, Isa, dan Islam adalah persoalan iman. Cara mengukurnya juga dengan iman. Logika tidak mampu menembus alam itu. Jika seseorang beriman, tentu kualitas iman seseorang itu sejalan dengan al-Quran. Begitu juga sebaliknya, iman adalah kata kerja, yang mestinya membuat seseorang berpikir keras dan cerdas dalam menemukan hakikat jati dirinya yang benar. Iman yang benar dan cerdas adalah iman yang memastikan dan meyakini bahwa Allah swt. itu Tunggal, Esa, dan tidak beranak serta tak diperanakkan.

Logika bahwa Satu itu bisa dua, atau tiga, atau empat, dan seterusnya adalah logika yang tak berdasarkan logika itu sendiri. Penyembahan merupakan kunci semua aksi, apa yang disembah menentukan apa yang dilakukan. Jika seseorang menyembah kambing akan mengembik, dan jika menyembah singa akan mengaum.

2 thoughts on “Memahami Dialektika Keimanan dalam Visi Tauhid”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *