Sosial Budaya

Memahami Etika Komunikasi dalam Islam

etika komunikasi dalam Islam
etika komunikasi dalam Islam

komunikasi (foto: pixabay)

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa terlepas dari komunikasi. Komunikasi merupakan proses di mana seorang komunikator menyampaikan stimulus berupa pesan kepada komunikan dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang lain. Adapun komunikasi Islam merupakan proses penyampaian pesan-pesan keislaman dengan menggunakan prinsip ajaran Islam.

Dikutip dalam buku karangan Ahmad Ghulusy yang berjudul Ad-Da’watul Islamiyah, komunikasi Islam menekankan pada unsur pesan (message), yakni risalah atau nilai-nilai Islam, dan cara (how), dalam hal ini tentang gaya bicara dan penggunaan bahasa (retorika). Pesan-pesan keislaman yang disampaikan dalam komunikasi Islam meliputi seluruh ajaran Islam, yakni akidah (iman), syariah (Islam), dan akhlak (ihsan). Pesan-pesan keislaman yang disampaikan tersebut disebut sebagai dakwah. Dakwah adalah pekerjaan atau ucapan untuk memengaruhi manusia mengikuti Islam.

Di dalam Islam, pandangan mengenai etika komunikasi sudah diatur dengan sangat jelas. Ketika melakukan komunikasi dengan seseorang, maka sebagai komunikator harus memastikan pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik. Di dalam al-Quran disebutkan bahwa komunikasi merupakan salah satu fitrah manusia. Dengan komunikasi manusia bisa bebas mengekspresikan dirinya, membangun relasi sebanyak mungkin, serta mampu mengembangkan kepribadiannya dengan sebaik mungkin.

Akan tetapi, konsep komunikasi dalam ajaran Islam selalu terikat dengan tuntunan ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi yang pada dasarnya manusia selalu menaati perintah dan larangan ajaran agama Islam itu sendiri.

Untuk menggunakan komunikasi yang baik, seseorang hendaknya selalu memperhatikan dan berhati-hati serta memikirkan terlebih dahulu terhadap apa yang mereka ucapkan. Karena yang keluar dari mulut seseorang –karena kecerobohannya– seringkali menimbulkan bencana dan malapetaka pada orang lain. Juga hendaknya selalu menggunakan bahasa dan tutur yang selalu diajarkan oleh Rasulullan dan sesuai tuntunan al-Quran.

Bentuk Etika Komunikasi Islam

Jalaludin Rakhmat dalam Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendikiawan Muslim menyebutkan terdapat enam etika komunikasi dalam Islam. Pertama, qawlan sadidan (perkataan yang benar, lurus, jujur). Dalam al-Quran, kata qawlan sadidan disebutkan sebanyak dua kali. Pertama, Allah menyuruh dalam persoalan mengurus anak yatim dan keturunan. Kedua, Allah memerintahkan qawlan sadidan sesudah takwa. Rasulullah selalu mencontohkan dalam kehidupan sehari-hari dalam bertutur kata yang benar dan lurus.

Kedua, qawlan baligha (efektif, tepat sasaran). Dalam Bahasa Arab, kata “baligh” memiliki arti sampai, tepat sasaran, atau mencapai tujuan. Jika diartikan dalam konteks komunikasi, “baligh” memiliki arti fasih, jelas maknanya, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Dengan demikian, qawlan baligh memiliki arti prinsip komunikasi yang paling efektif.

Baca Juga: Komunikasi yang Tidak Boleh Dilakukan kepada Anak

Ketiga, qawlan karimah (perkataan yang mulia). Qawlan karimah merupakan perkataan yang mulia yang dibarengi dengan rasa hormat, enak didengar, lemah lebut, dan bertata krama. Islam mengajarkan untuk selalu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa dan tutur kata yang mulia kepada siapapun. Sebab komunikasi yang baik tidak dinilai dari tinggi rendahnya jabatan seseorang, melainkan bagaimana mereka mampu bertutur kata yanh sopan kepada orang lain.

Keempat, qawlan ma’rufan (perkataan yang baik, pantas). Qawlan ma’rufan memiliki makna pembicaraan yang bermanfaat yang menimbulkan kebaikan. Sebagai seorang muslim yang beriman, hendaknya kita selalu menjaga perkataan yang sia-sia. Apapun yang keluar dari mulut kita haruslah mengandung perkataan nasihat, perkataan yang baik-baik yang dapat menyejukan hati pendengarnya. Hendaknya kita selalu menghindari perbuatan mencari kesalahan orang lain, mengkritik serta menjelekkan mereka. Karena hal demikian tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim.

Kelima, qawlan layyina (perkataan lemah lembut). Qawlan layyina memilki arti perkataan yang lemah lembut, dengan suara yang enak didengar, penuh keramahan, sehingga menyejukan hati lawan bicaranya. Orang yang beriman semestinya ketika berbicara tidak mengeraskan suaranya, tidak membentak, dan tidak meninggikan suaranya. Tidak ada satu orang pun yang senang berbicara dengan orang yang kasar. Rasulullah selalu bertutur kata dengan lembut, sehingga ketika beliau berbicara selalu menyejukkan hati pendengarnya.

Keenam, qawlan maisura (mudah diterima). Qawlan maisura merupakan salah satu tuntunan untuk melakukan komunikasi dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan melegakan perasaan. Dalam komunikasi, baik secara lisan ataupun tulisan hendaknya selalu menggunakan bahasa yang ringkas dan mudah dimengerti.

Oleh: Ahmad Firman (mahasiswa magang Suara ‘Aisyiyah)

Related posts
Sosial BudayaWawasan

Ketika Kita “Ra-Dianggap”

Oleh: Anik Riyati* Kita pernah mendengar istilah “ra-dianggap” bukan? Benar, itu istilah yang berasal dari Bahasa Jawa. Artinya tidak dianggap atau dicuekin….
Keluarga

Santun dalam Bermedia Sosial

Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh Kak ‘Aisy yang saya hormati. Media sosial memang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita dalam berkomunikasi antar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.