Memahami Isra Mi’raj dalam Konteks Kekinian (Perintah Salat, Perjalanan Suci, dan Amar Ma`ruf Nahi Munkar)

Kalam 9 Jul 2020 0 84x

Oleh : Dr. H. Andy Dermawan (Divisi Diklat Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah &  Dosen Tetap UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Terjemah al-Quran surat al-Isra’ ayat 1 meneguhkan bahwa Maha Suci Allah swt. yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkannya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. “Rangkaian Kalimat” tersebut menegaskan bahwa Muhammad saw. “diperjalankan Allah swt.” menghadap Diri-Nya sebagai “Seseorang yang dicintai” Allah swt, sebagai utusan-Nya, sebagai “Mandataris-Nya”, sebagai Khalifah-Nya, dan sebagai Nabiyullah yang diutus untuk menyebarkan risalah islamiyah bagi seluruh umat manusia. Melalui ayat tersebut, Allah swt. menunjukkan kekuasaan dan kasih sayang-Nya kepada semua ciptaan-Nya bahwa Dialah Maha Perkasa lagi Kuasa. Tiada Tuhan selain-Nya, dan tiada kekuatan selain-Nya pula. Dia Maha tak Terhingga, lagi Maha tak Terbatas Kekuasaan-Nya.         

Isra mi`raj adalah peristiwa yang “terencana” bagi Allah swt., dan mengagetkan bagi manusia sebagai ciptaan-Nya. Terencana, karena sudah tertulis di lauh al-mahfudz sebagai “buku besar” bahwa Allah sang Maha Berkehendak, yang menyucikan hati Muhammad saw. menjaga perilaku Muhammad saw. dan  mendidiknya sebagai teladan alam semesta. Mengagetkan, karena otak manusia tidak mampu melampaui matra ruang dan waktu wilayah “yang tak terjangkau akal”  dan hal itu masuk di dalam area iman.  

Isra Mi`raj dan Persoalan Iman

Isra mi`raj merupakan suatu peris-tiwa luar biasa, dibutuhkan kemampuan rasio untuk memahami bahwa peristiwa tersebut membutuhkan “mata batin” yang lazim disebut iman. Sebab, sejatinya peristiwa isra mi`raj adalah peristiwa iman. Menurut Musa Asy`arie, iman bukan kata benda, tetapi sebagai kata kerja yang membuat seseorang berpikir keras dan bertindak cerdas untuk mencari jalan keluar dan menemukan alternatif pemecahan masalah yang rasional. 

Iman sebagai kata kerja bersifat spiritual dan berbasis pada ketajaman mata hati untuk melihat kebenaran di balik realitas, dan meyakinkan bahwa kebenaran di balik realitas sesungguhnya juga merupakan sumber semangat, kekuatan, dan kreativitas yang tidak pernah kering, dan dengan ketajaman mata hatinya seseorang mendapatkan bimbingan, ketenangan dan pencerahan. 

Bagi Musa Asy`arie, iman yang sedemikian itu mampu melahirkan petunjuk Allah swt., itulah iman yang melahirkan hidayah. Iman  menerangi jalan kehidupan, sebab mata hatinya selalu tajam memperhatikan dan memahami kebenaran yang ada di balik kejadian. Setiap kejadian pada hakikatnya bersifat spiritual dan imanlah yang dapat menangkap kebenaran spiritual itu. 

Isra Mi`raj dan Langkah Peru-bahan Fundamental Iman

Peristiwa isra` mi`raj Muhammad saw. adalah bagian dari keimanan seorang muslim terhadap apa yang diyaki-ninya benar, sebagaimana juga termaktub dalam al-Quran yang menyatakan الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ, yakni ereka yang beriman kepada hal yang gaib. Gaib dalam pengertian, sesuatu yang tak terlihat tetapi makna kehadirannya terasa sangat dekat dengan kehidupan kita. Yang tak terlihat bukan berarti tidak ada. Secara bahasa, isra’ berasal dari kata asra, sura, dan isra. Secara harfiah berarti “perjalanan malam hari”. 

Sedangkan mi`raj berasal dari kata `araja yang berarti “naik atau memanjat”, dan mi`raj secara harfiah berarti “tangga”.  Pengertian tersebut ingin menunjukkan bahwa Allah swt. memperjalankan hamba-Nya (Muhammad saw.) pada malam hari untuk menghadap-Nya guna mendapatkan “tugas mulia”, yakni Perintah Salat”. Mengapa mesti malam hari? Selain hal itu hanya Allah swt. yang Maha Tahu, hikmah yang dapat kita petik bisa juga karena malam hari merupakan suatu kondisi jernih dari suara dan keriuhan hiruk pikuk manusia. Allah swt. seolah ingin menegaskan, Hai manusia datanglah kepada-Ku di saat sebagian besar manusia terlelap dalam tidurnya. Itulah mengapa Allah swt. menyatakan kalam-Nya, dirikanlah salat pada sepertiga malam, maka engkau akan Aku anugerahi maqam/ tingkatan yang terpuji. 

 Peristiwa isra mi`raj pada pemahaman pertama, adalah perintah salat. Di dalam salat, seseorang dididik menjadi pribadi yang istiqamah, konsisten, dan berdiri tegak mengumandangkan bahwa Allah swt. itu Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Pribadi yang sedemikian, terlihat jelas karakter kuat yang berkepribadian unggul di dalam memegang teguh prinsip hidupnya. 

Era sekarang ini membutuhkan pri-badi-pribadi yang berkarakter “salat”. Apalagi seorang pemimpin, tentu hal itu menjadi syarat utama baginya. Ketika seseorang menjaga salatnya, itu sama halnya meneladani Muhammad saw. ketika mendapat perintah salat dari Allah swt. Di mana letak kesamaannya? Letaknya pada sami`na wa atha`na di dalam menjalankan perintah Allah swt, apapun perintah itu. Hatinya teguh dan mentalnya kuat di dalam memegang apa yang disyari`atkan-Nya.

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 3, Maret 2020

 

Leave a Reply