Memahami Keragaman Istilah Anak dalam al-Qur’an

Anak 20 Apr 2020 0 223x

Al-Qur’an menyebutkan istilah anak dalam beberapa kata, dan berimplikasi pada  pemaknaan.  Pertama; kata walad, dalam bahasa Arab merupakan bentuk jamak dari awlad merupakan isim mufrod yang hanya ditujukan kepada seorang anak, sedangkan isim jamaknya (untuk menunjukkan banyak) adalah awlad.

Dalam terminologi al-Qur’an kata walad untuk menyebut anak, yang berarti anak yang dilahirkan oleh orangtuanya, baik berjenis  kelamin laki-laki maupun  perempuan,  besar atau kecil,  baik untuk mufrad (tunggal), tatsniyah (dua) maupun  jama’ (banyak).

Anak yang belum lahir berarti belum dapat disebut sebagai al-walad atau al-mawlud, melainkan al-janin, yang secara etimologis terambil dari kata janna-yajunnu, berarti al-mastur dan al-khafiy yakni sesuatu yang tertutup dan tersembunyi (dalam rahim sang ibu). Salah satu ayat al-Qur’an yang menunjukkan kata awlad adalah surat Al-Anfal : 28.

Kata walad disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 65 kali. Surat Al-Balad ayat 3 menyebutkan “Dan demi bapak dan anaknya”.  Secara morfologis kata walad dapat memunculkan kata wallada yang berarti melahirkan atau ansya’a (menumbuhkan) dan rabba (mengembangkan). Al-Qur’an misalnya dalam Q.S. Lukman: 14, memerintahkan agar sang ibu memberi ASI (Air Susu Ibu) ketika anak masih bayi hingga umur dua tahun.

Kata walad dalam al-Qur’an digunakan untuk menggambarkan adanya hubungan keturunan, Kata walid berarti ayah kandung, dan kata walidah berarti ibu kandung. Berbeda dengan kata ibn, yang tidak mesti menunjukkan hubungan keturunan. Ibn bisa berarti  anak kandung dan anak angkat. Demikian pula kata ab (bapak), bisa berarti ayah kandung dan ayah angkat. Kata walad juga menggambarkan hubungan antara anak dengan orang tua, baik hubungan yang positif maupun negatif, sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al-Tagabun: 14.

Kedua; istilah ibn, dengan segala bentuk derivasinya terulang sampai 161 kali. Lafaz ibn menunjuk pada pengertian  anak laki-laki yang tidak ada hubungan nasab, yakni anak angkat, sebagaimana disebutkan dalam Q.S Al-Ahzab: 4. Al-Qur’an terkadang menggunakan istilah ibn dalam bentuk isim tashghir, dan berubah menjadi bunayy, yang menunjukkan bahwa anak itu secara fisik masih kecil, dan dapat pula menunjukkan adanya hubungan kedekatan (al-iqtirab).  Dalam al-Qur’an, kata tersebut (ya bunayya) terulang sampai 7 (tujuh) kali.

Al-Qur’an menggunakan term kata ibn bentuk jamaknya adalah abna’ dan banun untuk menyebut anak. Kata ibn atau jamaknya abna dan banun dalam al-Qur’an dapat merujuk kepada pengertian anak kandung. Misalnya, ketika al-Qur’an menyebut Nabi Isa sebagai anak laki-laki Maryam (Q.S. Al-Maidah: 78), ketika Nabi Nuh memanggil anaknya agar ikut naik perahunya (Q.S. Hud : 42) dan ketika Nabi Ya’qub menanyakan keimanan anak-anaknya sepeninggal beliau nanti dalam Q.S. Al -Baqarah:133.

Ketiga, kata bint. al-Qur’an menyebutkan kata bin dengan bentuk jamaknya banat, merujuk pada pengertian anak perempuan. Kata bint dalam al-Qur’an disebutkan 19 (sembilan belas) kali. Persoalan anak perempuan, al-Qur’an memberikan informasi  perlakuan orang-orang jahiliyah terhadap anak perempuan. Anak perempuan dipandang sebagai aib keluarga sehingga tega mengubur dalam keadaan hidup-hidup. al-Qur’an mengecam tindakan tersebut sebagai kejahatan, dosa besar dan kebodohan  (Q.S. Al-Nahl: 58-59).

Gambaran orang-orang jahiliyah yang menisbatkan anak-anak perempuan untuk Allah, sementara  mereka sendiri lebih memilih anak-anak laki-laki (Q.S. Al-Thur: 39 dan Al-Nahl: 57) yang isinya bertentangan dengan Q.S. Al-Ikhlas: 1-4 yang menjelaskan bahwa Allah Swt tidak memiliki anak, karena Dia Esa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. 

Keempat, kata dzurriyyah dalam derivasi berasal dari kata dzarra yang berarti kelembut dan menyebar. Dzurriyah dalam al-Qur’an disebutkan sampai  32  (tiga puluh dua)  kali yang digunakan untuk menyebut anak cucu atau keturunan.

Ayat-ayat al-Qur’an berkaitan dengan dzurriyah berkaitan dengan masalah harapan atau doa orangtua untuk memperoleh anak keturunan yang baik, peringatan Allah agar jangan sampai meninggalkan anak-anak yang bermasalah, masalah balasan yang akan diterima oleh orangtua yang memiliki anak-anak yang tetap kokoh dalam keimanannya. Penyebutan kata dzurriyah dalam bentuk mufrad (tunggal) dalam al-Qur’an, ada yang berkonotasi positif misalnya dalam Q.S. Ali-Imran: 38 dan adapula yang berkonotasi negatif dalam Q.S. Ali-Imran: 38.

Kelima, istilah hafadah. Dalam al-Qur’an, term hafadah   bentuk jamak dari hafid,  untuk  menunjukkan pengertian cucu (al-asbath) baik untuk cucu yang masih hubungan kerabat atau  orang lain. Kata tersebut merupakan derivasi dari kata hafada yang berarti  berkhidmah (melayani) dengan cepat dan tulus. Isyarat yang dikandung bahwa anak cucu sudah semestinya dapat berkhidmat kepada orangtuanya secara tulus,  mengingat orangtualah yang menjadi sebab bagi anak dan cucu terlahir ke dunia. Dalam konteks ini Al-Qur’an menjelaskan dalam Q.S. An-Nahl : 72.

Keenam istilah al-Shabiy. Kata tersebut terulang dua kali dalam al-Qur’an. Kata al-Shabiyyu yang pertama dalam Q.S. Maryam: 12, berarti kanak-kanak, yang memberikan informasi bahwa Allah menyuruh untuk mempelajari kitab Taurat kepada Yahya dan memberinya hikmah (pemahaman atas kitab Taurat dan pendalaman agama), pada waktu Yahya masih kanak-kanak dan belum baligh.

Kata al-Shabiyyu kedua pada Q.S. Maryam: 29, menunjuk pada pengertian anak yang masih dalam ayunan. Ketika itu Nabi Isa disuruh ibunya berbicara dan menjelaskan tentang hal keadaannya (yakni hamil dan punya anak tanpa suami) kepada orang Yahudi,  ia masih dalam keadaan menetek ibunya, ketika mendengar perintah ibunya, ia lalu melepaskan puting susu ibunya dan berbicara bahwa sesungguhnya saya (Isa) adalah hamba Allah yang diciptakan tanpa ayah…”.

Ketujuh istilah al-thifl, bentuk jamaknya athfal yang dalam al-Qur’an terulang sebanyak lima kali, yaitu pada Q.S Al-Nur: 31 dan 59, Al-Hajj: 5, Al-Mukmin: 67, Gafir: 67. Secara semantis, kata thifl berarti al-maulud alshagir (bayi yang baru dilahirkan yang masih kecil), anak belum dewasa, anak yang baru dalam fase perkembangan sebelum ia dewasa, di mana ia belum “mengenal tentang aurat perempuan, dan anak yang baru lahir dengan proses penciptaannya hingga wafat. Demikian kata pakar lingustik Abul Husain Ahmad Ibn Faris dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah.

Kedelapan istilah al-Ghulam, dalam berbagai bentukanya diulang 13 kali dalam al-Qur’an, yaitu Ali-Imran :40, Yusuf: 19, Al-Hijr: 53, Al-Kahfi: 80 Maryam: 7,8 dan 20 , Al-Shaffat: 101 dan Al-Dzariyat: 28. Kata ghulam berarti seorang anak muda, yang diperkirakan umurnya 14-21 tahun. Pada fase tersebut perhatian orang tua harus lebih cermat, karena merupakan fase anak dalam tahap mengalami puber, krisis identitas, dan bahkan perubahan yang luar biasa.

Ragam istilah anak beserta maknanya telah mem-berikan isyarat bahwa al-Qur’an sangat memperhatikan kondisi sosial anak, baik yang menyangkut kedudukan anak, proses pendidikan dan  pemeliharaan anak, hak-hak anak, hukum-hukum yang terkait dengan anak, maupun cara berinteraksi yang baik. Semoga referensi ini akan menambah wawasan dan memperkaya keilmuan tentang anak dalam konteks pergerakan maupun peran khusus sebagai mubalighat.

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 7 Juli, 2017, Rubrik Kalam

Sumber Ilustrasi : https://parenting.dream.co.id/ibu-dan-anak/penting-ajari-anak-lelaki-menghormati-tubuh-orang-lain-171009o.html

Leave a Reply