Memanfaatkan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan

Berita 27 Sep 2021 0 87x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah pada Sabtu (25/9) mengadakan Pengajian Perempuan Mengaji bertema “Membangun Ketahanan Pangan untuk Menguatkan Keluarga”. Pengajian yang dilakukan secara daring ini diisi oleh Latifah Iskandar selaku Ketua PP ‘Aisyiyah, dan Koordinator Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan.

Latifah menjelaskan, urusan pangan telah diatur dalam UU No. 18 Tahun 2012 yang berbunyi “penyelenggaraan pangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil, merata, dan berkelanjutan berdasarkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan pangan”.

Tujuan dari Undang-undang ini, ujar Latifah, adalah untuk memastikan bahwa 270 juta penduduk Indonesia tidak kelaparan. Sementara harapannya adalah agar individu dan masyarakat dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Selanjutnya, Latifah menjelaskan bahwa status ketahanan pangan dan gizi menurut Global Food Security Index (EIU) di Indonesia menduduki urutan ke-62. Artinya, ketahanan pangan di Indonesia belum merata. “Ada sebagian dari saudara-saudara kita yang mengalamai kekurangan pangan, dan ini perlu menjadi perhatian kita”.

Mengenai tantangan ketahanan pangan, Latifah menyebutkan tantangan ketahanan pangan yang dihadapi Indonesia di era new normal di antaranya, pertama, biaya produksi semakin mahal; kedua, adanya perubahan pola konsumsi; ketiga, hambatan distribusi pangan antar provinsi atau pulau; keempat, harga cenderung tidak berpola; kelima, perubahan online transaction, dan; keenam, pembatasan ekspor dan impor.

Baca Juga: Membangun Ketahanan dan Kemandirian Pangan Berbasis Nilai-Nilai Islam

Sementara itu, cara membangun ketahanan pangan untuk menguatkan keluarga menurut Laifah adalah dengan memanfaatkan pekarangan untuk budidaya tanaman, budidaya peternakan, dan perikanan. Budidaya tanaman contohnya dengan menanam cabai atau sayur-sayuran.

Budidaya tanaman di daerah perkotaan, menurutnya, dapat dilaksanakan secara individu, maupun oleh keluarga, sedangkan di pedesaan lebih tepat dilakukan secara berkelompok karena mempunyai ukuran lahan yang luas. Di lahan yang luas, tanaman dapat ditanam langsung di tanah, sedangkan pada lahan yang sempit bisa dilakukan dengan menggunakan pot atau polibag, vertikultur, hidroponik, dan tabulampot.

Selain budidaya tanaman, membangun ketahanan pangan untuk menguatkan keluarga dapat dilakukan dengan budidaya peternakan dan perikanan. Untuk pekarangan yang sempit, Latifah menyarankan untuk membudidayakan ikan, misalnya dengan beternak lele dalam tong, atau bis beton, atau budikdamber. Sementara untuk pekarangan yang luas dapat mengusahakan budidaya ikan, unggas, dan hewan ternak.

Menurut Latifah, ada dua tujuan dari budidaya tanaman, peternakan, dan perikanan, yakni (a) untuk meningkatkan ketersediaan pangan melalui pemanfaatan lahan pekarangan, dan (b) meningkatkan perekonomian keluarga. “Dari hasil budidaya tersebut dapat dipasarkan atau digunakan sendiri. Dengan begitu dapat menghemat biaya pengeluaran pangan,” ujar Latifah. (rizka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *