Membangun Kepedulian kepada Sesama

Berita 18 Sep 2021 0 63x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Salah satu ciri gerakan Muhammadiyah ialah kepedulian terhadap sesama. Tidak hanya untuk Muhammadiyah saja, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Shoimah Kastolani pada Kajian Sabtu Pagi Fathul Asrar Miftahus Sa`adah yang diadakan secara virtual.

Kajian yang diadakan Sabtu (18/9) ini mengambil tema “Membangun Kader yang Peduli Sesama”. Kajian ini diadakan dengan tujuan membangun kepedulian, baik oleh kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah maupun masyarakat umum.

Di awal penjelasannya, Shoimah menyampaikan bahwa kepedulian pada umat itu bersifat universal, semua orang dapat menanamkan kepedulian pada diri mereka dengan membantu sesama. Umat, masyarakat, negara, dan bangsa, katanya, memiliki peran dalam menumbuhkan serta menerapkan kepedulian.

“Kita tidak bisa hanya berdiam diri memangku tangan melihat kesulitan yang ada dalam masyarakat, terlebih saat pandemi seperti ini. Uluran tangan kita sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan bantuan,” tutur Shoimah.

Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah ini juga menyampaikan keprihatinannya terhadap anak muda saat ini yang lebih senang untuk memakai gawai yang mengarahkan pada kehidupan individual. Shoimah memaparkan bahwa remaja di era digital saat ini memiliki sikap, seperti individual, kurang kepekaan sosial, kurang terarah pada kepedulian sosial, berkurangnya kesantunan, dan kurang kebersamaan.

Baca Juga: Dari Muhammadiyah untuk Semua

Mengatasi permasalahan ini, Shoimah menyampaikan beberapa komponen cara mendidik anak, di antaranya adalah: (a) orang tua atau keluarga sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak; (b) sekolah mempunyai peranan yang hampir sama seperti keluarga, yakni sebagai pendidik bagi anak. Sekolah menjadi tempat belajar serta contoh dalam kehidupan bersosial bagi anak; (c) masyarakat sebagai wadah bagi anak untuk menerapkan kehidupan sosial bagi mereka.

Lebih lanjut, Shoimah memaparkan 3 ciri masyarakat yang peduli, yakni: Pertama, simpati, di mana seseorang merasa tertarik akan kebutuhan orang lain, sehingga dengan perasaan ini akan timbul dalam dirinya untuk memahami atau mengetahui lebih dalam akan kesusahan dan kesulitan yang dirasakan orang lain.

Kedua, memperhatikan kesulitan orang lain. Dalam hal ini, setiap agama mengajarkan umatnya untuk mempunyai rasa peduli pada kesulitan orang lain. Dalam Islam pun, kata Shoimah, wajib membantu saudara sesama manusia dan sesama makhluk Tuhan.

Ketiga, meringankan penderitaan orang lain untuk dapat memahami pentingnya peningkatan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan kepedulian sosial juga termasuk dalam rangkaian ibadah.

Shoimah juga menegaskan untuk selalu menerapkan ta’awun dalam kehidupan, seperti kegiatan Jumat berkah, kegiatan berbagi, jimpitan (iuran sukarela), lumbung hidup, dan melarisi dagangan tetangganya. (cheny)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *