Membangun Komitmen Hidup untuk Menanggulangi Seks Bebas (1)

Hikmah 9 Aug 2020 0 93x

Sumber ilustrasi : intisari.grid.id

Oleh: Dr. Hamim Ilyas

Pergaulaan masyarakat modern menggunakan sistem terbuka yang tidak melakukan pemisahan jenis kelamin (separation of sexes). Dengan sistem ini laki-laki dan perempuan bebas bertemu di ruang publik dan seringkali juga di ruang pribadi. Dengan segala kelebihannya, sistem ini terbukti menjadi faktor sosial berkembangnya perilaku seks bebas, hubungan seks di luar nikah, yang dilarang dalam Islam. Secara moral, individu, bahkan masyarakat, dapat mengendalikan atau menanggulangi berkembangnya perilaku itu jika mereka memiliki komitmen hidup religius yang tepat dan kuat.

Pelajaran dari al-Fatihah

Al-Fatihah, surat pertama al-Qur’an, memuat  deklarasi Ketuhanan Yang Maha Rahman dan Rahim dalam kapasitas Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah, Tuhan pemilik alam semesta, dan Tuhan yang menerima kembali kepulangan manusia dengan menggunakan kalimat berita atau kalimat tidak langsung (ayat 1-4). Namun ketika memuat konsekuensinya, surat itu menggunakan kalimat langsung (ayat 5-7). Perubahan pola kalimat ini dalam bahsa Arab disebut iltifat dan pada umumnya dipahami sebagai gaya bahasa  untuk menarik perhatian dan minat audien  terhadap isi pembicaraan.

Dari ayat-ayat al-Qur’an diketahui bahwa pewahyuan kitab suci ini tidak berlangsung secara monologis, tapi secara dialogis sehingga memuat respon audien terhadapnya. Dengan demikian kalimat-kalimat langsung dan tidak langsung dalam al-Fatihah itu menggambarkan berbahasa dan bernalar dengan dialog sebagai cara untuk memahami Allah dan hubungan dengan-Nya. Karena Allah itu Maha Rahman dan Rahim maka respon terhadapnya dari manusia yang sesuai adalah yang diungkapkan dalam kalimat-kalimat langsung tersebut.

Kalimat-kalimat langsung itu memuat respon dengan pernyataan ikrar dan doa. Dalam pengalaman manusia ikrar dan doa yang diucapkan tanpa paksaan, apalagi jika dinyatakan di depan publik, menunjukkan keasadaran dan kesungguhan untuk mewujudkan isinya dalam kenyataan. Dalam Islam, al-Fatihah menjadi bacaan wajib dalam shalat; dan  dalam praktek kehidupan kaum Muslimin, ia sering dibaca sendirian dan bersama-sama dalam ritual dan upacara-upacara tertentu. Penentuannya sebagai bacaan wajib dan pilihan menunjukkan bahwa mereka wajib dan seharusnya  memiliki kesadaran terhadap isi dan komitmen yang kuat untuk melaksanakan ikrar dan doa tersebut. 

Ikrar untuk merespon kehadiran Allah Yang maha Rahman dan Rahim itu adalah ikrar untuk “Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in.” Iyyaka adalah kata ganti orang kedua yang bisa berdiri sendiri (dlamir munfashil) yang menunjuk ke Allah. Ia didahulukan di depan kata kerja untuk menunjukkan pengkhususan pelaksanaan kata kerja kepada-Nya. Adapun na’budu adalah kata kerja  dari ‘ubudiyyah yang berarti “memperlihatkan sikap merendah” yang boleh ditunjukkan kepada Allah dan selain-Nya dan ‘ibadah yang berarti “memperlihatkan puncak sikap merendah” yang hanya boleh dilakukan kepada Allah yang memberi karunia puncak. Meskipun obyek  na’budu dalam ayat itu adalah khusus “Engkau-Allah”,  yang dimaksudkannya tidak harus ‘ibadah yang dalam bahasa Indonesia disebut “sembah” atau “sembah sujud”, tapi dapat  ‘ubudiyyah yang berarti menghamba atau mengabdi.

Hal ini karena manusia dalam kedudukannya di muka bumi tidak hanya sebagai hamba (‘abd)  yang harus taat-menyembah kepada-Nya, tapi juga sebagai khalifah-Nya, yang harus mewakili-Nya menyelenggarakan kehidupan untuk memakmurkan bumi dengan membangun peradaban. Kemudian nasta’in berarti memohon pertolongan dan karena obyeknya  juga “Engkau-Allah, maka maksudnya sudah barang tentu  doa yang hanya boleh dipanjatkan kepada Tuhan sesembahan. Jadi ikrar itu berarti “Hanya Kepada-Mu kami mengabdi dan Hanya kepada-Mu kami berdoa memohon pertolongan.”

Komitmen

Dengan  ikrar itu berarti manusia merespon kehadiran Allah dengan komitmen untuk mengabdi dan berdoa memohon pertolongan hanya kepada-Nya. Kalau ayat tersebut tetap dipahami  sebagai menunjukkan komitmen beribadah, maka harus dipahami dengan ibadah dalam arti luas yang sudah umum diketahui berkembang  tradisi Islam. Ibnu Taimiyah berpandangan bahwa ibadah meliputi seluruh ucapan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhai Allah. Adapun al-Jurjani mendefinisikannya sebagai perbuatan yang tidak sesuai dengan tuntutan hawa nafsu untuk mengagungkan Tuhan. Ibadah dalam pengertian yang sangat luas ini bisa meliputi seluruh kebaikan yang diajarkan oleh agama dan identik dengannya. Pengertian  yang sangat luas ini  tidak sesuai dengan makna  bahasa dari ibadah  di atas. Ucapan dan perbuatan baik yang diridhai atau  untuk mengagungkan Allah tidak mesti dilakukan sebagai puncak sikap merendah atau sembah sujud kepada-Nya, tetapi  sebagai akhlak untuk mewujudkan kebaikan pribadi, lingkungan dan sosial.

Al-Qur’an sebagai kitab berbahasa Arab ketika menggunakan kata na’budu sudah barang tentu memaksudkan makna yang dikenal dalam bahasa itu. Perujukan makna ini secara jelas tidak hanya terdapat dalam  al-Fatihah saja..

Bersambung ke Membangun Komitmen Hidup untuk Menanggulangi Seks Bebas (2)

Leave a Reply