Membangun Optimisme dalam Keluarga

Keluarga Sakinah 21 Agu 2021 0 63x
optimis

optimis (foto: pixabay)

Oleh: Susilaningsih Kuntowijoyo

Optimisme adalah sikap percaya diri dan perasaan berdaya untuk melakukan atau melewati apa yang dihadapi, serta memiliki harapan positif terhadap keberhasilan dari apa yang diusahakan. Dalam Islam, optimisme adalah sikap husnudzan, berprasangka baik terhadap Allah dan apa yang sedang, akan, serta telah terjadi, dengan keyakinan bahwa itu merupakan takdir atau kepastian dari Allah swt. Islam sangat menganjurkan adanya sikap optimis dalam menghadapi setiap permasalahan hidup, menjalani kehidupan dengan semangat, dan meyakini bahwa dirinya akan mampu melewati semua hambatan atas izin Allah swt.

Lawan dari optimisme adalah pesimisme, yaitu sikap tidak percaya diri, rasa tidak berdaya atau rasa tidak mampu untuk melakukan tugas atau menempuh tantangan yang dihadapi. Bersikap pesimis berarti bersikap negatif atau su’udzan terhadap kemampuan diri dan kurang yakin terhadap karunia kemudahan dari Allah. Sikap pesimis mengganggu ketenangan jiwa dan menghambat jalannya kehidupan. Optimisme diperlukan oleh semua usia, dari usia kanak-kanak sampai usia lanjut, sebagai modal dasar dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan kehidupan.

Optimisme dan pesimisme adalah perasaan dan sikap yang diperoleh, hasil dari proses pendidikan, yang dapat dibentuk dan dikembangkan semenjak usia dini, dan dikembangkan serta dijaga pada usia-usia selanjutnya, yaitu usia remaja dan dewasa. Dalam hal ini, keluarga mempunyai peran penting dalam membangun rasa optimisme dan mencegah terbentuknya sifat pesimisme.

Manfaat Optimisme dalam Kehidupan

Dalam menjalani kehidupan, manusia menghadapi berbagai masalah; kadang mudah, kadang-susah, kadang ada hambatan tidak terduga, atau kadang ada masalah yang tidak dapat cepat terselesaikan. Situasi seperti belakangan ini misalnya, termasuk masalah yang tidak mudah untuk dihadapi. Sudah satu setengah tahun lebih masyarakat di Indonesia, dan juga dunia, menghadapi wabah Covid-19 yang menggelisahkan. Sebagian orang gelisah tentang keamanan diri dari wabah tersebut, gelisah tentang kecukupan kebutuhan hidup selama pandemi, dan gelisah terhadap keterbatasan gerak karena harus lebih banyak tinggal di rumah.

Untuk menghadapi semua itu, seseorang perlu memiliki sikap tenang, tetap berpikir dan bersikap positif, optimis dalam melanjutkan kehidupannya, serta memohon dan ber-husnudzan atas pertolongan Allah swt. Oleh karena itu, optimisme perlu selalu dimiliki agar seseorang mampu mendorong rasa percaya diri untuk menjalani kehidupannya, dan menyelesaikan kesulitan yang mungkin timbul.

Optimisme akan mendorong timbulnya rasa senang, nyaman, dan penuh semangat pada diri seseorang dalam menjalani kehidupan. Bahkan rintangan yang melanda dianggap sebagai tantangan yang mendorong rasa semangat untuk menghadapi serta mendorong kreatifitas diri untuk menemukan jalan keluar.

Baca Juga: Peran Orang Tua dalam Membangun Kepercayaan Diri Anak

Optimisme yang tinggi merupakan indikator dari jiwa yang sehat. Kebalikan dari optimisme adalah pesimisme atau rasa pesimis. Pesimisme menimbulkan rasa tidak pecaya diri dan ragu-ragu pada seseorang saat menghadapi permasalahan sehingga dapat menghambat perjalanan hidupnya. Pesimisme yang berkelanjutan dapat menjadi penyebab terjadinya stres, dan bila berkepanjangan dapat menjadi depresi (Seligman dalam Iman Setiadi Arif, Psikologi Positif, hlm 157, 2016).

Optimisme dan pesimisme memang bukan bawaan, tetapi dapat menjadi sifat yang menetap. Perlu adanya usaha menanam dan mengembangkan optimisme semenjak usia dini dan tetap menjaganya sepanjang perjalanan hidup. Sebaliknya pesimisme, yang seringkali muncul bersamaan dengan optimisme, perlu dicegah kemunculan dan perkembangannya.

Perkembangan Optimisme

Di muka telah disebutkan bahwa optimisme dan pesimisme bukan sifat bawaan tapi merupakan hasil bentukan dan perkembangan semenjak usia anak yang berlanjut pada remaja dan dewasa. Pada usia anak, orang tua mempunyai peran penting dalam proses pembentukan dan pengembangan optimisme itu.

Pada usia remaja, peran orang tua mulai berkurang, diganti  dengan dorongan dari dalam diri sendiri untuk mampu menyelesaikan tugas-tugas serta menghadapi tantangan untuk memperoleh prestasi yang harus dicapai dalam hidupnya, walau kadang dorongan dari orang tua masih diperlukan. Sedangkan pada masa dewasa, penjagaan terhadap keberadaan optimisme merupakan tanggung jawab diri sendiri.

Modal untuk memiliki optimisme adalah rasa percaya diri. Hal ini tidak dibawa semenjak lahir karena pada dasarnya anak lahir dalam keadaan lemah dan tergantung pada lingkungan. Optimisme harus dibentukkan semenjak anak usia dini, dikembangkan, serta dijaga sepanjang perjalanan hidup. Sumber dari rasa percaya diri adalah adanya perasaan diterima, diakui, dan dicintai oleh orang di sekitarnya, terutama orang tuanya.

Selanjutnya, anak yang merasa sering mendapat apresiasi atau pujian dari orang tua dan lingkungannya terhadap perilaku dan hasil kerja atau prestasinya akan membentuk rasa percaya diri. Itu adalah perasaan “aku bisa” yang kemudian akan menjadi dasar dari terbentuknya konsep diri positif, dan menjadi modal terbentuknya sifat percaya diri dan sikap optimistis.

Sebaliknya, anak yang dirinya merasa kurang diperhatikan oleh orang tuanya dan orang-orang di sekitarnya, serta mungkin juga sering mendapat cacian dan cercaan terhadap perilaku dan hasil kerjanya, akan cenderung menjadi anak yang mudah frustrasi dan tidak percaya diri. Ia merasa dirinya tidak mampu, merasa “aku tidak bisa”, bila menghadap tugas dan tantangan, yang kemudian dapat menjadi bibit terbentuknya sifat pesimis.

Oleh karena itu, orang tua dan orang dewasa di sekitar anak, misalnya guru, perlu menggunakan cara yang bijak dalam menunjukkan kesalahan pada anak, disertai  dengan pemberian contoh bagaimana semestinya yang benar, baik dalam hasil kerja maupun sikap dan perilaku. Optimisme ataupun pesimisme yang sudah terbentuk pada usia anak akan mempengaruhi perkembangan optimisme dan pesimisme pada masa remaja.

Tantangan dalam menghadapi permasalahan hidup pada usia remaja lebih bervariatif dibandingkan dengan pada usia anak,  baik yang terkait dengan perkembangan kejiwaan, pergaulan dalam masyarakat remaja, maupun persaingan antar remaja tentang kehidupan di sekolah maupun di masyarakat. Apabila anak telah memiliki modal rasa percaya diri dan optimisme yang cukup kuat, hasil dari perkembangannya pada usia anak, maka itu merupakan modal bagi pengembangan rasa optimisme bagi remaja.

Baca Juga: Pendidikan Karakter Takwa dalam Keluarga Sakinah

Biasanya, remaja akan berusaha menyelesaikan sendiri permasalahan yang mungkin menghambat. Namun, pada remaja yang pada masa kanak-kanaknya gagal memiliki rasa percaya diri dan optimisme, akan mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Remaja tersebut akan lebih bersikap emosional dan mudah frustrasi dalam menghadapi tantangan hidup, menjadi pendiam, susah untuk diajak komunikasi, mudah tersinggung, suka menyingkir atau tersingkir dari pergaulan, dan bisa juga menjadi pribadi yang pendendam (Elizabeth B. Hurlock. Adolescent Development, 1950, hlm. 462).

Hal itu akan mempengaruhi kehidupannya pada masa dewasa kelak. Oleh karena itu, sebelum memasuki usia dewasa, perlu ada pendekatan khusus terhadap remaja yang memiliki kondisi kejiwaan lemah semangat dan gampang frustrasi tersebut. Apabila orang tua tidak mampu menanganinya sendiri, maka perlu meminta bantuan kepada ahli psikologi atau psikolog.

Selanjutnya, ketika manusia memasuki usia dewasa, tantangan hidup menjadi semakin kompleks karena harus bertanggung untuk mampu mengelola kehidupannya dalam dunia kerja dan rumah tangga. Oleh karena itu, rasa percaya diri dan sikap optimis yang kuat merupakan modal yang penting untuk memasuki kehidupan orang dewasa.

Bagi pribadi yang telah memiliki rasa percaya diri yang cukup kuat, tantangan yang berat dalam kehidupan orang dewasa dianggap sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri. Tetapi bagi orang yang rasa percaya dirinya tidak cukup kuat, tantangan yang berat itu dapat mengendorkan semangat serta dapat berdampak pada kegagalan. Bila hal itu terjadi beberapa kali, dapat menyebabkan patah semangat, pesimisme, dan kehidupan yang tidak bahagia. Oleh karena itu, perlu usaha untuk selalu menjaga dan menguatkan rasa percaya diri dan optimisme.

Strategi Penguatan Optimisme

Dalam kehidupan yang semakin kompleks, manusia sering menghadapi banyak tantangan yang tidak mudah untuk diatasi ketika menyelesaikan suatu pekerjaan, atau untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan, walaupun akhirnya bisa jadi pekerjaan itu selesai juga. Bagi pribadi yang tidak cukup kuat, keadaan tersebut dapat melemahkan semangat, menurunkan sikap optimisme, dan bahkan dapat terjebak pada sikap pesimisme yang kemudian dapat mengganggu kesehatan jiwa dan kebahagiaan hidup.

Keadaan tersebut sering kali dapat menimbulkan perasaan ragu terhadap kemampuan diri yang berpengaruh kepada timbulnya kepercayaan diri yang rendah, dan bahkan mengurangi keyakinannya kepada karunia Allah swt. Bila keadaan itu berlarut-larut, akan dapat melemahkan semangat juang, sehingga dapat mengganggu kesehatan jiwa dan kebahagiaan hidup. Untuk itu, perlu adanya usaha penguatan optimisme.

Paling tidak, ada dua (2) pendekatan yang dapat dipakai untuk penguatan optimisme seseorang, yaitu pendekatan psikologis dan  pendekatan reliJius. Kedua pendekatan itu dapat diintegrasikan. Pendekatan psikologis diutamakan pada penguatan cara berpikir positif. Sedangkan pendekatan relijius menekankan pada penguatan keimanan serta keyakinan bahwa Allah maha penolong, serta menguatkan hubungan dirinya dengan Allah swt. Selanjutnya, perlu didorong juga untuk menguatkan doa kepada Allah dan kesyukuran atas karunia yang telah diterima.

Baca Juga: Keteladanan Luqman Al-Hakim dalam Pendidikan Anak

Hal utama yang terkait dengan pendekatan psikologis adalah melemahnya optimisme, yaitu melemahnya kemampuan berpikir positif. Secara umum, ternyata manusia itu cenderung berpikir negatif. Ibrahim Elfiky (Terapi Berfikir Positif, 2012, hlm. 4)  menyampaikan tentang hasil penelitian yang dilaksanakan pada tahun 1986 oleh Fakultas Kedokteran di San Franscisco yang menyebutkan bahwa 80 persen isi pikiran manusia adalah negatif, hanya 20 persen yang bersifat positif. Hal itu disebabkan karena pengaruh dari pola pikir orang tua dan lingkungan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, usaha pembiasaan dan penguatan berpikir positif perlu dilakukan dan menguatkan keyakinan bahwa dirinya mampu untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Sedangkan pendekatan religius, di samping menekankan pada penguatan keimanan dan hubungan kepada Allah swt., juga sikap husnudhan kepada Allah bahwa apapun yang terjadi pada dirinya adalah untuk kebaikan dirinya. Perlu ditekankan juga agar yang bersangkutan tetap berusaha untuk menyelesaikan tugas dan masalah yang dihadapi dengan ber-husnudzan bahwa Allah akan memberi kemudahan, serta menjauhkan diri dari sifat mudah putus asa.

Usaha-usaha itu selalu diiringi doa agar Allah memberi kemudahan. Selalu bertawakal dan bersyukur atas apapun karunia Allah. Dalam al-Quran, banyak ayat yang mengisyaratkan tentang semangat untuk berusaha dan bersikap optimis. Di antaranya adalah dalam surat az-Zumar ayat 53, dan al-Insyirah ayat 5.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *