Membumikan (Kembali) Gerakan Ilmu dalam Muhammadiyah

Aksara 8 Sep 2021 0 68x

Judul                              : Membumikan Gerakan Ilmu dalam Muhammadiyah

Editor                            : Jabrohim, dkk.

Penerbit                        : Pustaka Pelajar

Tahun                            : 2010

Halaman                       : xviii + 231

ISBN                              : 978-602-8764-57-5

Seringkali, Muhammadiyah dipandang hanya sebagai organisasi yang berfokus pada aktivitas sosial-praksis. Tidak salah memang, sebab Kiai Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah pun lebih dikenal sebagai man of action, bukan man of thinking. Kiai Dahlan lebih dikenal sebagai sosok pembaharu Islam yang menonjolkan dimensi amaliah, bukan sosok pemikir yang melahirkan karya-karya tulis.

Akan tetapi, menafikan peran-peran intelektual Kiai Dahlan tentu bukan sikap yang tepat. Sebab bagaimana mungkin Kiai Dahlan dapat melakukan pembaharuan tanpa bekal pengetahuan yang mendalam? Pun demikian, sulit membayangkan Kiai Dahlan berani melayangkan ide-ide “gila” tanpa punya landasan keagamaan dan keilmuan yang kuat.

Baca Juga: Profil Kiai Ahmad Dahlan: Pikiran dan Gerakan yang Melampaui Zaman

Sederhananya, karya amaliah Kiai Dahlan merupakan hasil dari pemahaman agama yang kuat dan pembacaan beliau atas kondisi sosial-keagamaan umat Islam dan bangsa Indonesia yang mengalami kemunduran. Aktualisasi dari gagasan menuju gerakan itulah yang kemudian menjadi ciri khas Muhammadiyah periode awal.

***

Ahmad Syafii Maarif dalam Kata Pengantar buku ini menjelaskan bahwa berdirinya Muhammadiyah adalah ditujukan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat, umat Islam, bangsa Indonesia, dan kemanusiaan universal. Muhammadiyah memainkan peran untuk “membumikan ajaran Islam sehingga Islam dapat berfungsi sebagai instrumen rahmatan lil ‘alamin betul-betul dipegang dan diterapkan oleh KHA Dahlan” (hlm. xi-xii).

Buku ini berisi 16 (enam belas) tulisan hasil dari lomba esai dalam rangka menyemarakkan Muktamar Muhammadiyah ke-46 pada 2010 silam. Judul buku ini, “Membumikan Gerakan Ilmu dalam Muhammadiyah”, diambil dari tulisan karya M. Husnaini.

Menurut Husnaini, pendidikan merupakan bagian integral dari ide dan praktik organisasi Muhammadiyah. Ia menulis, “sejak berdirinya, Muhammadiyah telah concern dalam bidang enlightenment, pencerdasan, dan pencerahan umat Islam, agar tidak dipecundangi umat lain, tidak kalah dalam persaingan, dan terdorong untuk senantiasa merebut kembali masa depan” (hlm. 119).

Lambat laun, seiring perkembangan Muhammadiyah, upaya-upaya pencerdasan dan pencerahan itu kerapkali “tersembunyi” oleh gegap-gempita aktivitas sosial-praksis Muhammadiyah. Padahal, menurut Husnaini, gerakan ilmu dalam Muhammadiyah merupakan sebuah keniscayaan.

“Tidak ada jalan lain untuk bersikap setia kepada gagasan ‘Islam yang berkemajuan’, kecuali mau belajar dan membuka diri selebar-lebarnya, selebar kehidupan itu sendiri,” tulis Buya Syafii dalam Suara Muhammadiyah, No. 10, 16-31 Mei 2010, sebagaimana dikutip Husnaini (121).

Menurut Husnaini, gerakan ilmu dalam Muhammadiyah merupakan sebuah keniscayaan. Sebab jika gerakan ini diabaikan, bukan hal yang mustahil jika eksistensi Muhammadiyah di pentas panggung peradaban manusia akan lenyap (hlm. 125).

Baca Juga: Kosmopolitanisme Muhammadiyah

Iman, ilmu, dan amal saleh memang merupakan tiga instrumen yang tidak dapat dilepaskan. Hal itulah yang (juga) ditegaskan Bambang Harnowo dalam tulisannya yang berjudul “Menciptakan Generasi Berakhlak Mulia, Cerdas, dan Bertanggung Jawab di Era Globalisasi Informasi”.

Menurut Harnowo, jika tiga instrumen itu dikembangkan dan dikuatkan, kehidupan manusia –khususnya umat Islam– akan menuju titik pencerahan dan kemajuan. Sebaliknya, jika salah satunya diabaikan, umat Islam akan mengalami kehampaan, kegamangan hidup, dan kemunduran (hlm. 64).

Atas dasar itulah maka Muhammadiyah tidak boleh mencukupkan diri hanya dengan melakukan aktivitas sosial-praksis saja, tetapi juga perlu (kembali) menggeliatkan gerakan ilmu sebagai basis gerakan. Pada waktu yang bersamaan, Muhammadiyah juga harus terus mencerdaskan dan memajukan kehidupan umat Islam, bangsa Indonesia, dan seluruh warga dunia. (brq)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *