Memerdekakan Jiwa dengan Tauhid

Kalam 9 Mar 2020 0 259x

Oleh : Yusuf Abdul Hasan (Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)

Kemerdekaan dan tauhid merupakan dua hal yang tidak mungkin dipisah. Jika kemerdekaan diibaratkan bunga dan buah suatu tanaman, tauhid adalah akar  tanaman yang terhujam jauh ke dalam bumi tempat ia disemai, kemudian tumbuh dan tegak berdiri.

Nalar seperti ini dapat kita telusuri pada firman Allah Swt  sebagai berikut:

أَلَمْتَرَكَيْفَضَرَبَاللَّهُمَثَلاكَلِمَةًطَيِّبَةًكَشَجَرَةٍطَيِّبَةٍأَصْلُهَاثَابِتٌوَفَرْعُهَافِيالسَّمَاءِ.تُؤْتِيأُكُلَهَاكُلَّحِينٍبِإِذْنِرَبِّهَاوَيَضْرِبُاللَّهُالأمْثَالَلِلنَّاسِلَعَلَّهُمْيَتَذَكَّرُونَ.

Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. (Q.S. Ibrahim: 24-25)

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya dengan jelas menggambarkan apa yang dimaksud “kalimat yang baik”, “pohon yang baik”, serta “akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit”. “Kalimat yang baik” tak lain adalah kalimat tauhid laa ilaaha illallaah. “Pohon yang baik” adalah kiasan mengenai sosok orang-orang yang beriman. Adapun “akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit” adalah keyakinan teguh yang tertanam pada hati orang-orang yang beriman bahwa “tidak ada ilah yang haq selain Allah semata”. Keyakinan yang sedemikian kuat ini mengejawantah dalam kehidupan nyata berupa amal-amal perbuatan baik. Hasilnya, Allah akan memberikan kehormatan diangkat ke langit.

Para mufassir lain, seperti yang ditulis dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir, juga
menyatakan hal yang sama, bahwa “akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit” adalah perumpamaan tentang perbuatan, perkataan yang baik dan amal saleh
orang-orang mukmin. Oleh sebab itu, orang-orang mukmin bagaikan pohon kurma, amal baik mereka senantiasa diangkat oleh Allah, di setiap saat, di setiap kesempatan, pada waktu pagi maupun petang.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar yang mengisahkan bahwa dirinya bersama ‘Umar bin Khattab dan Abu Bakar ash-Shiddiq tengah berada di samping Rasulullah Saw. Saat itu beliau bersabda, “Sebutkanlah sebuah pohon yang serupa atau seperti orang muslim yang daunnya tidak berjatuhan pada musim panas dan musim dingin dan menghasilkan buah setiap saat dengan izin Rabb-nya.” Dalam ha-tinya, Ibnu ‘Umar mengatakan bahwa yang dimaksud pohon oleh Rasulullah Saw itu tiada lain adalah pohon kurma. Tapi ia enggan menjawab pertanyaan Rasulullah Saw itu lantaran ia melihat ayahnya dan Abu Bakar terdiam, tidak menjawab. Karena mereka terdiam, Rasulullah pun bersabda, “Pohon itu adalah pohon kurma.”

Setelah hal itu berlalu, barulah Ibnu ‘Umar mengatakan kepada ‘Umar bin Khattab, “Wahai Ayah, demi Allah, sesungguhnya tadi telah terbetik dalam hatiku pohon yang dimaksud Rasulullah Saw itu adalah pohon kurma.” ‘Umar bertanya, “Mengapa kamu tidak mengatakannya?” Aku menjawab, “Aku lihat kalian tidak ada yang berbicara, maka aku pun enggan berbicara atau mengatakan sesuatu.” ‘Umar berkata: “Sungguh, bila engkau mengatakannya, pasti aku lebih senang daripada begini dan begitu.”

Dari susunan kalimat pada ayat di atas tampak bahwa orang-orang mukmin itu seperti sebuah pohon yang selalu berbuah pada setiap waktu, pada musim panas dan musim dingin, baik pada malam hari maupun pada siang hari. Amal perbuatan mereka senantiasa diangkat oleh Allah di sepanjang malam dan di penghujung siang pada setiap waktu, setiap saat. Dengan seizin Rabb-nya, buah keyakinan tauhid orang-orang mukmin itu sungguh sempurna, lebat, bagus dan penuh berkah. Semua perumpamaan itu sengaja dibuat oleh Allah agar manusia selalu ingat.

Dari sudut pandang ini, merdeka dan kemerdekaan ibarat buah kurma, lezat dan berkhasiat. Tegasnya, jiwa merdeka atau kemerdekaan merupakan buah dari pohon tauhid yang menjulang tinggi ke langit dalam kehidupan manusia seantero jagad.

***

Merdeka adalah bebas dari perhambaan atau penjajahan, berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat atau tidak bergantung kepada orang atau pihak lain, dan dalam batas tertentu memiliki keleluasaan
atau dapat berbuat sekehendak hati-nya. Kemerdekaan berarti suatu kondisi setiap manusia yang di dalamnya orang memiliki kebebasan, keleluasaan menentukan diri sendiri, dan tidak terikat dengan apa pun dan siapa pun.

Berabad jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, Jean Jacques Rousseau (filosof berkebangsaan Perancis, wafat 1778) mengemukakan pemikiran filosofisnya bahwa pada kondisi alami (state of nature), manusia memiliki kebebasan mutlak: bebas melakukan apa pun yang dikehendaki. Kebebasan menurutnya adalah determinan yang membuat manusia menjadi manusia alami”. Pemikiran yang disusul de-ngan ide-idenya mengenai pentingnya kontrak sosial dalam bentuk negara itu telah mengejutkan banyak orang. Tidak mengherankan bila di kemudian hari, pemikiran Rousseau dinilai menjadi pendorong munculnya Revolusi Perancis. “Kesetaraan, kebebasan, persaudaraan” menjadi kata kunci yang memiliki tuah dalam melahirkan sejarah negara dan teori politik Barat.

Sejalan pengertian harfiah ini, alinea pertama Pembukaan UUD 1945 dengan tandas menegaskan bahwa “sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perike-adilan”.

Bagi Bung Karno, seperti dikutip banyak pakar, kemerdekaan adalah kebebasan untuk merdeka. Setiap bangsa merdeka harus mempunyai kebebasan untuk menentukan diri dan merumuskan konsepsi nasional dirinya sendiri tanpa dihalang-halangi oleh tekanan-tekanan atau campur tangan luar. Kemerdekaan nasional adalah suatu kebebasan untuk menjalankan urusan politik, ekonomi, dan sosial kita sejalan dengan konsepsi nasional kita sendiri.

Setelah menimbang bahwa penga-kuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan, dan perdamaian di dunia dan seterus-nya, Perserikatan Bangsa Bangsa pun mengeluarkan Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia. Pasal 1 dalam Pernyataan tersebut menegaskan “Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan”.

Baca selanjutnya di Rubrik Kalam, Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 8 Agustus 2019, hal 9-10

Sumber ilustrasi : https://www.wallpaperkeren.pro/2016/06/unduh-93-wallpaper-allah-gratis-terbaru.html

Leave a Reply