Memilih Pendidikan Terbaik bagi Anak

Berita 28 Agu 2021 0 93x

Gaca Wujud Aisyiyah Peduli Anak

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Jum’at (27/8), akun Instagram @tentanganakofficial mengadakan siaran langsung yang mengusung tema “Kapan dan di Mana Anakku Harus Sekolah?”. Kegiatan itu menghadirkan Orissa Anggita Rinjani (Psikolog Pendidikan dan Co-founder Rumah Dandelion) dan Grace Melia (Founder dari Rumah Ramah Rubella) sebagai narasumber.

Mengawali diskusi, Orissa menjelaskan bahwa pada dasarnya sekolah bukanlah sesuatu yang “wajib”. Menurutnya, orang tua punya hak untuk memilih home schooling. “Tapi yang perlu dicatat, sebenarnya anak tetap harus mendapat stimulasi dan pendidikan,” jelasnya.

Pilihan untuk memberikan anak pendidikan –baik pendidikan formal maupun nonformal–, menurutnya, tentu berkaitan erat dengan sumber daya dan pertimbangan masing-masing keluarga. Misalnya, jika target yang diinginkan sudah dapat tercapai dengan home schooling, artinya tidak menjadi soal ketika sang anak tidak mendapatkan pendidikan formal.

Sementara itu, Grace menjelaskan bahwa sekolah online bagi anak usia dini tidak harus dilakukan dan menjadi pilihan orang tua. Dengan catatan, orang tua harus menjaga interaksi dengan anak secara aktif dan positif. Tidak dengan memberikan gawai kepada anak karena alasan pandemi, sebab hal tersebut bukan merupakan sebuah solusi.

Baca Juga: Upaya Mewujudkan Pendidikan Dasar untuk Semua

Banyak orang tua yang berpikiran bahwa bermain merupakan kegiatan yang tidak produktif dan membuang-buang waktu. Menurut Grace, bermain sebenarnya mempunyai banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak, salah satunya ialah mengenali apa yang dirinya mau. Anak jangan selalu didikte untuk melakukan sesuatu. Orang tua tetap perlu menanamkan rutinitas, meskipun tentu anak harus mengetahui kapan waktunya ia bermain dan kapan waktunya ia belajar.

Orissa menambahkan bahwa pondasi pendidikan pada anak sebenarnya sudah bisa dibangun sejak anak bayi dan dibentuk di rumahnya masing-masing sebagai bentuk rutinitas harian yang dilakukan anak dan orang tua. Bahkan hanya dengan bermain 3 menit saja, menurutnya, sudah termasuk sebagai rutinitas, karena ketika bermain, anak akan mengeksplornya kemudian mainannya dikembalikan dan ia mengganti mainan lainnya.

“Aku lebih tertarik ke pertimbangan orang tuanya untuk memasukan ke sekolah itu apakah hanya atas kaca mata orang tua atau juga melihat anak ini sepertinya siap dan memang butuh simulasi dan cocok di sekolah ini,” ujar Grace.

Menurutnya, kebutuhan anak harus terpenuhi dan harus disesuaikan, jadi bukan karena orang tua yang ingin anaknya seperti ini dan begini. Grace menyayangkan masih banyak orang tua yang punya pikiran bahwa apa yang mereka pikir dan pilih adalah yang terbaik untuk anak. (fathia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *