Memimpin dengan Panduan Al-Quran

Kalam 3 Sep 2021 0 44x
Al-Quran

Al-Quran (foto: iStockphoto)

Oleh: Muhsin Hariyanto

Banyak orang yang masih bertanya: “adakah pemimpin ideal saat ini?” Seandainya ada, siapakah dia? Dan bagaimana seharusnya seseorang pemimpin menjalankan tugas kepemimpinannya? inilah pertanyaan penting yang harus segera dijawab.

Wacana kepemimpinan saat ini memang selalu mengedepankan sederet pertanyaan seperti itu. Penyebabnya, menurut sebagian pengamat, adalah: banyak pemimpin dalam berbagai bidang kepemimpinan, utamanya kepemimpinan politik yang dianggap ‘gagal’ dalam menjalankan amanah kepemimpinannya. Banyak di antara mereka yang ‘tengah’ terlibat berbagai pelanggaran moral. Sehingga, banyak orang yang bersikap pesimis, apatis, dan terkesan berputus asa untuk berharap lahirnya pemimpin ideal, utamanya ‘pemimpin yang berakhlak mulia’.

Beberapa kali penulis membaca dalam kajian Fikih Politik Islam prinsip akhlak terpuji (mabda’ al-akhlâq al-karîmah) yang ‘seharusnya’ menjadi acuan utama para pemimpin untuk berkiprah dalam dunia kepemimpinan. Dalam kajian itu, antara lain dinyatakan oleh para ulama, bahwa dasar kebijakan dan tindakan para pemimpin adalah “kemaslahatan umat”, yang dalam Kaedah Fikih disebut dengan kalimat: tasharruf al-imâm `alâ al-ra`iyyah manûthun bi al-mashlahah (tindakan pemimpin atas rakyat seharusnya selalu berorientasi pada kepentingan atau kemaslahatan [rakyatnya]).

Pemimpin –dalam tugas kepemimpinannya– harus bertindak tegas demi kebaikan rakyat yang dipimpinnya, bukan (justru) menzalimi rakyat untuk kebaikan diri dan kelompoknya. Tetapi, kenyataannya saat ini yang banyak terjadi justru ‘sebaliknya’. Tidak sedikit pemimpin, atau lebih tepat dikatakan ‘orang yang memposisikan dirinya sebagai pemimpin, berakhlak tercela dengan menampilkan perilaku yang banyak merugikan orang-orang yang mereka pimpin, karena kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Baca Juga: Kriteria Pemimpin yang Baik

Kaedah tasharruf al-imâm `alâ al-ra`iyyah manûthun bi al-mashlahah, menurut para ulama, diturunkan dari prinsip akhlak kepemimpinan Rasulullah saw., seperti yang disebutkan di dalam al-Quran. Dan, menurut pendapat mereka, paling tidak bisa ditemukan tiga karakteristik kepemimpinan Rasululullah saw. yang didasarkan pada al-Quran. Rasulullah saw. adalah pribadi yang sangat mampu untuk berempati, selalu berperan sebagai kreator, inovator, dan motivator dan sangat mencintai umatnya. Sebagaimana yang – antara lain — tersebut dalam QS. al-Taubah [9]: 12,

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Artinya, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.

Dalam ayat tersebut dinyatakan, pertama, beliau memiliki karakter azîzun ‘alaihi mâ ‘anittum (berat dirasakan olehnya –sebagai pemimpin– penderitaan orang lain yang dipimpinnya). Dalam bahasa modern, sifat ini disebut sense of crisis, yaitu kepekaan atas kesulitan rakyat yang ditunjukkan dengan kemampuan berempati dan simpati kepada pihak-pihak yang kurang beruntung.

Kedua, harîshun `alaikum (amat sangat berkeinginan agar orang lain merasa tenang, aman, nyaman, nikmat dan sentosa). Dalam bahasa modern, sifat ini dinamakan sense of achievement, yaitu semangat yang menggebu-gebu agar masyarakat dan bangsa yang dipimpinnya meraih kemajuan. Ketiga, raûfun rahîm (pengasih dan penyayang Rasulullah saw. seseorang yang berkarakter pengasih dan penyayang.

Bagi kita (baca: umat Islam), tiga panduan akhlak Rasulullah saw. ini wajib hukumnya untuk kita miliki. Karena, tanpa ketiga panduan akhlak ini, seorang pemimpin tidak akan mampu bekerja dengan baik dan benar untuk kepentingan rakyatnya, bahkan bisa jadi ‘dia’ hanya akan bekerja untuk kepentingan diri dan kelompoknya saja, karena dirinya tidak pernah sadar akan posisinya sebagai Khâdim al-Ummah (Pelayan Umat). Dan, bahkan –karena ketidaksadarannya– ‘dia’ akan selalu minta dilayani.

Seorang pemimpin yang tak cukup memiliki jiwa kepemimpinan, akan sulit menerima kritik dari rakyatnya, dan bahkan bisa jadi menganggap para kritikusnya sebagai ‘ancaman’ bagi dirinya. Akibatnya, dia akan bersikap suuzhan (berperasangka negatif) kepada rakyatnya yang kritis, dan lebih senang kepada para ‘pengikut setianya’, yang boleh jadi ‘mereka’ adalah para ‘penjilat’-nya.

Oleh karena itu, betapa pentingnya panduan moral kepemimpinan Rasulullah saw. seharusnya dimiliki oleh para pemimpin kita, termasuk di dalamnya di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah, agar kita bisa memberi manfaat yang optimal kepada umat yang kita pimpin.

Nah, ketika Rasulullah saw. telah mampu membuktikan keberhasilannya dalam memimpin dengan panduan al-Quran, kini saatnya kita berittiba’ kepada beliau, memimpin dengan semangat al-Quran, di mana pun, kapan pun, dan dalam ranah kepemimpinan apapun.

Ibda’ bi nafsik!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *