Memperkuat Keluarga dengan Komunikasi Takarum (Saling Memuliakan)

Kalam 11 Jun 2021 0 50x
Keluarga Sakinah

Keluarga Sakinah

Oleh: Hibana Yusuf

Keluarga yang kokoh diawali dari pernikahan yang sah. Pernikahan merupakan pijakan pembentukan keluarga sakinah. Pernikahan dalam Islam adalah ibadah. Berarti membangun sebuah keluarga berlandaskan nilai-nilai keislaman juga merupakan ibadah. Keluarga merupakan pilar kehidupan masyarakat, bahkan negara.

Membangun keluarga berarti menyatukan dua individu dan dua keluarga yang berbeda untuk mewujudkan cita-cita mulia. Keluarga adalah bangunan terkecil dalam struktur sosial. Membangun rumah tangga bukanlah sesuatu yang sederhana. Bahkan merupakan bangunan yang berlandaskan pada ikatan perjanjian yang amat kokoh sebagaimana firman Allah dalam QS. an-Nisa [4]: 21, yang artinya:   “…dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kokoh”.

Membangun keluarga bukan sekadar menghalalkan sesuatu yang sebelumnya diharamkan. Namun ada tujuan mulia yang dapat diwujudkan, antara lain: Pertama, melestarikan kehidupan manusia. Allah menciptakan makhluknya berpasangan. Manusia diberi fitrah untuk mencintai dan menyayangi. Melalui fitrah yang dianugerahkan Allah itulah kehidupan ini akan lestari.

Baca Juga: Aspek-aspek yang Harus Dipenuhi dalam Membina Keluarga Sakinah

Kedua, mewujudkan ketenangan dan cinta kasih. Sebagaimana firman Allah dalam QS. ar-Rum [30]: 21, “..dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” Pasangan hidup adalah sumber ketenangan dan kasih sayang, bukan  kebencian dan permusuhan.

Ketiga, kualitas hidup manusia menjadi bermartabat. Karena dengan naungan keluarga itulah kesucian diri akan terjaga. Manusia bukanlah makhluk yang memiliki kebebasan tanpa aturan seperti binatang. Allah memberikan aturan kehidupan untuk menjaga martabat kemanusiaan. Manusia yang tidak mampu menjaga martabat kemanusiaan dan hanya mengumbar hawa nafsu maka martabatnya akan jatuh, bahkan lebih rendah dari binatang.

Keempat, aktualisasi potensi diri. Potensi untuk bertanggung jawab, melindungi, menyayangi dan mengelola rumah tangga dapat diwujudkan dalam mahligai rumah tangga yang telah dibangun bersama. Dengan beban tanggung jawab yang semakin besar, seseorang tertantang untuk bekerja lebih keras dan berusaha lebih serius.

Baca Juga: Prinsip al-Musawa dalam Pernikahan

Tujuan yang sungguh mulia di atas dapat terwujud bila kehidupan dalam keluarga berjalan baik, bersinergi, saling melengkapi, saling menguatkan, memotivasi, dan mengingatkan. Komunikasi menjadi salah satu kunci keharmonisan rumah tangga. Baik tidaknya sebuah keluarga, sangat dipengaruhi oleh baik tidaknya komunikasi yang ada di dalamnya. Kunci komunikasi adalah kepercayaan. Kunci kepercayaan adalah komitmen untuk dapat  dipercaya.

Komunikasi seharusnya menjadi kebutuhan bersama agar visi dan tujuan dalam berkeluarga dapat terwujud. Komunikasi efektif tidak hanya dengan pasangan saja, yakni suami istri. Namun anak-anak juga membutuhkan komunikasi langsung dari hati ke hati dengan orang tuanya. Bahkan juga anggota keluarga lain yang tinggal dalam satu rumah, seperti nenek/kakek, kemenakan, dan sebagainya. Komunikasi langsung menjadi sangat penting dalam kehidupan berkeluarga. Seseorang mampu bersosialisasi secara baik dengan orang lain di luar keluarga, maka alangkah bijaksananya jika ia juga mampu meluangkan sedikit waktu yang berharga untuk mencurahkan perhatian kepada keluarganya.

Dalam kondisi tertentu mungkin ada anggota keluarga yang terpisah. Karena alasan  pendidikan, pekerjaan atau tugas penting lainnya. Di saat kondisi tidak memungkinkan untuk melakukan komunikasi secara langsung, maka komunikasi jarak jauh tetap harus dilakukan. Walau tidak seefektif komunikasi secara langsung, namun interaksi yang dilakukan akan tetap memberi manfaat bagi kokohnya sebuah keluarga.

Family Time

Dalam rangka mewujudkan keluarga yang sakinah dan harmonis, ‘Aisyiyah membangun gerakan Family Time. Program Family Time adalah komitmen meluangkan waktu bersama keluarga. Setiap orang yang membangun mahligai rumah tangga pasti menginginkan terwujudnya keluarga yang harmonis, sakinah, saling menghargai, dan saling melengkapi. Dalam kenyataannya memang tidak mudah untuk mewujudkan hal tersebut. Dibutuhkan kedewasaan, pengetahuan, dan pengorbanan dari kedua belah pihak untuk dapat mewujudkan cita-cita bersama. Harmoni dalam keluarga menjadi impian untuk dapat diwujudkan.

Ismed Yusuf, seorang psikiater mengatakan bahwa keluarga yang harmonis ditentukan oleh tiga indikator, yakni makan bersama, ibadah bersama, dan santai bersama.  Tiga hal tersebut akan menciptakan hubungan dan komunikasi yang positif dalam keluarga. Sehingga ketika terjadi persoalan dalam keluarga akan bisa saling menguatkan. Guna mewujudkan keluarga yang harmonis maka perlu ada komitmen untuk meluangkan waktu bersama, sehingga terbangun hubungan keluarga yang positif.

Baca Juga: Beginilah Makna Keluarga Sakinah Menurut ‘Aisyiyah

Di era teknologi saat ini, tantangan kehidupan semakin kompleks. Budaya keluarga diwarnai dengan kondisi orang tua yang serba sibuk. Maka  tidak mudah bagi orang tua untuk meluangkan waktu guna santai bersama. Anak yang sedang sekolah atau kuliahpun dibebani tugas-tugas yang amat padat. Walau begitu kebersamaan secara fisik tetap harus diusahakan. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melaksanakan tugas atau aktivitas masing-masing dalam satu forum keluarga. Sehingga tetap bisa terjalin komunikasi tanpa jarak.

Inti dari beberapa kegiatan yang digambarkan di atas adalah komunikasi. Antar anggota keluarga dapat berkomunikasi dengan saling mengingatkan, saling menguatkan, saling memotivasi, dan saling berdiskusi. Jalinan komunikasi yang baik menjadi pilar yang kokoh dalam membangun keluarga yang harmonis. Jadi kegiatan yang dilakukan dalam program family time adalah makan bersama, ibadah bersama, santai bersama, aktivitas bersama, dan komunikasi bersama.

Komunikasi, Kunci Harmonisasi Keluarga

Dalam berkomunikasi perlu dibangun hubungan saling menghargai, saling memuliakan, saling memahami, saling menyemangati, dan saling mengisi. Manusia dilengkapi dengan dua telinga dan satu lisan. Oleh karena itu, dalam berkomunikasi perlu lebih banyak mendengar daripada bicara. Mendominasi pembicaraan bukanlah keunggulan. Menjadi pendengar aktif merupakan sikap yang lebih bijaksana. Apalagi ada anak dalam forum komunikasi keluarga. Maka anak yang harus lebih diutamakan untuk didengar. Di sini, anak menjadi pusat komunikasi.

Bila komunikasi dalam keluarga dapat terbangun dengan baik maka manfaat yang diperoleh amatlah besar antara lain: Pertama,  mempererat hubungan kekeluargaan. Kedekatan ayah, ibu, dan anak tidak menjamin eratnya hubungan kekeluargaan. Banyak kasus terjadi perselisihan antara ayah dan ibu hingga terjadi perceraian, anak yang membenci orang tuanya, anak yang bertengkar dengan saudaranya, dan sebagainya. Jalinan komunikasi yang baik akan membangun hubungan keluarga yang harmonis.

Kedua, mencari solusi bila ada permasalahan. Perjalanan hidup pasti tidak lepas dari batu sandungan, rintangan dan berbagai cobaan. Keluarga mestinya menjadi orang pertama yang bisa merasakan. Oleh karena itu, komunikasi dalam keluarga bisa memberikan solusi dan mencegah permasalahan lebih melebar.

Ketiga, saling mendukung, memotivasi dan menguatkan. Setiap manusia memiliki potensi untuk dapat dikembangkan. Melalui komunikasi yang baik maka anggota keluarga bisa saling memberikan dukungan, penguatan dan motivasi untuk  pengembangan diri. Apalagi anak yang masih berproses membangun karakter pribadi. Maka dukungan keluarga, terutama dari orang tua sangat dibutuhkan.

Baca Juga: Komunikasi dan Keterbukaan Kunci Keluarga Sakinah

Keempat, membangun kehangatan dan keceriaan bersama. Pribadi terdekat bagi seseorang adalah keluarga karena ada hubungan darah yang mengalir dalam dirinya. Keluarga adalah sumber kehangatan dan kebahagiaan. Hal itu dapat diwujudkan dengan komunikasi yang sejalan. Mutiara dalam keluarga dapat dibangun dan diwujudkan dengan saling memberikan dukungan, semangat dan harapan.

Kelima, membangun karakter yang baik. Keluarga adalah madrasah pertama bagi anak. Fondasi untuk membentuk kepribadian dan karakter anak di usia selanjutnya. Komunikasi yang baik dalam keluarga menjadi pelajaran yang tak ternilai. Anak akan terlatih untuk lebih terbuka, empati, dan peduli pada orang lain.

Inti dari kekuatan nilai dalam keluarga adalah kebahagiaan. Kebahagiaan sejati sesungguhnya tidak hanya diukur dari kecukupan materi,  namun ketenangan, kedamaian, dan kehangatan sejati dalam berkeluarga. Hal itu dapat diperoleh dari terjalinnya komunikasi yang saling memuliakan. Tidak ada pihak yang terabaikan dan direndahkan, saling berbagi dalam kebersamaan. Komunikasi dengan keluarga akan terjaga jika hubungan dengan Sang Khaliq juga dilakukan dengan baik. Kebahagiaan tercipta melalui kokohnya keluarga yang berlandaskan pada lurusnyanya aqidah dan kekuatan ibadah. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan