Lensa Organisasi

Mempersiapkan Kader Pengganti

logo aisyiyah

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Kak ‘Aisy yang saya hormati.

Sebagai seorang yang sudah dua periode diberi amanah sebagai ketua di sebuah Ranting, ke depan, saya mencita-citakan Ranting kami lebih maju dan banyak kegiatannya. Saya mengamati jamaah saya di Ranting. Menurut pan­dangan saya, ada beberapa yang bagus. Ada yang rajin menghadiri dan mengikuti setiap kegiatan, meskipun orangnya hampir tidak punya ide ataupun sekadar berpendapat.

Selain itu, ada yang banyak memiliki ide, tetapi setelah sampai pada pembagian kerja, boleh dikatakan tidak pernah muncul. Nah, ada seorang yang masih muda, cerdas, rajin, dan akhlaknya bagus. Sayangnya, saya melihat pengamalan agamanya masih kurang.

Misalnya, dalam kegiatan Baitul Arqam selama dua hari, salatnya biasa saja, tidak menambah shalat sunah lainnya. Tadarus al-Qurannya juga kurang, meski saya pernah mendengar bacaan al-Qurannya cukup lancar. Apakan tipe yang terakhir ini bisa kita usulkan jadi Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah?

Kami mohon Kak ‘Aisy memberikan pencerahan kepada saya. Atas jawaban Kak ‘Aisy, saya menyampaikan terima kasih.

Wassalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Nursyamsyi

 

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

Ibu Nursyamsi yang saya sayangi.

Alhamdulillah, Ibu telah mempersiapkan kaderisasi dengan melakukan secara penjaringan dan penyaringan formal melalui Baitul Arqam, serta pengamatan dari dekat terhadap orang-orang yang akan dicalonkan pada periode mendatang. Sifat kepemimpinan dalam ‘Aisyiyah itu adalah kolektif kolegial yang menuntut tanggung jawab bersama di antara pimpinan.

Sisi positif dari kolektif kolegial, pelaksanaan tugas dan kewajiban tidak menggantungkan pada satu atau dua orang saja, atau yang kemudian mendominasi kepemimpinan terpusat pada satu dua orang tersebut, tetapi dapat melakukan pembagian kerja yang proporsional. Dengan demikian, kolektivitas pimpinan meliputi orang-orang yang memiliki berbagai latar belakang kemampuan. Oleh karena itu, kekurangan seseorang dapat ditutup oleh kelebihan yang lain.

Perihal apabila ada anggota yang kurang dalam pengamalan agamanya, dapat dilakukan pembinaan selama menunggu waktu acara Musyawarah Ranting (Musyrant) yang akan dilakukan pemilihan pimpinan. ‘Aisyiyah adalah Gerakan Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Itulah sebabnya harus digerakkan oleh muslimah yang dapat menjadi teladan di masyarakat.

Dalam ART ‘Aisyiyah juga sudah diatur dalam Pasal 17 ayat (1) dan ayat (2) tentang syarat Anggota Pimpinan yakni taat beribadah, mengamalkan syariat Islam, serta dapat membaca al-Quran. Kalau yang bersangkutan mungkin sudah melakukan salat wajib tetapi belum menambah salat sunnah lainnya, atau dapat membaca al-Qur’an tetapi tidak melaksanakan tadarus, mungkin hanya persoalan pembiasaan. Dalam hal ini, masih dapat dilakukan pembinaan.

Pembinaan dapat meliputi tiga hal. Pertama, memperkuat akidah, menghindari taklid, dan khurafat. Sebab, muslimah yang kuat akidah dan tauhidnya akan menjadi pribadi yang taat, saleh secara sosial, dan menjauhi perbuatan maksiat. Akidah dan tauhid yang terpatri kuat menjadi motivator utama untuk senantiasa menghiasi diri dengan berbagai amal kebajikan dengan berlomba-lomba dalam meningkatkan amal saleh.

Kedua, menguatkan ukhuwah. Ketika Rasulullah saw. Hijrah dari Makkah ke Madinah, hal utama yang beliau lakukan adalah membangun masjid serta mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Hal ini dianggap penting agar mereka dapat saling membantu. Nah, jalinan persaudaraan dan kebersamaan dalam suatu pimpinan yang kolektif dan kolegial sangat diperlukan untuk menjaga keharmonisan gerak dan langkah dalam memajukan organisasi.

Ketiga, menguatkan semangat ibadah. Ibadah dalam pandangan ulama tauhid, mencakup semua perbuatan yang disukai dan diridhai Allah, baik dilakukan secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, melalui lisan ataupun perbuatan. Dari penjelasan ringkas tersebut, ternyata ibadah memiliki ruang lingkup yang sangat luas, baik ibadah yang bersifat mahdhah yang terkait dengan hablu minallah, maupun ibadah yang sifatnya ghairu mahdhah yang lebih ke arah hablu minannas.

Semuanya harus berlandaskan rasa keikhlasan. Al-Quran telah menegaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk mengabdi kepada Allah Swt. (Q.S. adz-Dzariyat: 56). Mengikhlaskan seluruh aktivitas berorganisasi dan bermasyarakat sebagai bagian dari ibadah merupakan bagian dari cara untuk mendapatkan ridha Allah (al-Bayyinah: 5).

Memang, tidak mungkin mencari orang yang sempurna. Lebih baik kita mendapatkan orang yang mau maju dan mau belajar, sehingga mudah untuk beradaptasi dengan posisi dirinya sebagai penerima amanah atau pemimpin. Semoga ikhtiar pembinaan dalam penguatan akidah, membangun ukhuwah, dan semangat menjalankan ibadah, dapat menjadikan pribadi seorang pemimpin yang dapat menjadi teladan di masyarakat.

Selamat mencoba.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

(Bunda Imah)

Related posts
Wawasan

Kaderisasi: Sebuah Sentuhan yang Tak Lekang oleh Waktu

Oleh:.Deny Ana I’tikafia* Dalam sebuah pergerakan dimanapun berada, penting sekali adanya kaderisasi yang merupakan ujung tombak dari semua angan bahkan cita-cita mulia…
Berita

PCA Tahunan Jepara Rencanakan Kaderisasi Sejak Dini

Jepara, Suara ‘Aisyiyah – Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Tahunan, Jepara mengadakan rapat pleno rutin yang dilakukan setiap satu bulan sekali. September ini,…

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *