Gaya HidupKesehatan

Menanamkan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi kapada Remaja

Ilustrasi Pendidikan Seksual

Ilustrasi Pendidikan SeksualOleh: Nurul Soimah

Kondisi kesehatan dan tumbuh kembang masa remaja seringkali berhadapan dengan situasi dilematik yang berdampak pada kurangnya stabilitas emosi dan kejiwaan. Masa ini merupakan masa di mana remaja banyak melakukan trial dan pembuktian diri dari pemenuhan kebutuhan dasar manusia, namun terkadang bisa lepas kontrol dengan ego yang dimiliki. Di sinilah peran pengetahuan dan pendampingan serta pengawasan orang tua diperlukan.

Sebagai contoh adalah remaja yang merasa tertarik dengan lawan jenis. Perasaan itupun bagaikan gayung bersambut ke pihak pasangan yang pada akhirnya terjadilah hubungan yang belum semestinya. Situasi tersebut bisa terjadi salah satunya karena pengaruh kebiasaan remaja menonton video yang bisa saja didapatkan lewat teknologi internet, kapan saja dan di mana saja selama mereka ada kesempatan.

Peran Orang Tua

Menjadi orang tua tentu saja memiliki tanggung jawab yang cukup besar. Perlu menjadi perhatian kita bahwa orang tua memiliki peran pada konsep perkembangan perilaku remaja sebagai pendamping dan konselor, namun pada kenyataannya tidaklah semudah itu bisa dijalani. Hal tersebut disebabkan banyaknya masalah yang mengintai di sekitar kehidupan dan tumbuh kembang ramaja, di antaranya yaitu masalah fisik, psikologis, serta gizi sebagai pendukung perkembangan.

Seperti yang kita ketahui bahwa remaja putri bisa mengalami anemia, kurang gizi karena pola diet yang tidak tepat, serta masalah gangguan menstruasi. Sementara pada remaja putra permasalah yang didapatkan adalah kenakalan, seperti tawuran, mengkonsumsi minuman keras dan obat terlarang, melakukan seks bebas. Semua bentuk kenakalan dan permasalahn tersebut kadang dilakukan hanya karena mencoba (trial), namun resikonya tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya.

Berbicara masalah gangguan dan penyimpangan anak pada masa remaja seperti yang dipaparkan menurut Depkes RI tahun 2018 bahwa pada masa remaja secara fisik tampak seperti orang dewasa, namun secara emisional psikologi belum matang. Tentu saja kondisi ini masih memerlukan pembinaan, arahan, dan motivasi yang bersifat tidak menggurui, namun lebih kepada pendekatan seperti hubungan pertemanan dari gaya jalinan ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak. Meskipun begitu, kita pada dasarnya harus tetap optimis karena remaja masih bisa dibina melalui peningkatan pengetahuan seputar masalah kesehatan reproduksinya melalui parenting antara orang tua dan anak remaja itu sendiri.

Berikut adalah cara pencegahan masalah kesehatan reproduksi remaja yang perlu diketahui oleh orang tua serta remaja melalui parenting di antaranya adalah:

Pengetahuan tentang Kesehatan Reproduksi

Pengetahuan menjadi hal yang diperlukan agar pada masa pertumbuhan dan perubahan yang terjadi pada siklus kehidupan remaja putri maupun putra bisa dipahami dan dilalui dengan baik tanpa ada kebingungan (Mansur & Budiarti, 2014). Meskipun demikian, kita harus senantiasa optimis bahwa remaja masih bisa kita didik dan diarahkan dengan benar sehingga tidak lagi kita temukan segala bentuk penyimpangan di lingkungan kita dalam skala kecil dan masyarakat dalam skala besar.

Tentunya perlu adanya peran tenaga kesehatan agar terus menggiatkan kegiatan melalui penyuluhan di masyarakat, khusunya remaja sebagai sasaran. Harapannya agar paham betul seperti apa sih remaja sehat dan bagaimana sih remaja harus bersikap dan berperan mendukung upaya kesehatan, sehingga tercipta generasi penerus yang sehat secara holistik, baik bio, psiko social, maupun spiritual.

Baca Juga: Mengenal Kekerasan Berbasis Gender Online

Apa itu kesehatan reproduksi remaja? Yakni suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi, dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Seperti yang kita ketahui bahwa batas usia remaja adalah 10-19 tahun. Pada batasan tersebut, remaja banyak mengalami perubahan, seperti lebih dekat dengan teman sebaya, ingin bebas, lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya, dan mulai berpikir abstrak, mencari identitas diri, timbulnya ketertarikan dengan lawan jenis, serta mengembangkan kemampuan berpikir abstrak.

Menjadi penting dan perlu kita pahamkan agar remaja mengetahui bahwa secara fisik akan terjadi perubahan, seperti tinggi badan, tumbuh bulu-bulu halus di sekitar alat kelamin dan ketiak, payudara membesar, rongga panggul melebar, haid pertama/menarche. Selain itu remaja putrapun akan mengalami perubahan fisik, seperti tinggi badan, tumbuh bulu-bulu halus di sekitar alat kelamin dan ketiak, testis membesar, suara membesar, dan mimpi basah.

Perubahan ini akan diikuti pula oleh perubahan psikologis yang meliputi tertarik pada lawan jenis, kecemasan, lebih perasa, ingin menonjolkan diri dan diperhatikan, serta mudah sedih dan marah.

Lalu apa yang bisa dipraktikkan oleh remaja tentang menjaga kesehatan reproduksi sehat? Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah tidak melakukan seks bebas, merawat kebersihan organ reproduksi, membersihkan alat kelamin dengan cara yang benar, mencegah dan menghindari pernikanan dini atau menikah di usia kurang dari 20 tahun, melakukan sadari rutin bagi remaja putri, serta beribadah dengan taat menjalankan syariat agama yang dianut.

Bagaimana cara merawat kebersihan organ reproduksi? Bagi remaja putri, cara yang dilakukan adalah sebagai berikut: tidak memerlukan banyak sabun, bersihkan dari depan ke belakang, bersihkan lipatan kulit setelah BAK, keringkan setelah BAK, jangan menyemprot parfum ke alat kelamin, ganti celana dalam minimal 2x sehari atau lebih bila basah, lakukan sadari secara rutin sebagai langkah preventif deteksi dini kanker payudara

Sementara bagi remaja putra adalah: bersihkan alat kelamin setelah buang air, pakai celana dalam dan luar yang tidak ketat, cuci tangan sebelum dan sesudah BAK.

Gizi Remaja

Pola menu makan dengan gizi seimbang sangat diperlukan dalam masa pertumbuhan remaja, apalagi jika remaja putri sedang dalam masa menstruasi. Seperti yang kita tahu bahwa setiap bulan seorang remaja putri akan mengalami satu siklus menstruasi normal. Oleh karenanya, peran gizi seimbang akan sangat membantu agar selama masa menstruasi remaja tidak mengalami penurunan kadar hemoglobin dalam darah. Contoh berikutnya dalah menu seimbang untuk 1 porsi. Susunan gizi seimbang yang diperlukan adalah harus memenuhi unsur karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan serat.

Ada beberapa manfaat dari gizi seimbang remaja. Sesuai dengan yang direkomendasikan oleh IDAI bahwa remaja sebagai masa golden age ke-2 sangat memerlukan gizi yang seimbang. Hal tersebut dikarenakan semua organ tubuhnya terus mengalami perubahan dan kebutuhan seiring dengan meningkatnya usia seseorang. Hal tersebut menjadi penting untuk diketahui tentang manfaat dari pemenuhan gizi seimbang, di antaranya adalah: (a) membantu meningkatkan daya tahan tubuh; (b) memaksimalkan pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta organ reproduksi remaja; (c) memberikan cukup cadangan zat gizi dalam tubuh agar tak mudah sakit; (d) mencegah serangan berbagai penyakit yang bisa disebabkan oleh makanan, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, osteoporosis, dan kanker, dan; (e) mendorong agar anak mau menerapkan kebiasaan makan dan gaya hidup sehat.

Related posts
Sosial Budaya

Mengapa Pendidikan Kesehatan Reproduksi Penting?

Oleh: Tri Hastuti Nur R Siklus kehidupan manusia sangat dekat dengan reproduksi, mulai dari pubertas remaja, menstruasi, mimpi basah, kehamilan, kelahiran, menyusui,…
Gaya HidupParenting

Pendidikan Seksual Menurut Islam

Masih banyak masyakarat Indonesia yang memandang pendidikan seksual sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan, apalagi dengan anak. Banyak dari orang tua memilih…
Berita

Webinar LPPA Kalbar #1: Mengkaji Kesehatan Reproduksi dari Perspektif Kesehatan dan Agama

Kalimantan Barat, Suara ‘Aisyiyah – Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) bekerja sama dan bersinergi dengan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Provinsi Kalimantan…

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.