Mencegah dan Mewaspadai Anak Terpapar LGBT

Parenting 19 Jul 2020 0 201x

Oleh : Pihasniwati (Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga, Wakil Ketua Penggiat Keluarga Indonesia Wilayah DIY)

Seorang lelaki yang tinggal di masjid  sangat tertarik pada teman marbotnya dan kemudian berhubungan badan. Keduanya menjadi marbot sambil menyelesaikan kuliah di Masjid dekat kampus. Selama ini hasrat seksual mereka, dilampiaskan dengan  melihat video seks gay. Sempat beberapa kali  mendatangi komunitas gay, namun selalu menyisakan rasa bersalah dan berdosa. Kecenderungan ini bermula saat ia lulus SD. Keluarganya tergolong miskin. Kedua orang tuanya sibuk bekerja di pasar dan tidak punya waktu mengawasi ia dan adiknya. Seorang remaja SMP dari desa tetangga sering menemaninya menonton televisi saat ayah ibunya bekerja. Mengajaknya melihat video porno dan akhirnya mensodominya. Ini menjadi pengalaman seks pertama baginya. Pendekatan yang pelan-pelan dan menyenangkan, terlebih saat ia merasa kesepian membuat ia menyukai aktivitas seksual tersebut.

Kisah lain yang lebih sederhana. Gadis perempuan manis, yang duduk di kelas 3 SD ini sejak kecil tak segan menggunting boneka-boneka barbienya dan tak peduli dengan mainan masak-masakannya yang hilang. Tetapi merawat dengan baik mainan robot dan pedang-pedangannya.  Jika membeli perlengkapan sekolah, seleranya pada model dan motif yang khas anak cowok. Ibunya bercerita, sejak ia hamil, suaminya menginginkan dan mengangankan anak lelaki. Tidak beruntung, karena terlahir anak perempuan. Namun ayahnya kerap memperlakukannya seperti anak lelaki, membelikan baju bola, mainan anak lelaki hingga melakukan aktifitas khas lelaki bersama ayah. Mereka tampak kompak dan menikmati pertemanan itu. Belum tahu bagaimana kisah ini berkembang, saya hanya mengatakan pada ayah-ibunya, bimbing anak gadisnya agar menyadari dan menerima peran perempuannya dengan suka cita dan bantu ia untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan dan selera anak perempuan, setelah selama ini dibingungkan dengan hasrat orang tuanya, untuk memiliki anak lelaki. 

Bahkan di cerita lainnya, seorang mahasiswi yang cenderung lesbian, mengingat dengan baik bahwa sejak kecil ia sering diajak ayahnya ke masjid dan berada di shaff laki-laki bahkan memakai peci. Di sisi lain ayahnya kerap melakukan kekerasan pada ibunya dan bersikap kasar pada keluarga.

Kisah di atas hanyalah sebagian dari menggunungnya kisah dibalik orientasi dan perilaku seks  menyimpang, seperti yang dikenal dengan Lesbian, Gay Biseksual dan Transeksual (LGBT). Sekalipun penyebab LGBT dimungkinkan karena faktor organo-biologis, seperti kelainan gen dan hormon, yang ini bukan merupakan wilayah keahlian penulis, namun, penyebab psiko-sosial jauh lebih penting untuk dicermati dan jauh lebih nyata untuk dikelola sejak awal.

Terpapar LGBT tidak langsung berarti anak tertular begitu saja, atau terpapar oleh konten pornografi homoseksual. Itu hanyalah pemicu, yang di era sekarang memang amat sangat mudah terjadi. Namun paparan ini menjadi eksis tergantung ada tidaknya faktor-faktor penyebab yang lebih tidak kasat mata. Berdasarkan hasil pencermatan dari sekitar 11 kasus LGBT yang ditangani, ada beberapa faktor psiko-sosial yang menyebabkan munculnya orientasi dan perilaku LGBT di masa remaja atau dewasa, yaitu:

Pengasuhan yang buruk/tidak hangat, yakni pengasuhan yang miskin dari ekspresi kasih sayang, cinta, perhatian,  rasa peduli, dan penghargaan satu dengan yang lain.

Kekaburan peran ayah dan atau ibu dalam keluarga serta persepsi yang negatif tentang peran gender. Peran ayah-ibu gagal dimainkan dengan harmonis. Biasanya diwarnai pertengkaran yang berisi tuntutan atas peran masing-masing. Ibu yang dipersepsi teraniaya, ayah yang dipersepsi lemah dan tidak bisa memimpin, ibu yang dipersepsi dominan dan terlalu menekan, ayah yang dipersepsi otoriter dan sok kuasa, dan sebagainya.

Keluarga yang retak, penuh dengan pertikaian dan perselisihan, termasuk perceraian yang negatif. Pertama. Hambatan komunikasi dan pengawasan yang buruk dalam keluarga. Kedua. Minimnya pendidikan agama, etika dan moral.

Ketiga. Pengalaman traumatik /luka batin. Mengalami  bullying atau kekerasan baik fisik, emosional maupun seksual. Keempat. Pengalaman seksual pertama, termasuk menjadi korban seks  sesama jenis. Kelima. Hasrat orang tua untuk menginginkan dan mengangankan anak dengan jenis kelamin berbeda yang mempengaruhi sikap dan perilaku pengasuhannya,

Beberapa faktor penyebab di atas dapat makin mudah tersulut jika terdapat faktor pendorong, seperti terpapar lingkungan pertemanan yang buruk,  komunitas seks sejenis, pergaulan bebas, dan  pornografi serta stimulasi erotik sebelum waktunya.  Hal-hal  lain  seperti komik, kartun digital, aplikasi game dan hiburan lainnyai bisa memapar pada anak tanpa  disadari.  Sementara itu,  seperti yang kita ketahui, LGBT sudah menjadi gerakan global. Pro-paganda masif melalui berbagai jaringan dan media sosial sudah tak terbendung.

*Tulisan merupakan refleksi dari pengalaman menangani kasus LGBT yang dilakukan bersama rekan.

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 11 November 2019, di Rubrik Cakrawala.

Sumber Ilustrasi : https://thumbs.dreamstime.com/b/hand-painted-all-colors-rainbow-white-background-57675223.jpg

Leave a Reply