Mendampingi Anak Bertumbuh dan Berkembang

Liputan 19 Feb 2020 0 266x

Menjadi orang tua adalah amanah Allah, meski begitu menjalankan amanah tersebut bukanlah tugas yang mudah. Orang tua dihadapkan dengan perbedaan dan perkembangan zaman yang semakin cepat. Meski begitu, orang tua dan pendidik dapat bekerjasama dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Orang tua maupun pendidik perlu menyadari fase perkembangan anak yang berbeda-beda. Terlebih bagi anak-anak di usia dini. Semua anak tumbuh dan berkembang. Mereka dapat menyumbang sesuatu dalam hidupnya. Hal tersebut disampaikan Pamela C. Phelps, Owner of Creative Preschool Tallahasse Florida USA and Early Childhood Specialist, saat menjadi narasumber pada International Conference on Early Childhood Education yang digelar dalam rangka Peringatan 100 Tahun TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal di Jakarta (08/2019).

Kenali Fase Perkembangan Anak

Sebagai pendidik, imbuh Pamella, mengetahui fase perkembangan sama pentingnya dengan orang tua. Pendidik adalah wali anak di sekolah sehingga mau tidak mau pendidik juga harus mengenali anak-anak satu persatu dan berkomunikasi dengan orang tua tentang perkembangan anak. Permasalahan yang sering terjadi di sekolah, ungkap-nya, terkadang satu pendidik dibebani terlalu banyak anak sehingga masih saja ada anak yang luput dari pengawasan pendidik.

Persiapan menjadi orang tua harus dilakukan sejak dini, bahkan sebelum seseorang memutuskan untuk hamil dan memiliki anak, jelas Pamella. Anak-anak akan hidup di dunia yang berbeda sehingga orang tua berperan membantu anak agar sehat dan merasa aman. Adanya perasaan yang kurang nyaman pada anak akan mengurangi kesempatan anak memiliki karakter yang unggul. Pamella mencontohkan, orang dewasa yang tidak mengetahui tentang perkembangan anak biasanya akan bertengkar di depan bayi atau anaknya. Bayi mungkin tidak mengerti apa yang akan dipertengkarkan, tetapi di usia yang masih belia mereka akan merekam kejadian tersebut. Pengalaman masa awal anak sejak lahir akan menciptakan pengalaman seumur hidup, terang Pamella.

Semua hal kecil yang terjadi akan mempengaruhi karakter anak. “Hal yang perlu digarisbawahi adalah orang tua harus memahami bahwa semua yang terjadi di masa kecil akan berdampak pada karakter dan masa depan anak,” Pamella mengingatkan. Anak akan melihat apa yang orang tua maupun pendidik lakukan, bukan apa yang dikatakan. Sedangkan tidak jarang antara perkataan dan apa yang dilakukan orang tua atau pendidik berbeda, ungkap Pamella, sehingga anak tidak mengikuti apa yang sebenarnya diha-rapkan oleh orang tua dan pendidik.

Orang tua atau pendidik mau tidak mau harus mengetahui perkembangan anak, mengenali keinginan anak, dan memberi kesempatan agar mereka merasa sukses. “Ketika kita memaksakan anak untuk mengikuti tahap perkembangan yang tidak sesuai justru akan menyakiti si anak,” ungkap Laura Stannard, yang juga mengajar di Creative Preschool Tallahasse Florida USA. Ia memberi contoh, orang tua yang memaksa anak harus dapat membaca di usia 3 sampai 4 tahun berarti mereka sebenarnya justru tidak tahu tahap perkembangan anak karena sesungguhnya anaklah yang memutuskan kapan mereka siap untuk membaca. Dengan mengenali tahap perkembangan anak dapat memudahkan orang tua maupun pendidik mengetahui perkembangan anak.  “Yang saya pelajari sebagai seorang guru adalah bagaimana menjadi orang tua yang menyenangkan bagi anak,” kata Laura.

Penggunaan Metode BCCT (Sentra) di Sekolah  

Laura, Literacy and School Readiness Specialist ini menyarankan agar mengetahui permainan yang sesuai dengan perkembangan anak. Laura bercerita jika sekolahnya menggunakan Metode Beyond Centre and Circle Time (BCCT). Menurutnya, dengan begitu Guru mengetahui tahap perkembangan di sentranya. Baik Pamella maupun Laura merupakan perumus Beyond Centre and Circle Time (BCCT) atau dikenal sebagai metode sentra dan saat lingkaran. Creative Preschool Tallahasse Florida USA sendiri merupakan lembaga pendidikan anak usia dini di Florida, USA, yang menginisiasi dan menerapkan metode BCCT dalam pembelajaran anak usia dini. Kini, metode sentra dan saat lingkaran telah banyak digunakan oleh lembaga PAUD termasuk beberapa TK ABA di Indonesia. Direktorat PAUD sendiri telah mendapatkan hak cipta atas seperangkat materi pokok pelatihan Beyond Centre and Circle Time (BCCT) atau Sentra dan Saat Lingkaran yang dikembangkan Pamella dan Laura, maestro BCCT.

Metode BCCT sendiri adalah metode penyelenggaraan pembelajaran PAUD yang berpusat pada anak, dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra main dan saat anak berada dalam lingkaran. Pendidik menghadirkan dunia nyata dalam kelas dan mendorong anak menghubungkan pengetahuan yang dimilikinya dalam kehidupan sehari-hari. Sentra main sebagai salah satu elemen penting dalam BCCT merupakan area bermain anak yang dilengkapi sepe-rangkat alat main yang berfungsi untuk mendukung perkembangan anak. Sedangkan saat lingkaran merupakan saat guru duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberikan pijakan pada anak sebelum dan sesudah bermain.

“Dengan BCCT, kami bicara banyak tentang area permainan. Kita butuh banyak area permainan untuk meng-akomodasi jumlah anak yang akan bermain di tempat tersebut,” ungkap Laura. Oleh karena itu, menurut Laura, penting bagi orang tua untuk memilih lingkungan sekolah yang tepat bagi anak. Orang tua perlu mengetahui bagaimana sekolah-sekolah memberi materi pendidikan pada anaknya. Jika sekolah dipenuhi target dan tidak disesuaikan dengan perkembangan anak maka memungkinkan terjadi masalah pada anak tersebut. Namun, jika orang tua memilihkan lingkungan sekolah yang tepat maka anak dapat berkembang dengan maksimal dan sesuai harapan orang tua.

Filosofi Pendidikan Anak

Pendidikan sendiri merupakan pengembangan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik secara fisik, cipta, rasa, dan karsa agar potensi itu menjadi nyata dan bermanfaat dalam kehidupannya. Hal tersebut disampaikan Wismiarti Tamim, founder of al-Falah School. Pendidikan, imbuhnya, memiliki tujuan untuk menyiapkan pribadi manusia menjadi seimbang, selaras, dinamis, harmonis sehingga tercapainya tujuan hidup kemanusiaan. Menurutnya, filosofi pendidikan harus ada di setiap langkah pendidik dan murid.

Pendidik melakukan tugas untuk membangun pikiran muridnya. Ilmu pendidikan itu sederhana, ungkapnya, kita tidak dapat memberikan apa-apa pada anak apa yang tidak kita punya. Kita harus mulai dari diri kita lebih dulu, Wismiarti mengingatkan, karena pendidik dituntut untuk mengerjakan tugas tersebut dan dipraktikkan di manapun. Hal tersebut juga harus dimiliki oleh pendidik di sekolah-sekolah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, tambahnya. Bahwa menjadi pendidik memikul tugas dan tanggung jawab yang besar pada anak. Keberhasilan anak di masa depaan adalah keberhasilan orang tua dan pendidiknya.

Seiring dengan pemikiran tersebut, Darwis Hude, Quranic Science Expert and Director of Graduate School of PTIQ Institute, menyatakan bahwa anak itu fitrah. “Kalau saya mengartikannya sedikit berbeda bukan seperti kertas kosong. Fitrah itu adalah potensi, setiap anak dilahirkan membawa potensi yang siap untuk dikembangkan,” ung-kapnya. Manusia mempunyai potensi berpikir dan berpotensi untuk mengerti tentang Ketuhanan. Dalam Islam, anak lahir berpotensi menjadi 99 asmaul husna, sangat tergantung lingkungannya. Jika lingkungan mengajarinya rahman rahim, terang Darwis, jadilah anak itu saling menyayangi. Begitu pula bila diajari keras akan menjadi orang yang keras pula.

Sikap dan tingkah laku kita, ungkap Darwis, adalah hasil kolaborasi antara bakat personal dengan persentuhan lingkungan baik alam maupun personal. DNA adalah kode-kode yang diciptakan Allah sedemikian rupa, termasuk sifat dasar, rambut, warna kulit, dll. Bersamaan itu, imbuh Darwis, manusia bersentuhan dengan lingkungan sehingga sedemikian pentingnya lingkungan terhadap pertumbuhan seorang anak manusia.

Menumbuhkan karakter anak dapat dimulai dari kecil hingga usia 21 tahun. Pembentukan karakter, menurut Darwis, paling efektif di usia tersebut. Oleh karena itu, ia mengingatkan, penting sekali menumbuhkan karakter anak dengan kepribadian Islam sejak dini. Pembentukan karakter anak dapat dimulai dari hal-hal yang konkrit, kemudian beranjak pada hal-hal yang dapat mengidentifikasi dirinya, sampai kemudian memasuk tahap kristalisasi atau karakter telah mengkristal dalam keseharian.

Darwis menjelaskan, orang tua dapat berperan sebagai penyedia kebutuhan anak, sebagai model atau  uswatun hasanah, pendidik, motivator, hingga menjadi teman bagi anaknya. Tidak lupa, Darwis menyebut juga tentang peran orang tua sebagai negosiator, “orang tua harus mampu menegosiasi dan jangan menggunakan kata pokok-nya,” tegas Darwis. Sedangkan pendidik bertugas untuk mendukung para siswa sesuai dengan potensinya. Tidak semua siswa harus pintar semua hal, ajarkan anak fokus pada satu potensi yang dapat dikembangkan dan ditekuni sehingga mereka dapat menjadi hebat di bidangnya, terang Darwis. Oleh karena itu, tambahnya, penting sekali bagi guru mengetahui perbedaan individual tiap-tiap anak dan hal-hal perkembangan global. Darwis mengibaratkan proses pendidikan layaknya menenun, dan senantiasa menenun kembali apabila tenunannya mengendur. (SRD/HNS) 

Baca selengkapnya di Rubrik Liputan Utama, Edisi Oktober 2019, hal 14-16

Sumber Foto : https://republika.co.id/berita/leisure/parenting/nekf1i/ini-peran-besar-lingkungan-dalam-tumbuh-kembang-anak

Leave a Reply