Sains dan Tekno

Mengajarkan Berpikir Saintifik Anak Usia Dini Melalui Pembelajaran Sains

sains

Oleh: Ariati Dina Puspitasari*

Permendikbud nomor 65 tahun 2013 menetapkan standar proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik, antara lain dengan cara mengamati, bertanya, mencoba, mengasosiasi, mengomunikasikan, dan dapat ditambah dengan mencipta. Hal ini demi kualitas pribadi yang mencerminkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Sehingga, pribadi tersebut mampu memahami pengaruh sains terhadap perkembangan teknologi dan implikasinya bagi kehidupan bermasyarakat dan negara.

Pembiasaan proses berpikir ilmiah sebaiknya dilakukan sejak usia dini. Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa sejak kecil, anak telah memiliki insting keilmuan yang harus dibangun melalui pendidikan. Beliau juga mengemukakan bahwa anak kecil laksana kertas putih yang bisa dituliskan kepadanya sesuai lingkungannya (Iqbal, 2020: 92).

Sementara Piaget mengemukakan pemikirannya dalam teori perkembangan kognitif, yaitu pada usia 2-7 tahun, anak berada pada tahap intuitif di mana terjadi perkembangan fungsi simbol, bahasa, pemecahan masalah yang bersifat fisik, serta kemampuan mengategorisasi. Tahap ini dikenal dengan tahap praoperasional. Berdasarkan tahap tersebut, proses berpikir ilmiah pada anak usia dini berada pada taraf sederhana, yaitu mengamati, mengindentifikasi, mengategorikan, memprediksi, mengajukan pertanyaan, mengukur atau melakukan percobaan sederhana, menilai suatu benda, dan mengomunikasikan atau memberikan informasi yang diperoleh secara sederhana.

Strategi Pembelajaran Sains untuk Anak Usia Dini

Strategi pembelajaran sains untuk anak usia dini bisa dilakukan dengan menerapkan beberapa model pembelajaran seperti model pembelajaran inkuiri, discovery, dan pembelajaran berbasis proyek sederhana. Ketiga model ini diciptakan untuk mendukung proses berpikir saintifik karena aktivitas yang dilakukan dalam pembelajaran tersebut antara lain mengobservasi, memprediksi, melakukan percobaan, dan mengomunikasikan hasil percobaan. Khusus untuk pembelajaran berbasis proyek, keluaran dari pembelajaran tersebut adalah sebuah produk pembelajaran.

Salah satu contoh aktivitas pembelajaran sains untuk anak usia dini yang dapat menstimulus berpikir saintifik adalah tema tumbuhan dengan pembelajaran berbasis proyek. Pendidik dapat menyiapkan biji kacang hijau, tanah, dan wadah yang masing-masing 2 buah. Anak diminta untuk menanam biji kacang hijau pada media tanah yang diletakkan pada wadah. Selanjutnya anak diminta untuk meletakkan satu wadah di tempat yang terkena sinar matahari dan satu wadah di tempat yang tidak terkena sinar matahari. Pendidik dapat meminta anak untuk memprediksi apa yang akan terjadi pada kedua biji kacang hijau tersebut.

Baca Juga: Etika dalam Mengembangkan Ilmu Pengetahuan

Selanjutnya pendidik dapat meminta anak untuk melakukan observasi atau pengamatan setiap hari terhadap pertumbuhan tanaman tersebut hingga setidaknya 7 hari dan mengingatkan untuk menyiram dengan air secukupnya setiap hari. Setelah 7 hari, anak diminta untuk membandingkan pertumbuhan kedua tanaman tersebut dan mengomunikasikan hasil pemikirannya. Pendidik dapat menstimulasi anak untuk mengambil kesimpulan dan menjelaskan nilai-nilai pembelajaran dari proyek yang dilakukan. Pendidik juga dapat menyelipkan pendidikan karakter dan pendidikan lingkungan dalam pembelajaran berbasis proyek tersebut.

Contoh kedua, tema mengenal wujud benda menggunakan model pembelajaran discovery learning. Kemampuan anak usia 4-5 tahun untuk dapat mengelompokkan benda perlu menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan pendidik. Pendidik dapat menyiapkan beberapa jenis benda cair dan padat. Selanjutnya anak diminta untuk mengambil dan mengelompokkan benda berdasarkan jenisnya. Pendidik juga bisa melakukan variasi pengelompokan benda padat berdasarkan tekstur, elastisitas, dan campuran warna. Pada proses pengelompokan tersebut, tentunya terjadi proses mengamati dan memprediksi. Pendidik dapat mengajukan berbagai pertanyaan dan juga bersama-sama melakukan pembuktian atas hasil pengelompokan mereka.

Kuncinya adalah mindset dalam pembelajaran sains untuk anak usia dini, yakni tidak sekadar kumpulan fakta atau konsep sains yang diberikan, namun melakukan aktivitas yang menstimulasi anak untuk berpikir saintifik melalui aktivitas yang menyenangkan. Selain itu, pendidik dapat menggunakan multimedia pembelajaran untuk menambah motivasi dan minat belajar anak terhadap sains.

Penerapan proses berpikir saintifik dalam pembelajaran pada anak usia dini, khususnya pada pembelajaran sains atau ilmu alam, dapat menstimulasi perkembangan potensi yang dimiliki anak, memupuk rasa percaya diri, jujur, bertanggung jawab, disiplin, tekun, terbuka dengan pendapat orang lain, rasa syukur, dan minat untuk mempelajari sains lebih dalam. Tentunya, kita tidak bisa menyamaratakan kemampuan individu satu dengan individu lain dalam proses pembelajaran tersebut. Misalnya saja dalam proses pengamatan, kemampuan mengamati setiap individu berbeda-beda. Ada anak yang lebih mudah melakukan proses tersebut melalui melihat, namun ada pula yang melalui mendengar, meraba, mencium, atau membau, juga mengecap. Sehingga, pendidik perlu bijaksana dalam memberikan materi atau menentukan strategi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.

*Dosen Pendidikan Fisika FKIP UAD/Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah

Related posts
AnakWawasan

Cara Mengenalkan Dakwah pada Anak Usia Dini

Sebagai orang tua, sudah seharusnya paham mengenai pentingnya pendidikan anak usia dini. Pasalnya, pendidikan usia dini menjadi pondasi bagi si kecil untuk…
Berita

TK Aisyiyah 3 Padangjaya Majenang Adakan Seminar Parenting Psikologi Anak Usia Dini

Cilacap, Suara ‘Aisyiyah – Lingkungan sosial pertama individu adalah keluarga. Ayah, ibu, dan individu tersebut adalah komunitas pertama dalam kehidupannya. Kebiasaan-kebiasan yang…
Berita

Diyah Puspitarini: Nasionalisme Harus Diajarkan kepada Anak Sejak Usia Dini

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Sebelum terbentuk sebuah negara bernama Indonesia, para pendahulu kita sudah mewariskan sebuah konsep dan praktik Bhineka Tunggal Ika….

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.