Mengembangkan Budaya Organisasi

Organisasi 28 Jul 2020 0 117x

PERTANYAAN

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kak ‘Aisy yang saya hormati,

Saya sebagai anggota baru dalam jajaran pimpinan ‘Aisyiyah hasil dari  permusyawaratan yang telah dilaksanakan dengan baik. Sebagai orang baru yang mendapatkan amanah, saya masih sangat awam untuk memulai tugas yang  kami emban. Pernah saya mendengarkan suatu ceramah yang mengatakan bahwa organisasi akan berkembang dengan baik manakala pimpinannya mampu mengembangkan budaya organisasi. Nah yang ingin saya tanyakan kepada kak ‘Aisy adalah apa budaya organisasi itu dan bagaimana saya harus mengembangkan budaya organisasi itu. Atas jawaban kak ‘Aisy saya mengucapkan banyak terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Elma, Jawa Tengah

JAWABAN

Ibu Elma,

Alhamdulillah ibu Elma mendapatkan amanah permusyawaratan untuk mengembangkan ‘Aisyiyah di daerah ibu. Saya ikut memberikan apresiasi semoga dengan bergabungnya ibu di jajaran pimpinan ini akan lebih membawa kemanfaatan yang lebih besar bagi ‘Aisyiyah.

Ibu Elma, budaya organisasi adalah sebuah sistem yang dianut oleh anggotanya, sebagai hasil atau akibat dari yang telah dilakukan organisasi sebelumnya. Yang kemudian diinternalisasikan keyakinan itu menjadi sumber tertinggi dalam organisasi, sehingga dapat membedakan dengan organisasi yang lain. Fungsi budaya organisasi adalah  membawa rasa identitas  bagi anggota-anggotanya sehingga mempermudah membangun komitmen pada kepentingan bersama. Misalnya dalam pemilihan pimpinan, sejak awal dalam ‘Aisyiyah adalah berdasar kompetensi individual dalam menggerakkan anggota. Nah ini juga mempengaruhi dalam perekrutan calon pimpinan pasti sudah diamati kiprah sebelumnya. Karena amanah adalah sebuah kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan, maka mendorong orang yang terpilih berkomitmen untuk melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya, karena merupakan panggilan ibadah.  Sehingga rasa keikhlasan akan dikedepankan bagi pimpinan yang bersangkutan yang kemudian menjadi identitas atau jati diri ‘Aisyiyah. Oleh karenanya apabila bu Elma dapat mengembangkan budaya organisasi melalui ;

Pertama; mengembangkan budaya yang berorientasi hasil dari suatu kegiatan organisasi. Misalnya budaya memperluas wawasan baik melalui diskusi, baca, maupun mendengarkan dan mencermati pendapat orang lain dengan bijak. Biasakan pengajian itu diikuti dialog atau tanya jawab. Pengajian dapat langsung berbasis pelayanan pertanyaan atau dapat pula dibagi dengan sistem  paruh waktu paparan dan separuh waktu untuk dialog.   Sebenarnya diskusi dan dialog atau tanya jawab memacu anggota untuk belajar berkomunikasi, belajar mengasah keberanian untuk menyampaikan pendapat dan belajar cerdas dalam merespon paparan yang diberikan. 

Kedua; mengembangkan budaya inovatif, yaitu keberanian mengambil resiko melakukan perubahan-perubahan agar tidak terjebak pada rutinitas. Kembangkan pengajian bukan sekedar sarana thalabul ‘ilmi tetapi juga dapat dijadikan sarana untuk olah keterampilan, atau kemungkinan sarana memperoleh tambahan pendapatan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan adanya kegiatan penjualan produk keluarga pada waktu yang ditentukan oleh pengelola pengajian. Waktu dapat diatur sebelum atau sesudah pengajian dengan jadwal yang harus ditepati oleh jamaah, inilah yang disebut “pengajian berbasis ekonomi”

Ketiga; mengembangkan budaya perencanaan, memprediksi potensi, strategi yang akan diterapkan dan target-target yang akan dicapainya. ‘Aisyiyah adalah gerakan yang akan melakukan kegiatan-kegiatan. Setiap kegiatan hendaknya telah dianalisa dengan diteliti. Misalnya akan melakukan kegiatan bakti sosial dalam milad ‘Aisyiyah pasti sudah menentukan daerah sasaran, kebutuhan yang diperlukan, pendekatan kepada para penyandang dana, pelaksanaan operasional-nya dan pengaruh dari kemanfaatan kegiatan tersebut. Akan lebih memudahkan apabila segala perencanaan itu dituang dalam narasi bentuk tulisan, ini yang biasa disebut proposal bahasa kerennya. Mau tidak mau, suka tidak suka, membuat perencanaan yang dirasakan ini mendorong dan  membangun budaya tulis juga. 

Keempat; mengembangkan budaya orientasi tim. Kerja organisaasi akan lebih efektif apabila mendapat dukungan dari semua pihak. Dalam hal ini pimpinan harus merangkul dan melibatkan berbagai unsur dalam kehidupan berorganisasi. Sebab budaya di masyarakat berkembang suatu anggapan yang sudah mengakar, jika mereka di ikut sertakan merasa diposisikan sebagai orang yang diperlukan atau dengan kata lain merasa ‘di uwongke”  (bhs Jawa). Dengan sendirinya karena dilibatkan mereka tertarik partisipasi dan menyukseskan kegiatan tersebut.

Demikian mbak Elma semoga empat budaya organisasi ini dapat dikembangkan di ‘Aisyiyah, sehingga dalam kepemimpinan periode 2015 -2020  semakin gairah dan sekaligus mengembang-kan budaya berkomitmen terhadap ‘Aisyiyah. Selamat mencoba

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

(Sh.Ks)

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 4 April 2016, Rubrik Konsultasi

Leave a Reply