Keluarga

Mengenal dan Mencegah Terjebak Generasi Sandwich

Generasi Sandwich
Generasi Sandwich

Generasi Sandwich (foto: unsplash)

Oleh: Shoimah Kastolani

Generasi sandwich adalah generasi orang dewasa yang menanggung beban hidup tiga generasi, yaitu orang tua atau keluarganya, diri sendiri, dan anaknya. Kondisi tersebut diibaratkan seperti sandwich, di mana sepotong daging terhimpit oleh dua roti bagian atas dan bawahnya. Roti atas dianalogikan sebagai orang tua. Roti bagian bawah diibaratkan anak. Adapun daging isinya adalah kehidupan diri sendiri.

Istilah ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 1981 oleh seorang profesor sekaligus direktur praktikum University Kentucky, Lexington, Amerika Serikat, bernama Dorothy A. Miller. Carol Abaya, ahli dari Aging and Elder Care, mengkategorikan generasi sandwich menjadi tiga ciri berdasarkan perannya.

Pertama, the traditional sandwich generation, yakni orang dewasa berusia 40 hingga 50 tahun yang dihimpit oleh beban orang tua berusia lanjut dan anak-anak yang masih membutuhkan finansial. Kedua, the club sandwich generation, yakni orang dewasa berusia 30 hingga 60 tahun yang dihimpit oleh beban orang tua, anak, cucu (jika sudah punya), dan atau nenek kakek (jika masih hidup). Berikutnya adalah the open faced sandwich generation. Siapapun yang terlibat dalam pengasuhan orang lanjut usia, namun bukan merupakan pekerjaan profesionalnya, termasuk ke dalam kategori ini.

Paling tidak, ada dua alasan yang dapat membuat seseorang terjebak pada generasi sandwich. Alasan pertama adalah rata-rata harapan hidup yang makin tinggi. Dengan demikian, banyak orang tua yang berumur panjang. Sebenarnya, ini adalah hal yang positif dari aspek kesehatan. Namun di sisi lain, orang tua yang tidak memiliki perencanaan finansial yang baik untuk masa tuanya akan berpotensi besar membuat sang anak menjadi generasi sandwich berikutnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Penduduk Lanjut Usia 2020 menyebutkan bahwa jumlah lansia adalah 10,7 persen. Dalam hal ini, lebih dari 78.27 persen sumber pembiayaan rumah tangga lansia ditopang oleh anggota rumah tangga yang bekerja.

Pada tahun 2021, terdapat delapan provinsi yang telah memasuki struktur penduduk tua, yaitu persentase penduduk lanjut usia yang lebih besar dari sepuluh persen. Kedelapan provinsi tersebut adalah DI Yogyakarta (15,52 persen), Jawa Timur (14,53 persen), Jawa Tengah (14,17 persen), Sulawesi Utara (12,74 persen), Bali (12,71 persen), Sulawesi Selatan (11,24 persen), Lampung (10,22 persen), dan Jawa Barat (10,18 persen). Jumlah lansia yang masih memiliki potensi kerja adalah 49,46 persen. Artinya, 50,54 persen dari para lansia tidak bekerja dan menjadi tanggungan anak.

Sementara dalam Islam, ada kewajiban birrul walidain (berbakti kepada orang tua) sebagaimana tersirat dalam Q.s. al-Isra’: 23,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا

Artinya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaikbaiknya”.

Alasan kedua adalah keterlambatan bersikap mandiri dan independen dari segi finansial. Keterlambatan ini berpotensi besar membuat anak akan mengikuti jejak orang tuanya kelak sebagai sosok yang tidak mandiri di masa tuanya. Hal ini bisa menjadi lingkaran setan jika berlanjut pada generasi berikutnya.

Baca Juga: Tanda-Tanda Kamu Mengalami Burn Out

Faktor eksternal yang menyebabkan anak menjadi tidak mandiri adalah pola asuh orang tua dan status ekonomi keluarga. Sedangkan faktor paling berpengaruh yang menyebabkan anak menjadi tidak mandiri adalah pola asuh orang tua yang overprotektif. Terkait hal ini, Allah memberi petunjuk bahwa pada akhirnya setiap individu harus mampu bertanggung jawab sebagaimana termaktub dalam Q.s. al-Muddatsir ayat 38 sehingga orang tua perlu mengajarkan anak untuk mandiri secara dini.

كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

Artinya, “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”.

Memutus Rantai

Memutus rantai sandwich bukanlah hal mudah yang dapat dilakukan begitu saja. Perlu konsistensi dan usaha yang lebih besar untuk dilakukan. Ada beberapa hal yang bisa ditempuh untuk menghindarkan kita dan generasi berikutnya dari rantai ini.

Pertama, kelola keuangan dengan baik, miliki tabungan rencana. Tetapkan untuk menyisihkan sekian persen dari penghasilan bulanan ke dalam tabungan. Hal ini sekaligus membantu kita membiasakan diri menunda keinginan sekarang untuk kebutuhan signifikan di masa depan. Seorang ulama, Hasan al-Bashri pernah menyatakan,

رحم الله رجلا كسب طيبا وأنفق قصدا وقدم فضلا ليوم فقره وفاقته

Artinya,Allah mengasihi orang mencari harta yang baik, membelanjakannya secara wajar, dan menyimpan kelebihannya untuk saat krisis dan fakir(dalam kitab Hilyatul Auliya).

Kedua, menyiapkan program pensiun. Program pensiun merupakan salah satu upaya yang bisa ditempuh untuk menyiapkan kecukupan di masa tua. Dengan demikian, terjadinya generasi sandwich pada generasi berikutnya dapat diminimalisir. Saat ini, program pensiun dapat dimiliki oleh siapapun, tidak harus Aparatur Sipil Negara (ASN).

Muhammadiyah mendorong setiap amal usaha mengikuti Dana pensiun. Dana Pensiun Syariah Muhammadiyah adalah pengelola program manfaat pensiun bagi karyawan yang bekerja pada Amal Usaha milik Muhammadiyah (AUM).

Ketiga, miliki alokasi dana untuk perawatan kesehatan. Dalam hal ini, Muhammadiyah juga mendorong amal usaha untuk menjadi peserta Dana Sehat Muhammadiyah (DSM).

DSM adalah dana yang ditujukan untuk pemeliharaan status kesehatan anggota yang dikelola oleh Muhammadiyah. DSM dapat diikuti oleh siswa, mahasiswa, karyawan amal usaha Muhammadiyah, maupun warga Muhammadiyah. DSM bisa dikelola oleh MPKU tingkat Cabang, Daerah, dan Wilayah. Informasi tentang DSM ini dapat digali lebih dalam melalui Badan Penyelenggara Dana Sehat Muhammadiyah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Artinya, “Meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada orang lain. (H.R. Bukhari No. 5354).

Keempat, perkuat gaya hidup produktif, alih-alih konsumtif. Tentukan prioritas dengan mengedepankan kebutuhan daripada keinginan. Mengurangi gaya hidup konsumtif dapat dilakukan dengan beberapa tindakan, misalnya mengambil lebih sedikit jatah liburan atau meminimalisir budget makan di luar rumah. Allah mengajarkan hidup tidak berlebihan tetapi juga tidak pelit, yakni hidup sederhana. Hal ini tersirat dalam Q.s. al-Furqan: 67,

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengahtengah antara yang demikian.”

Kelima, menyiapkan dana pendidikan anak. Mendidik anak adalah bagian dari proses menyiapkan generasi berikutnya yang tangguh baik dalam aspek keimanan maupun finansial. Penyiapan dana pendidikan lebih dini ditujukan untuk mengurangi beban orang tua di kemudian hari.

Keenam, melatih kecerdasan finansial anak, terutama dengan menabung. Menabung bukan cermin tidak tawakal. Sebaliknya, karena tawakal bukan berarti kita pasrah kepada Allah saja tanpa berbuat apa-apa. Tawakal harus dimulai dengan berusaha semaksimal mungkin, setelah itu barulah berserah diri kepada Allah subhanahu wata’ala.

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah menabung dalam bentuk makanan.

فكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعزل نفقه أهله سنة

Artinya, “Rasulullah menyimpan makanan untuk kebutuhan keluarga selama setahun (H.R. Bukhari No. 2904 dan Muslim No. 1757).

Menyimpan bahan makanan untuk persediaan kebutuhan keluarganya dimaksudkan menabung. Makanan dalam hadis tersebut di atas, dapat pula pada saat ini dimaknai uang sebagai pengganti untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Baca Juga: Toxic Sibling: Berbeda Itu Wajar

Syaikh Abdullah al Bassam ketika menyebutkan kandungan hadis di atas mengatakan, “Bolehnya menyimpan bahan makanan dan hal tersebut tidaklah bertentangan dengan tawakal kepada Allah karena Nabi yang merupakan manusia paling hebat dalam masalah tawakal saja menyimpan bahan makanan untuk persediaan kebutuhan keluarganya” (Taisir Allam Syarh Umdatul Ahkam 2/558).

Jika saat ini sedang dalam posisi sebagai orang tua, hendaknya kita menyiapkan kemampuan diri untuk tetap mampu mencukupi diri sendiri di masa tua. Adapun jika saat ini kita sedang berada pada posisi sebagai bagian dari generasi sandwich itu sendiri, ada baiknya untuk terbuka terhadap orang tua terkait kemampuan finansial yang bisa kita sediakan dengan memperhatikan aspek-aspek komunikasi dan kondisi orang tua itu sendiri.

Dalam hal ini, kuncinya adalah keterbukaan dengan tetap takzim terhadap orang tua. Keterbukaan adalah kunci awal yang efektif untuk menghadapi tantangan dan memecahkan persoalan dalam kehidupan berumah tangga.

Hendaknya kita membiasakan bermusyawarah untuk saling terbuka dan menyampaikan perasaan serta keinginan secara leluasa. Allah mengajarkan bahwa menghadapi apapun dalam keluarga hendaknya melalui proses musyawarah tersebut.

…وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya, “…dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (Q.s. Ali Imran: 159). [1/23]

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *