Mengenali Disleksia, Gangguan Belajar pada Anak

Anak Wawasan 26 Jul 2021 1 177x
Disleksia

Disleksia

Disleksia adalah gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja

Oleh: Sri Handayani

Anak tidak suka belajar merupakan tantangan tersendiri bagi para orang tua. Melihat anak enggan mengerjakan PR atau membaca buku pelajaran tentu membuat orang tua khawatir dengan presasi di sekolah. Namun, sebelum memarahi anak, sebaiknya orang tua mencari tahu dahulu penyebab anak tidak suka belajar. Jangan terburu-buru menyalahkan anak ketika ia enggan belajar. Terdapat berbagai penyebab yang mungkin membuat anak tidak suka belajar. Salah satunya adalah disleksia.

Mengenal Disleksia

Disleksia adalah gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia akan kesulitan mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat. Disleksia merupakan gangguan saraf pada bagian otak yang memproses bahasa, dapat dijumpai pada anak-anak atau orang dewasa. Meskipun individu dengan disleksia kesulitan dalam  belajar, penyakit ini tidak mempengaruhi tingkat kecerdasan anak.

Disleksia dapat menimbulkan gejala yang bervariasi, tergantung pada usia dan tingkat keparahan yang dialami penderita. Gejala dapat muncul pada usia 1-2 tahun atau setelah dewasa. Pada anak balita, gejala dapat sulit dikenali. Namun setelah anak mencapai usia sekolah, gejala akan makin terlihat, terutama ketika anak belajar membaca.

Gejala yang muncul meliputi; perkembangan bicara yang lebih lamban dibandingkan anak-anak seusianya, kesulitan memproses dan memahami apa yang didengar, juga kesulitan menemukan kata yang tepat untuk menjawab suatu pertanyaan. Disleksia juga dapat berupa kesulitan mengucapkan kata yang tidak umum, kesulitan mempelajari bahasa asing, dan kesulitan dalam mengingat sesuatu.

Baca Juga: Membiasakan Budaya Organisasi kepada Anak

Kesulitan yang lain pada disleksia adalah dalam mengeja, membaca, menulis, berhitung, dan lamban dalam menyelesaikan tugas membaca atau menulis. Ada juga gejala disleksia berupa lamban dalam mempelajari nama dan bunyi abjad, sehingga anak menghindari aktivitas membaca dan menulis.

Terdapat laporan tentang penderita disleksia yang mengalami kesulitan dalam mengingat huruf, angka, dan warna. Selain itu juga kesulitan dalam memahami tata bahasa maupun memberi imbuhan pada kata, dan sering salah dalam mengucapkan nama atau kata. Sehingga, sering menulis terbalik, misalnya menulis ‘pit’ saat diminta menulis ‘tip.’ Sulit dalam membedakan huruf tertentu saat menulis, misalnya ‘d’ dengan ‘b’ atau ‘m’ dengan ‘w.’

Apabila disleksia dibiarkan tidak tertangani, kesulitan anak dalam membaca akan berlangsung hingga dewasa. Secara pasti belum diketahui apa penyebab pasti disleksia, tetapi kondisi ini diduga terkait dengan kelainan gen yang memengaruhi kinerja otak dalam membaca dan berbahasa.

Sejumlah faktor yang diduga memicu kelainan gen tersebut adalah Infeksi atau paparan nikotin, alkohol, dan NAPZA pada masa kehamilan. Selain itu dapat dikarenakan lahir prematur atau terlahir dengan berat badan rendah, hingga adanya riwayat disleksia atau gangguan belajar dalam keluarga yang dapat menjadikan anak menderita disleksia.

Baca Juga: Efek Negatif Kekerasan Pada Otak Anak

Diagnosa disleksia dilakukan bila terdapat sejumlah gejala dan data mengenai riwayat kesehatan serta perkembangan dan pendidikan anak, riwayat gangguan dalam kemampuan belajar, situasi dan kondisi di rumah, termasuk siapa saja yang tinggal di rumah, serta apakah terdapat masalah dalam keluarga. Penegakkan diagnosa akan dilengkapi dengan pemeriksaan saraf. Tes fungsi saraf dilakukan untuk memeriksa  apakah disleksia terkait dengan gangguan pada saraf otak, mata, dan pendengaran.

Sedangkan tes psikologi dilakukan untuk memahami kondisi kejiwaan anak, dan menyingkirkan kemungkinan gangguan kecemasan atau depresi yang dapat memengaruhi kemampuan belajar anak. Tes lain yang diperlukan yaitu tes akademis. Disleksia tergolong penyakit yang tidak dapat disembuhkan, tetapi deteksi dan penanganan sejak usia dini akan efektif meningkatkan kemampuan penderita disleksia dalam membaca.

Salah satu metode yang sering dilakukan untuk meningkatkan kemampuan baca tulis anak dengan disleksia adalah fonik. Metode fonik berfokus meningkatkan kemampuan dalam mengidentifikasi dan memproses suara. Metode fonik, mengajarkan untuk mengenali bunyi kata yang terdengar mirip, seperti ‘pasar’ dan ‘pagar’. Belajar mengeja dan menulis, mulai dari kata sederhana hingga kalimat yang rumit, memahami huruf dan susunan huruf yang membentuk bunyi membaca kalimat dengan tepat, memahami makna yang dibaca, serta menyusun kalimat dan memahami kosakata baru.

Keterlambatan bicara dapat disebabkan oleh gangguan pendengaran, gangguan pada otak, autisme, atau gangguan pada organ mulut yang menyebabkan anak sulit untuk menghafal kata-kata. Ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai untuk mengenali keterlambatan bicara, yaitu pada usia 0-6 bulan, waspadai jika anak tidak menoleh jika dipanggil namanya dari belakang atau tidak mengoceh dengan suku kata tunggal.

Kemudian pada usia 12 bulan, waspadai jika anak tidak menunjuk dengan jari dan ekspresi wajah kurang. Usia 16 bulan, waspadai jika tidak ada kata yang berarti. Usia 24 bulan, waspadai jika tidak ada dua kalimat yang dapat dimengerti. Jika anak menunjukkan ciri-ciri di atas, berkonsultasilah dengan dokter anak.

Gangguan belajar dapat sembuh jika terdapat dukungan yang baik dari orang tua, sekolah, lingkungan, dan bantuan dari medis. Walaupun mengalami gangguan belajar, seseorang masih dapat meraih prestasi sesuai bakat dan minatnya.

Guna membantu proses penyembuhan anak, orang tua dapat melakukan sejumlah hal berikut, antara lain membaca dengan suara keras di hadapan anak. Akan lebih efektif bila dilakukan pada anak usia 6 bulan atau lebih muda. Ajak anak membaca cerita bersama-sama setelah diperdengarkan cerita sebelumnya. Dorong anak agar berani membaca, hilangkan ketakutan anak untuk membaca. Selanjutnya, bicarakan kondisi anak dengan guru di sekolah, kemudian diskusikan cara yang paling tepat untuk membantu anak agar berhasil dalam pelajaran.

Baca Juga: Kewajiban Menuntut Ilmu bagi Seorang Muslim

Buka komunikasi dengan anak tentang kondisinya, beri pemahaman pada anak bahwa kondisi yang dialaminya dapat diperbaiki, sehingga anak tidak rendah diri. Sebaiknya batasi anak bermain gawai. Orang tua juga dapat membantu untuk memilih tema bacaan yang menarik bagi anak, atau pilih tempat yang menyenangkan untuk belajar agar anak tertarik membaca. Pengalaman orang tua lain yang memiliki anak dengan disleksia, dapat menjadi informasi berharga bagi keluarga untuk meningkatkan kemampuan anak.

Gangguan belajar pada anak yang lain adalah disgrafia dan diskalkulia. Disgrafia adalah ketidakmampuan belajar yang memengaruhi kemampuan untuk menulis atau mengenali bentuk tulisan. Gangguan ini juga tidak memengaruhi kecerdasan. Beberapa orang yang memiliki gangguan ini justru lebih pintar daripada orang yang tidak memiliki gangguan.

Sementara menurut International Journal of Education and Research, diskalkulia adalah gangguan pada kemampuan memecahkan permasalahan matematika yang biasanya terjadi akibat disfungsi otak. Konsep matematika yang sulit dipahami terkadang merupakan konsep bilangan dasar. Diskakulia cenderung dapat dideteksi saat anak mulai beranjak dewasa.

One thought on “Mengenali Disleksia, Gangguan Belajar pada Anak”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *