Mengenang Kuntowijoyo: Sejarawan cum Sastrawan Indonesia

Berita 13 Des 2021 0 62x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Kuntowijoyo adalah guru. Ia tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi segala laku hidupnya adalah teladan. Demikian kenang Lukman Hakiem, pakar sejarah sekaligus kawan dekat Kuntowijoyo dalam kajian yang diselenggarakan Laboratorium Dakwah Yayasan Shalahuddin Budi Mulia, Senin (13/12).

Beberapa waktu lalu, dalam Kongres Sejarawan Muhammadiyah 2021, Kuntowijoto mendapat penghargaan karena penelitiannya tentang Islam dan Muhammadiyah dengan pendekatan profetik menarik banyak peneliti lain untuk melakukan penelitian serupa. Ghifari Yudistiadhi dari penyelenggara kongres menyatakan bahwa Kuntowijoyo merupakan inspirator di balik terselenggaranya Kongres Sejarawan Muhammadiyah.

Sebagai seorang sejarawan, kata Ghifari, Kuntowijoyo memang telah tiada. Tetapi Kunto mewariskan ribuan amal pemikiran yang buahnya kini telah ia semai. “Dalam Kongres Sejarawan Muhammadiyah 2021, Kuntowijoyo hadir melalui gen anak-anak ideologisnya yang tengah tumbuh sebagai para sejarawan dan pejuang persyarikatan dalam rangka terus menggali peradaban umat,” terangnya.

Baca Juga: Maklumat: Sastra Harus Terlibat dalam Sejarah Kemanusiaan

Kajian bertema “Perjuangan Dakwah Prof. Dr. H. Kuntowijoyo (1943-2005): Sikap Optimis Menghadapi Masa Depan” itu dihadiri oleh berbagai kalangan yang punya hubungan dengan almarhum. Nur Aini Setiawati, misalnya. Dosen di Prodi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada ini merupakan mahasiswa Kuntowijoyo ketika duduk di bangku perkuliahan.

Menurutnya, menjadi mahasiswa Kuntowijoyo merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Demikian halnya dengan membaca karya-karyanya. “Karya Kuntowijoyo sangat istimewa, yakni dapat menghubungkan antara yang scientific-rational, estetik, kultural, sosial-ekonomi, dan politik,” ujarnya.

Pada waktu yang sama, istri almarhum Kuntowijoyo, Susilaningsih menceriterakan tentang proses kreatif suaminya sehingga mampu melahirkan karya tulis yang menjadi rujukan dan dikagumi banyak orang. Ia bercerita, sejak muda, Kuntowijoyo sudah terbiasa menuliskan apa saja yang terlintas di pikirannya.

Kuntowijoyo mengamati berbagai kondisi di sekitarnya, kemudian mengekspresikan hasil pengamatan itu dalam bentuk tulisan. “Sehingga tulisan-tulisan sastranya seolah sungguhan,” kata Susilaningsih. Ia juga tidak jarang memberikan sentilan terhadap situasi politik yang sedang berkembang pada waktu itu.

Di akhir paparannya, Susilaningsih mengatakan bahwa dari sekian banyak karya Kuntowijoyo, yang relatif belum banyak dibahas adalah bukunya, Maklumat Sastra Profetik. “Bagaimana mengajak para sastrawan agar tulisan-tulisannya mengandung nilai profetik,” terangnya. (sb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *