Mengentaskan Kemiskinan, Memberdayakan Ekonomi

Wawasan 18 Feb 2021 0 143x
kemiskinan

kemiskinan

Oleh: Sri Rahayu*

Dalam al-Quran surat adz-Dzariyat [51]: 13 Allah berfirman yang artinya, “pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (orang miskin yang tidak meminta)”. Di dalam ayat tersebut tersurat dan tersirat ada 2 (dua) golongan yang termasuk miskin, yaitu:

Pertama, orang miskin yang meminta atau mengemis minta belas kasihan orang lain (tuna sosial). Kedua, orang yang hidup dalam kemiskinan tetapi mau berusaha/bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya; tidak menggantungkan belas kasihan orang lain, misalnya: buruh, petani kecil, tukang  becak, pemulung, penyemir sepatu, pembantu rumah tangga, dll.

Golongan pertama mengganggu kepentingan umum karena mereka berkeliaran di tempat umum, contohnya meminta sedekah. Beberapa di antara mereka adalah orang yang sehat tetapi malas bekerja, lalu menyalahgunakan kemiskinan itu sebagai profesi untuk mendapatkan uang.

Golongan  kedua sebenarnya juga tergolong miskin tetapi tidak mau menunjukan kemiskinannya. Mereka membutuhkan bantuan tetapi tidak ingin meminta-minta. Mereka mau berusaha dan bekerja untuk memenuhi  kebutuhannya dengan hasil keringatnya sendiri.

Dampak Kemiskinan

Kemiskinan telah menjadikan hidup seseorang menderita. Tidak ada harta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga mengalami kelaparan. Akibat kelaparan maka timbul penyakit kekurangan gizi dan melemahkan daya tubuhnya sehingga mudah terserang berbagai  macam penyakit. Yang paling merasakan dampat tersebut adalah anak-anak. Kemiskinan dan kelaparan bukan saja melemahkan badan dan tubuhnya, tapi juga jiwa dan kecerdasannya.

Kemiskinan seringkali beriringan dengan kebodohan dan keterbelakangan. Hal tersebut menjadikan seseorang mudah dieksploitasi. Kemiskinan juga dapat menimbulkan kekufuran, tindak kriminal, dan kejahatan dalam masyarakat.

Gerakan Qoryah Thoyyibah

‘Aisyiyah menggerakan Qoryah Thoyyibah di semua jenjang organisasi dan diutamakan di tingkat Desa/Kecamatan. Gerakan Qaryah Thoyyibah bergerak dalam rangka mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.

Semua Majelis dan Lembaga di ‘Aisyiyah bergerak bersama untuk menanggulangi  kemiskinan sesuai dengan tugas dan kewajibannya masing-masing.

Majelis Ekonomi. Untuk mengatasi kemiskinan di masyarakat perlu ada keterampilan. Adapun  cara yang bisa dilakukan oleh majelis ekonomi, di antaranya: (a) mengadakan pelatihan keterampilan agar menjadi modal dan berguna bagi kehidupan masyarakat. Misalnya dengan mengadakan pelatihan pembuatan macam-macam kue/masakan, menjahit, pengolahan limbah rumah tangga, rias pengantin, dll. (b) meningkatkan peran koperasi untuk dapat memberikan pinjaman modal bagi masyarakat yang sudah mempunyai keterampilan dan menyediakan kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat.

Majelis Dikdasmen dan Majelis Kesejahteraan Sosial. Untuk memberi bantuan atau santunan biaya pendidikan bagi anak-anak agar meraka tidak menjadi anak yang bodoh dan mudah dieksploitasi. Selain itu, dapat juga mengadakan kursus/pendidikan luar sekolah agar mereka  tidak menjadi anak jalanan/pengemis yang mengganggu masyarakat. Dengan pendidikan luar sekolah, anak-anak akan mendapatkan pendidikan tetapi masih bisa membantu orang tuanya.

Majelis Tabligh. Agar masyarakat yang tergolong miskin tidak keluar dari aqidah dan menjadi masyarakat yang berperilaku tidak baik/penjahat, maka perlu penanganan. Misalnya dengan melakukan pembinaan melalui pendekatan dan pemberian pengetahuan agama secara rutin kepada ibu/bapak dan anak-anak. Diharapkan dengan bekal kekuatan iman mereka akan tabah menghadapi segala permasalahan yang ada, khususnya ekonomi dan harapannya bisa mencari jalan keluarnya. Dijelaskan dalam al-Quran surat al-Baqarah [2]: 155, “dan sesungguhnya kami akan uji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, buah-buahan, dan beritahukanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar”.

Majelis Kesehatan. Untuk menjadikan anak-anak yang berasal dari keluarga miskin sehat, tidak mudah terserang penyakit, dan ketinggalan dalam pendidikan perlu adanya penambahan asupan gizi dan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Di samping itu, agar rumahnya sehat, harus diciptakan lingkungan yang bersih.

Majelis Hukum dan HAM. Untuk memberikan penyuluhan/pencegahan agar terhindar dari pelecehan seksual bagi perempuan dan human trafficking serta berupaya untuk siap membantu penyelesaian kekerasan dalam rumah tangga dan masalah-masalah hukum yang lain bagi masyarakat miskin.

Adapun majelis/lembaga lainnya ikut bergotong-royong mengentaskan kemiskinan sesuai proporsi masing-masing.

Memberdayakan Perempuan

Pemberdayaan (empowering) perempuan adalah upaya sistematik untuk memastikan pencapaian kesejahteraan perempuan. Kemiskinan berdampak pada kaum perempuan karena mereka harus memikirkan kebutuhan rumah tangga dan anak-anaknya. Untuk itu, kaum perempuan harus diberdayakan agar mereka dapat hidup secara normal dan sejahtera.

Sumber daya perempuan di Indonesia dapat dibilang tertinggal daripada sumber daya laki-laki. Dua penyebab pokoknya adalah; pertama, orientasi nilai-nilai sosial-budaya yang tidak kondusif untuk pembangunan sumber daya perempuan; kedua, masalah struktural yang membuat sumber daya perempuan menjadi terpuruk. Selama ini, perempuan sebagai sekadar menjadi pelaku ekonomi mikro, dan masih terpinggirkan dalam proses pembangunan ekonomi makro.

Keterbatasan akses terhadap sumber daya ekonomi, informasi, dan teknologi telah menghalangi perkembangan potensi perempuan sebagai pelaku ekonomi. Upaya untuk mengentaskan kemiskinan harus dilakukan dari berbagai aspek secara serentak, di antaranya mengoptimalkan pendidikan perempuan sebagai upaya mobilitas sosial dalam mencapai kehidupan yang lebih baik. Upaya lainnya adalah memberikan peluang bagi perempuan untuk membuat usaha ekonomi dalam skala modal kecil dan berkeuntungan kecil.

Upaya pemberdayaan perempuan harus selalu ditingkatkan agar kaum perempuan terangkat derajatnya; mampu keluar dari keterpurukan karena kemiskinan sehingga menjadi pribadi dan keluarga yang sejahtera.

Kesejahteraan jangan hanya diukur berdasar tingkat kemakmuran material, tetapi lebih ditekankan pada upaya memampukan kelompok perempuan di jenjang akar rumput (grassroot level). Ada 2 (dua) karakteristik yang berkaitan dengan watak interaksi kelompok perempuan, yaitu: sikap saling membantu, baik antar anggota ataupun luar anggota, dan; mempunyai kemauan menyebarkan pengetahuan untuk kepentingan kelompok.

Sumber-sumber ekonomi dibagi bersama. Posisi dan peran dilakukan oleh anggota tidak dalam rangka perebutan simbol. Modal yang mereka miliki juga dipelihara secar bersama dan kesejahteraan yang dibangun merupakan kesejahteraan yang bertanggungjawab dan bersifat antargenerasi.

Bila masyarakat sudah membenci orang-orang miskin dan menonjol-nonjolkan kehidupan duniawi, serta rakus dalam mengumpulkan harta, maka mereka akan ditimpa 4 (empat) bencana, yaitu: zaman yang berat, pimpinan yang lalim, penegak hukum yang khianat, dan musuh yang mengancam” ( HR. ad-Dailami).

Semoga dengan adanya gerakan Qoryah Thoyyibah dan pemberdayaan perempuan, kemiskinan dapat diatasi, atau paling tidak dikurangi sehingga tercipta masyarakat yang tenteram, damai, sehat, takwa, dan sejahtera. Aamiin.

*Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan