Menghadapi Duka Kematian

Kalam 30 Jul 2021 0 214x
kematian

kematian

Oleh: Siti Bahiroh

Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati, demikian pula manusia. Adapun kapan waktu kematian itu, di mana tempatnya, dalam kondisi seperti apa, juga apa penyebabnya, semuanya menjadi rahasia di sisi Allah swt. Sedikit pun manusia tidak akan dapat menghindar dari kematian. “Di manapun kalian berada, kematian tetap akan mendapatkan kalian”. Allah telah menyebutkan mengenai kematian ini dalam QS. Ali Imran [3]: 185 berikut ini:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Artinya, tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.

Jika mendengar kabar kematian seorang muslim, kita membaca kalimat “Innalillahi wa innaa ilaihi rajiuun” yang artinya ‘setiap kita ini adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya.’ Kalimat ini sesungguhnya mengingatkan bahwa setiap manusia diawasi oleh para malaikat atas perintah Allah. Terpisahnya ruh dari jasad menjadi awal kematian, awal kepindahan manusia dari kampung dunia menuju kampung akhirat, awal berhentinya seluruh aktivitas manusia seperti makan, minum, berbicara, menghirup udara, dan sebagainya.

Oleh karena itu, kematian menjadi sangat menakutkan bagi mereka yang tidak siap. Betapa tidak, malaikat maut menjemput manusia dengan kemarahan bagi yang sombong terhadap ayat-ayat Allah swt. Kematian mereka yang tergolong dalam kelompok ini diwarnai dengan siksaan. Selanjutnya, mereka juga akan menerima azab pedih di akhirat. Allah berfiman dalam QS. al-An’am [6]: 93, yang artinya:

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas de-ngan siksa yang sangat menghinakan karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.”

Uraian tersebut menjadi pengingat untuk semua manusia beriman agar betul-betul mempersiapkan diri menghadapi kematian yang kedatangannya bagaikan misteri. Apa yang harus dipersiapkan dan bagaimana jika kematian itu datang, itulah sepenggal elaborasi yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Persiapan Diri Menghadapi Kematian

Dalam Islam, misi penciptaan manusia di dunia ini adalah untuk beribadah atau menyembah Allah, Zat Pencipta seluruh makhluk di dunia ini. Hal tersebut tertuang pada firman-Nya dalam QS. az-Zariyat: 56, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi-Ku”.

Makna mengabdi (menyembah) pada ayat tersebut adalah mengaku diri sebagai hamba yang memiliki segala kekurangan, kekeliruan, serta ketidakberdayaan kepada Zat yang Maha Sempurna, Maha Agung, dan Maha Perkasa. Sebagai hamba Allah, selain melaksanakan ritual keagamaan seperti salat, puasa, zakat, haji, serta berkorban, seluruh aktivitas manusia dan tingkah laku yang dilaksanakan dalam kehidupannya ditujukan semata-mata mencari keridaan Allah.

Hal ini tersirat dalam QS. al-An’am ayat 162 (yang artinya), “Katakanlah: sesungguhnya sembah-yangku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.

Baca Juga: Ibrah Peristiwa Isra’ Mi’raj bagi Umat Islam

Manusia sebagai makhluk Allah yang Ia ciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini, memiliki kewajiban untuk melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Dengan demikian, selama masih hidup, manusia harus mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan cara melaksanakan ibadah mahdhah sesuai yang dituntunkan oleh Rasulullah Muhammad saw. dan memperbanyak beramal saleh, serta menjauhi apa saja yang dilarang oleh agama seperti mengkonsumsi makanan haram, berperilaku menyimpang, durhaka kepada orang tua, dan sebagainya. Terkait dengan amal saleh ini, Allah swt. menegaskan dalam QS. al- Munafiqun: 10 berikut.

وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Artinya, dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

Menghadapi Datangnya Kematian

Seorang muslim pastilah menginginkan kematian yang sebaik-baiknya atau husnul khatimah. Hal ini tercermin dalam doa, “Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wafil aakhiroti hasanah waqinaa ‘adzaa bannaar”. Dalam QS. Ali ‘Imran: 102, Allah memperingatkan kepada orang mukmin:

  يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Artinya, hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

Jama’ah rahimakumullah.

Pesan dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa berpegang pada agama Islam sampai mati itu wajib kita lakukan. Sungguh teramat mahal keislaman dan keimanan yang telah terpatri dalam hati sanubari kita atas hidayah Allah swt. Oleh sebab itu, pembahasan mengenai persiapan datangnya maut (kematian) ini sangat penting. Pembahasan ini, selain dari pengalaman lapangan, tentunya juga merujuk pada Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah pada kitab jenazah. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menghadapi kematian adalah sebagai berikut.

Pertama, persiapan. Apabila salah seorang dari kita ada yang sakit, maka bersabarlah, karena di balik ujian, akan ada hikmah yang baik bagi mereka yang bersabar. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa sakit satu malam, maka ia sabar dan pasrah kepada Allah, terlepaslah ia dari dosanya sebagaimana hari ia dilahirkan oleh ibunya.”

Adapun kewajiban yang sehat, jika ada saudara yang sakit, hendaklah menjenguknya. Dalam hal ini, penting kiranya untuk menjaga ada-adab menjenguk orang sakit, seperti tidak berlama-lama, tidak membahas penyakit di depan pasien, dan mendoakan kesembuhan pasien.

Apabila seseorang telah hampir tiba ajalnya, hendaklah ia berprasangka baik kepada Allah dan berwasiatlah kalau ia meninggalkan barang miliknya. Jabir ra. mendengar Rasulullah saw. bersabda sebelum wafatnya, janganlah seorang dari kamu mati, kecuali berbaik sangka (husnudzan) kepada Allah swt. (HR. Muslim). Talkin-lah orang yang akan meninggal dengan mengucap “Laa ilaaha illallah”. Selain itu, hadapkanlah orang tersebut ke kiblat.

Apabila telah meninggal dunia, pejamkanlah matanya dan doakanlah. Selubungilah ia dengan kain yang baik, kemudian lunasilah hutangnya dengan segera kalau ia berhutang. Selanjutnya, segerakanlah pemeliharaannya dan kabarkan kepada kerabat dan teman-temannya, khususnya sesama kaum muslimin.

Kedua, perawatan  jenazah. Merawat jenazah dilakukan dengan melakukan hal-hal berikut secara berurutan: memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkan. Urutan dan aktivitas memandikan jenazah itu sama dengan mandi wajib (janabah).

Adapun saat mengafani, tutuplah bagian hidung, mata, telinga juga persendian dengan kapas yang telah ditaburi kapur barus. Selanjutnya, kafanilah dengan kain putih yang dapat menutup seluruh tubuhnya. Jenazah pria dikafani dengan tiga helai kain kafan. Sedangkan jenazah perempuan ditambah dengan kain basahan, baju kurung, dan kerudung kepala.

Baca Juga: Hukum Salat Ghaib menurut Muhammadiyah

Setelah selesai dikafani, salatkanlah jenazah dengan empat kali takbir. Hendaklah salat jenazah dilakukan dengan berjamaah sebanyak tiga baris. Imam berdiri pada arah kepala untuk jenazah pria dan arah tengah untuk jenazah perempuan.

Setelah disalatkan, bawalah jenazah ke kuburan dengan segera. Iringilah ia dengan berjalan di sekelilingnya, dekat padanya, dalam keadaan diam. Janganlah perempuan mengiringinya. Janganlah duduk hingga jenazah diletakkan. Kuburlah dengan lubang yang baik dan dalam.

Merawat Jenazah di Masa Pandemi Covid-19

Ketika posisi jenazah ada di rumah sakit, keluarga hendaknya tetap tenang karena kelengkapan peralatan dan tenaga profesional medis yang insya Allah memadai. Namun, ketika rukti jenazah dilakukan di rumah, tentu diperlukan kehati-hatian dalam merawatnya. Dengan demikian, akan lebih aman jika perawatan dilakukan di rumah sakit ataupun di tempat khusus, menggunakan sarung tangan, alat pelindung diri (APD), dan dengan air mengalir. Para pelayat juga harus memenuhi protokol kesehatan yang telah dianjurkan seperti mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, tidak berjabat tangan, dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *