Menghimpun Kekuatan Aghniya untuk Misi Al-Maun

Wawasan 17 Mar 2021 0 157x
harta adalah titipan

harta adalah titipan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dunia adalah ambisinya, maka Allah akan menghancurkan kekuatannya, menjadikan kemiskinan di depan matanya dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah Allah takdirkan. Dan barangsiapa akhirat adalah tujuannya, maka Allah akan menguatkan urusannya, menjadikan kekayaannya pada hatinya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk” (HR Ibnu Majah).

***

Kebijakan Nyai Ahmad Dahlan mendirikan madrasah perempuan dari berbagai elemen masyarakat seperti juragan, buruh, dan remaja putri bukan untuk membedakan si kaya dan si miskin. Akan tetapi langkah tersebut merupakan salah satu strategi dalam memobilisasi potensi mereka untuk diarahkan pada hal-hal positif.

Di beberapa daerah ‘Aisyiyah juga melaksanakan kegiatan semacam itu, antara lain dengan membuat kelompok pengajian Aghniya’, dan kelas menengah untuk dihimpun menjadi sebuah kekuatan pendukung dalam mendirikan sebuah amal usaha atau kegiatan pemberdayaan dhu’afa dan mustadh’afin. Selain itu, pembinaan secara terus dilakukan juga terhadap dhu’afa dan mustadh’afin agar menjadi insan berdaya, mandiri, dan produktif yang dalam jangka panjang mampu sebagai subjek pemberdayaan.

Walaupun dalam Islam tidak ada pembedaan kelas –seperti dinyatakan bahwa setiap manusia di hadapan Allah swt. itu sama, dan Allah melihat pada derajat ketakwaannya–, namun dalam al-Quran juga disebutkan bahwa Allah memberikan kelebihan kepada siapa yang dikehendakinya. Dalam tinjauan ahli sosiologi disebutkan adanya stratifikasi sosial yang realitasnya memang nyata ada. Keragaman kelas dalam masyarakat yang memang sudah merupakan sunnatullah akan menjadi indah apabila masing-masing menyadari dan merasa saling membutuhkan.

Amal Usaha sebagai Upaya Mewujudkan Misi Dakwah   

Amal usaha ‘Aisyiyah merupakan sarana dakwah yang efektif karena semangat jihad yang dimiliki warga ‘Aisyiyah dengan “amwal” dan “anfus”, yaitu berjuang dengan harta dan jiwa yang manifestasinya mengerahkan segenap daya dan dana. Hal itu sebagai upaya mewujudkan visi bersama seluruh warga ‘Aisyiyah dengan menghimpun kekuatan warga secara umum. Disadari bahwa hakekat harta itu bukan hanya benda dan perhiasan, tetapi juga ilmu, tenaga, dan harapan atau keinginan yang dimanfaatkan sebagai wujud kebaktian kepada Allah.

Agar dapat terealisasi diperlukan dukungan harta dari berbagai pihak, khususnya para aghniya’ untuk mewujudkan cita-cita bersama dalam mendirikan amal usaha. Akan lebih utama  apabila terdapat pula andil berupa iuran warga sehingga semua merasa memilki. Visi bersama untuk mewujudkan sarana dakwah lewat amal usaha perlu digaungkan terus agar eksisitensi amal usaha ‘Aisyiyah mampu menjawab tuntutan kebutuhan masyarakat.

Peran Aghniya’ dalam Pemberdayaan Dhu’afa dan Mustadh’afin

Kelebihan orang kaya adalah kepemilikan harta yang lebih banyak dari rata-rata masyarakat. Akan tetapi, tidak semua orang kaya memiliki kesadaran memberi lebih dari seukuran kewajiban zakat. Sebenarnya harta yang menjadi milik seseorang selamanya sampai di yaumul akhir adalah justru yang yang dimanfaatkan untuk kepentingan atau kemaslahatan umat.

Kekayaan atau harta adalah ujian dari Allah dan semata-mata bagian dari perhiasan dunia. Dalam  QS. al-Kahfi [18]: 46 disebutkan, yang artinya, harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. Kekayaan yang sebenarnya juga berupa  kelapangan hati untuk mengendalikan hawa nafsu, dan bersyukur atas segala yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.

Orang-orang yang memiliki kelebihan harta yang disebut aghniya’ memiliki kewajiban berbagi terutama kepada dhu’afa dan mustadh’afin. Dengan kekayaannya mampu berbuat baik kepada banyak pihak. Hal-hal yang bisa dilakukan antara lain sebagai berikut: pertama, dengan ilmunya mampu membimbing dan mengajarkan ilmunya kepada yang lain; kedua, dengan kepandaiannya bisa memberdayakan orang yang lemah karena kebodohannya; ketiga, dengan kekuatannya mampu memberikan peluang-peluang untuk maju. Karena sesungguhnya semua orang menyimpan potensi tetapi tidak bisa berkembang karena tidak adanya peluang; keempat, dengan hartanya mampu berperan memberdayakan orang miskin. Jika keempat hal tersebut mampu dilakukan maka jumlah dhu’afa akan menurun karena dhu’afa telah berubah menjadi insan berdaya, produktif, dan mandiri. (Msn)

Tinggalkan Balasan