Parenting

Mengolah Stres Pada Anak

stres pada anak
stres pada anak

stres pada anak (foto: istockphoto)

Dewasa ini media sosial sering dihiasi dengan postingan-postingan bernuansa sendu, mulai dari masalah putus hubungan, masalah pekerjaan, hingga masalah perceraian. Postingan yang didominasi oleh usia dewasa ini ramai disiarkan di ruang-ruang publik media sosial. Pertanyaannya adalah, apakah hanya orang dewasa yang bisa mengalami stres?

Dilansir dari halodoc.com, disebutkan bahwa masalah stres tidak hanya dialami oleh orang dewasa. Anak-anak yang kita anggap sebagai manusia santai tanpa beban juga memiliki potensi untuk merasakan stres layaknya orang dewasa. Pemicunya beragam. Mulai dari tugas sekolah yang menumpuk, aktivitas yang padat, tuntutan oran tua, hingga konten media sosial yang mereka konsumsi sehari-hari.

Jika orang dewasa yang mengalami stres saja memiliki efek samping, bagaimana dengan anak? Masih dilansir dari halodoc.com, anak yang mengalami stres dapat memiliki gangguan emosional seperti cepat marah, tantrum, gangguan tidur, hingga kebiasaan mengompol. Lantas, apa saja si ciri stres pada anak? Dan bagaimana cara mengatasinya?

Disadur dari hellosehat.com, stres pada anak memiliki beberapa ciri. Pertama, perilaku negatif, di mana anak melakukan tindakan di luar kebiasaan, seperti mulai berbohong tentang nilai yang dia dapat di sekolah. Kedua, menarik diri dari pergaulan atau keluarga, ia lebih nyaman bermain sendiri ketimbang bersama teman-temannya.

Ketiga, mudah merasa takut. Contohnya adalah takut di tempat gelap, takut ditinggal orang tua, kehilangan kepercayaan diri ketika sendiri, dan takut ketika bertemu orang asing.

Keempat, sakit tanpa sebab. Dalam penelitian American Psychological Association yang dikutip hellosehat.com, jika stres yang diderita sudah begitu serius maka akan memunculkan gejala fisik, seperti sakit perut ataupun sakit kepala. Anehnya, ketika dibawa ke dokter anak tersebut tidak didiagnosis apapun. Hal ini wajar sebagai reaksi anak terhadap stres yang diderita.

Kelima, perubahan nafsu makan, yakni nafsu makan anak naik atau turun secara drastis. Keenam, gangguan tidur yang menyebabkan kesulitan tidur ataupun terbangun di malam hari, hingga merasakan mimpi buruk dan mengigau.

Ketujuh, mengompol. Ketika anak yang sudah berhenti dari kebiasaan ini kemudian kembali lagi secara tiba-tiba maka bisa dijadikan ciri stres pada anak, karena ketika anak mengalami stres dia cenderung kembali kepada kebiasaan saat masih kecil. Kedelapan, sulit berkonsentrasi, baik dalam kegiatan sekolah, mendengar perintah orang tua, maupun saat menonton televisi.

Baca Juga: Menghindari Stres dengan Berpikir Positif

Setelah mengenal ciri stres pada anak, lantas bagaimana cara mengatasinya? Masih dari hellosehat.com, cara mengatasi stres pada anak terurai pada sepuluh poin, yaitu:

Pertama, bantu anak menyadari bahwa dia sedang dilanda stres dengan dialog sederhana. Dengan begitu anak akan menyadari apa yang sedang dia rasakan. Kedua, dengarkan keluh kesahnya. Ketika anak sudah mulai nyaman dan terbuka, tugas kita adalah mendengarkan tanpa menghakimi ataupun menggurui.

Ketiga, bantu anak memahami perasaannya. Keempat, memahamkan bahwa perasaan sedih, marah, dan kecewa itu normal dan wajar. Kemudian kita beritahu bagaimana cara mengatasi perasaan tersebut.

Kelima, bantu anak dalam mengelola emosi, dan perlu diingat setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda. Keenam, mencari solusi stres pada anak secara bersama-sama, dengan begitu anak akan merasa lega dan terbebas dari beban.

Ketujuh, menghadirkan suasana rumah yang tenang dan aman supaya anak merasa aman di tengah keluarga. Kedelapan, luangkan waktu untuk anak. Sesibuk apapun kita dengan pekerjaan, tetap sempatkan waktu bersama anak. Dengan begitu anak tidak merasa sendiri dan merasa memiliki orang yang selalu bisa diandalkan.

Kesembilan, mendukung anak dengan hal-hal yang positif, seperti memberikan pujian, pelukan, dan ciuman. Kesepuluh, pastikan anak makan dan minum secara teratur disertai hidup sehat. Dengan begitu diharapkan anak dapat tidur dan istirahat lebih nyenyak.

Nah, itu tadi beberapa langkah untuk mengatasi anak yang menderita stres. Semoga membantu. Jika langkah di atas sudah dilakukan dan tidak ada perubahan, bisa berkonsultasi langsung dengan ahlinya, ya.

Oleh: Fathiyya Khonsa (mahasiswa magang Suara ‘Aisyiyah)

Related posts
Parenting

Peran Orang Tua dalam Monitoring Tumbuh Kembang Anak

Oleh: Yekti Satriyandari* Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama di bidang kesehatan yang saat ini terjadi di negara Indonesia. Derajat…
Pendidikan

Mendidik Anak Berkolaborasi

Oleh: Bukik Setiawan* Apa pentingnya kolaborasi buat masa depan anak? Bagaimana orang tua membantu anaknya menguasai kompetensi kolaborasi? Kompetensi yang paling diabaikan…
Wawasan

Mensikapi Childfree secara Bijak

Oleh: Alimatul Qibtiyah Perempuan itu secara kodrati dapat melahirkan. Meskipun demikian, pengambilan keputusan untuk mau melahirkan atau tidak, mau punya anak berapa,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.