Muda

Mengurangi Insecure: Agar Nyaman dengan Diri Sendiri

insecure

Oleh: Dede Dwi Kurniasih

Terakhir kali bercermin, apa sih yang Sobat Muda pikirkan tentang diri sendiri? Apakah fokus pada wajah kita yang tampak lelah? Atau mungkin fokus ke perut yang buncit? Atau merasa insecure alias rendah diri dan overthinking? Jika hampir semua jawaban Sobat Muda adalah jawaban yang negatif, rubrik Muda edisi kali ini akan mencoba membantu Sobat Muda agar perlahan merasa nyaman dengan diri sendiri dan mengurangi insecure.

Merasa insecure adalah hal yang sangat wajar dan bisa jadi bagus sepanjang memunculkan perasaan ingin berkembang. Misalnya kita insecure melihat teman naik jabatan. Lantas perasaan tidak nyaman ini menjadi dorongan untuk bekerja lebih keras dengan harapan bisa naik jabatan juga.

Sedikit insecure memang diperlukan. Namun seringkali, kondisi insecure malah membuat kita makin fokus pada kekurangan diri, menghakimi diri sendiri makin keras, dan bahkan tidak jarang memunculkan perasaan tidak nyaman pada diri. Lantas, bagaimana caranya agar bisa nyaman pada diri sendiri?

Marla Mervis Hartmann, seorang life coach dari Amerika, mengatakan bahwa salah satu caranya adalah dengan mendengarkan apa yang tubuh kita butuhkan. Perlu diketahui bahwa tubuh mengeluarkan reaksi berlainan terhadap sesuatu yang berbeda.

Jadi kita perlu mengenali, mendengarkan, dan memahami bagaimana tubuh bekerja. Misal saat kurang tidur, kita sebenarnya butuh istirahat. Namun kita merasa harus olahraga agar tetap disiplin. Jika mendengarkan tubuh, kita bisa tetap melakukan olah raga ringan. Bukan memaksa berolahraga sekeras biasanya.

Baca Juga: Realistis Menghadapi Quarter Life Crisis

Sebenarnya, kita juga bisa menerapkan ini pada keadaan mental, yaitu dengan mulai memperhatikan bagaimana caranya berbicara pada diri sendiri. Contohnya adalah self talk karena bagaimana kita memandang diri sendiri akan berpengaruh terhadap cara kita berpikir dan berperilaku.

Misalnya, kita merasa diri kita adalah orang yang malas dan tidak berguna. Wajar jika akhirnya kita menggunakan perasaan ini untuk memilih mager alias rebahan berlebihan. Kita bisa mulai mengecek cara mengobrol dengan diri sendiri. Apakah kita cukup denial terhadap sisi negatif pada diri kita dan semakin menjatuhkan diri sendiri?

Sejatinya, kita bisa secara perlahan mengubah sisi negatif menjadi positif tapi tetap realistis, misalnya dengan bercerita ke orang lain, mulai terbuka, atau mungkin meminta bantuan profesional seperti konselor atau psikolog. Idealnya, ketika kita sudah bisa mendengarkan diri sendiri dan fokus pada apa yang tubuh rasakan, kemungkinan besar insecure dan overthinking akan berkurang, karena inilah konsep midfullness, di mana kita aware terhadap diri kita sendiri.

Sobat muda, mari kita berkenalan dengan konsep personal accountability. Konsep ini sebenarnya mirip dengan bertanggung jawab pada seluruh perkataan dan perilaku yang kita lakukan. Penekanannya ada pada disiplin diri. Disiplin di sini bukan berarti kita perlu bertanggung jawab dengan menghukum diri sendiri ketika kita salah, tetapi fokus kepada isu mengapa dan untuk siapa kita melakukan itu, apa hasil yang ingin dicapai, dan seterusnya.

Konsep ini membantu kita untuk bisa menemukan jalan tengah karena kadang-kadang kita terjebak di antara jadi tidak produktif atau kita jadi toxic productivity. Namun, bukan berarti kita tidak bisa sama sekali atau berarti kita melewati semua ini sendirian. Ketika kita merasa membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk pergi ke layanan konsultasi agar kita menjadi nyaman pada diri sendiri juga bertanggung jawab terhadap hal yang akan kita tuntaskan. [3/23]

*Peminat isu kesehatan mental

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *