Menilik Kaderisasi Ulama Perempuan Persyarikatan

Liputan 2 May 2020 0 55x

Ulama tidak dilahirkan namun ulama lahir dari sebuah proses pendidikan. Sejak awal, pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan telah menyadari bahwa pendidikan ulama sangatlah penting untuk regenerasi ulama. Demi menumbuhkan para kader ulama yang akan berkhidmat untuk agama dan bangsa, tahun 1918 didirikankan al-Qismul Arqa sebagai embrio Madrasah Muallimin-Mu’allimat Muhammadiyah.

Seiring perkembangan gerakan, Muhammadiyah-‘Aisyiyah terus mengembangkan amal usaha di bidang pendidikan antara lain dengan berdirinya berbagai sekolah, madrasah, maupun pesantren seperti Muhammadiyah-‘Aisyiyah Boarding School, maupun asrama  Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya itu, Muhammadiyah juga mengelola PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah) yang diharapkan dapat menjadi pusat kaderisasi ulama tarjih Muhammadiyah.

Pembinaan Keislaman melalui Asrama PTMA

Muhsin Hariyanto, Kepala University Residence (Unires) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, mengungkapkan Unires yang didirikan sejak 2008 ini bertujuan untuk menumbuhkan kader pemimpin umat yang berkepribadian Islam dan mampu mengembangkan diri dalam kehidupan akademis dan terciptanya masyarakat utama sebagaimana dicita-citakan Muhammadiyah.

Sebagai asrama mahasiswa maupun mahasiswi, materi yang disampaikan dan kegiatan yang dilakukan di Unires merupakan upaya pembentukan kepribadian Islam residence atau sebutan bagi mahasiswa  yang tinggal di Unires. Pertama, secara klasikal, terdapat pemberian materi akidah, ibadah, dan akhlak. Selain itu, tambah Muhsin, terdapat materi tahsin dan tahfidz, serta kajian ayat maupun hadis pilihan.

Kedua, pembiasaan tadarus al-Qur’an, shalat wajib berjama’ah, sunnah rawatib, tahajjud, dhuha, puasa sunnah, berbusana Islami, pergaulan Islami, dan tahfidz melalui simaa’an. Selanjutnya, terdapat kegiatan pening-katan keterampilan bahasa, seperti english hour seminggu dua kali, Kuliah Tujuh Menit (Kultum) 3 bahasa (Arab, Inggris, dan Indonesia) setelah sholat magrib, Isya, dan subuh.

Secara garis besar, papar Muhsin, materi lebih banyak terkait pengayaan al-Islam dan  Kemuhammadiyahan yang diberikan dalam bentuk talim, diskusi, ceramah, kuliah umum, dan mentoring. Adapun proses bimbingan diampu oleh senior residence serta asisten recidende sebagai pembimbing setiap lorong asrama, ungkap Muhsin, saat ditemui Suara Aisyiyah di Unires Putri (12/2019).

Meskipun demikian, saat ditanyakan kepada Muhsin, apakah Unires merupakan bagian dari pendidikan ulama? Muhsin menyatakan secara khusus tidak. Bahkan berulang-ulang Muhsin menyatakan bahwa pembinaan di Unires tidak didesain menjadi ulama. “Orientasi utama Unires adalah menumbuhkan mahasiswa yang mempunyai wawasan keIslaman dan Kemuhammadiyahan yang lebih baik dibanding mereka yang tidak berada di Unires.

Namun, bukan tidak mungkin, ungkap Muhsin, berkat apa yang didapatkan dari pembinaan di Unires, dapat menjadi bekal untuk lebih memahami Islam dan Muhammadiyah serta mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebihbaik, salah satunya menjadi ulama.

Muhsin tidak menampik adanya tantangan dalam pembinaan di Unires, apalagi yang dibina adalah mahasiswa baru yang masih perlu beradaptasi pada lingkungan tempat tinggal, pertemanan, hingga kebiasaan. Namun, ungkapnya, dengan upaya pembinaan yang bersifat kekeluargaan dan apresiasi penuh pada residence, diharapkan mereka betah dan menikmati proses-nya.

Kaderisasi Ulama Perempuan

‘Aisyiyah pun menyadari pentingnya kaderisasi ulama perempuan. Keberadaan Mu’allimat maupun inisiatif Nyai Dahlan untuk menyeleggarakan internaat atau asrama perempuan merupakan contoh dari kesadaran tersebut. “Pendidikan ulama cukup penting di tengah modernisasi saat ini, mengingat ulama yang dibutuhkan adalah ulama yang menguasai ilmu keagamaan, teknologi, maupun ilmu lainnya sehingga dapat menjadi rahmatan lilalamin,” ungkap Titin Nursyamsi, Wakil Direktur II Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan.

Titin menambahkan, menumbuhkan kader ulama perempuan ‘Aisyiyah yang unggul dan dapat menjadi pemimpin masa depan merupakan tujuan dari amal usaha yang dikelola Pimpinan ‘Aisyiyah Wilayah Sulawesi Selatan ini. Dalam wawancara bersama Suara Aisyiyah, Titin menjelaskan bahwa santri pondok pesantren yang berdiri 8 Oktober 1987 silam ini memang didesain sebagai kader ulama perempuan ‘Aisyiyah.

Titin kemudian menjelaskan model pembelajaran ulama yang dilakukan, pertama, dengan sistem perkaderan berjenjang melalui Angkatan Muda Muhammadiyah, pelatihan mubalighat, Baitul Arqam, serta pembinaan bahasa baik bahasa Arab dan Inggris serta program tahfidz. Kedua, pesan-tren Ummul Mukminin melakukan pembinaan santriwati secara khusus melalui pembentukan asrama khusus penghapal al-Qur’an, asrama khusus bahasa Arab, dan asrama khusus bahasa Inggris.

Ketiga, melakukan praktik tahsin qiraat sesudah sholat. Keempat. pengajian tafsir maudu’i dari kiai pesantren dua kali dalam sepekan. Kelima, penguatan ceramah bahasa Arab setiap pekan oleh direktur dan guru-guru lainnya. Keenam, melibatkan satriwati dalam kerja tadabbur, kajian tafsir al-Qur’an-hadis, termasuk kajian Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah. (Gustin Juna)

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 1 Januari 2020, hlm. 18-19.

Leave a Reply