Perempuan

Menjadi Perempuan Merdeka

perempuan merdeka

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi*

Antara tahun 2014 hingga 2017, aku selalu menikmati tontonan drama “Tetangga Masa Gitu?” di NET TV. Tayangan serial komedi situasi itu dibintangi oleh 4 (empat) artis masyhur dan berkelas. Antara lain: Dwi Sasono, Sophia Latjuba, Deva Mahendra, dan Chelsea Islan. Mereka bermain dengan kualitas acting yang sangat apik alami. Tampilan mereka mampu menyuguhkan sebuah kehidupan sehari-hari di layar kaca.

Menonton pertunjukan ini, batinku bisa larut dalam peristiwa itu. Aku ikut gemes, sebel, marah dan macam-macam. Namun tiba-tiba tersadar, bahwa sejatinya aku hanya menonton sebuah pertunjukan televisi. Serial ini cukup sukses. Bisa tayang sebanyak 593 episode. Luar biasa.

Serial komedi ini bercerita tentang keseharian dua pasangan suami istri yang hidup bertetangga. Pertama adalah pasangan Adi, pria Gunungkidul dan Angela Schweinsteiger, blasteran Jerman-Indonesia. Kedua adalah pasangan Bintang Howard Bornstein, keturunan Amerika-Indonesia, dengan Bastian. Pasangan muda yang selalu romantis. Bintang adalah perempuan sangat pintar, hingga dijuluki sebagai Wikipedia berjalan. Berbeda dengan suami, Bastian. Ia seorang sales sabun cuci.

Pasangan Adi dan Angela juga memiliki perbedaan penghasilan cukup jauh. Adi, seorang guru seni rupa di sebuah SMA yang sering bermalas-malasan. Hidupnya tergantung pada istri, Angela Schweinsteiger. Seorang advokat profesional. Penghasilannya berbeda jauh dengan suaminya. Mereka sudah menikah selama selama 12 tahun dan belum dikaruniai anak, namun semua tetap berjalan baik-baik saja.

Mengelola Perbedaan

Dalam kehidupan rumah tangga, perbedaan penghasilan dan kepintaran antara istri-suami, sejatinya adalah hal yang lumrah. Jika kelebihan itu ada pada suami, maka (umumnya) orang akan menganggap biasa. Bahkan seharusnya seperti itu. Namun, jika kelebihan-kelebihan itu ada pada istri, maka ia bisa menimbulkan masalah. Hal itu sering terjadi pada masyarakat yang berbudaya patriarki. Seorang laki-laki, akan selalu dipersepsi sebagai sebagai pemimpin rumah tangga. Sebagai seorang pemimpin, maka ia harus selalu berposisi serba lebih dari pasanganya.

Ada beragam bentuk dominasi oleh laki-laki yang hidup dalam sistem sosial yang selalu menempatkannya sebagai pemegang kekuasaan utama. Salah satunya adalah pengaturan soal sumber pendapatan dalam rumah tangga. Misalnya, seorang suami melarang istri untuk bekerja di luar rumah. Alasannya bisa beragam. Ada yang meyakini itu sebagai perintah agama. Karena suami telah mencukupi semua kebutuhan istri dan anak-anak.

Ada juga alasan yang jarang terungkap secara gamblang. Bahwa larangan itu, sejatinya adalah bentuk penundukan seorang yang merasa lebih berkuasa kepada yang dikuasainya. Dengan menempatkan dirinya sebagai satu-satunya sumber pendapatan, maka hal itu bisa menegaskan dominasinya atas yang lain.

Baca Juga: Perempuan Merdeka, Kemajuan Peradaban Tercipta

Meski demikian, banyak pasangan yang kehidupan rumah tangganya tetap berjalan dengan baik, meskipun keduanya (suami-istri) sama-sama bekerja di luar rumah. Bahkan, ada juga pasangan yang bersepakat untuk menempatkan suami menjadi pihak yang bekerja di rumah, mengurus urusan domestik. Sedangkan istri bekerja di luar rumah.

Tidak ada kebenaran tunggal yang berlaku bagi semua pasangan. Ada yang ideal menurut satu pasangan, belum tentu berlaku buat pasangan lain. Karena setiap pasangan, pada dasarnya unik dan memiliki keistmewaan sendiri. Berbagai pilihan tersebut bisa berjalan dengan tanpa masalah. Prinsip universalnya adalah, pilihan apapun yang akan diambil oleh setiap pasangan, harus dimulai dengan kesepakatan bersama. Itu adalah prinsip utama dalam mengelola perbedaan yang pasti ada dalam setiap pasangan.

Penghasilan dan Relasi Kuasa

Tontonan komedi situasi “Tetangga Masa Gitu?” tersebut, begitu apik menampilkan potret kehidupan yang begitu nyata. Gambaran tentang relasi suami-istri dalam sebuah rumah tangga. Adi, seorang guru kesenian (lukis) di SMA, jelas memiliki penghasilan yang jauh di bawah istrinya. Seorang advokat profesional. Apalagi Adi adalah laki-laki yang malas. Sehingga kecil kemungkinan untuk mendapatkan penghasilan tambahan sebagai seorang pelukis.

Sebagai istri, Angel tidak serta merta bersikap tunduk, patuh, dan menuruti semua kemauan Adi. Bahkan, Angel terkesan pelit dalam memberikan uang saku tambahan kepada suami. Adi harus merayu untuk bisa memperoleh uang tersebut. Sebagai suami, mungkin juga pemimpin, Adi tidak serta merta bisa berkuasa penuh atas istrinya. Bahkan, dia tidak bisa menentukan keputusan (apapun) tanpa sepersetujuan Angel. Urusan penataan tempat tidur, dapur, pembelian mobil, dll. Angel adalah penentu utamanya. Mengapa demikian? Mungkin, karena Angel merupakan peraih sumber pendapatan terbanyak dalam rumah kecil mereka.

Masih dalam cerita yang sama. Meski ada ketimpangan kepintaran dalam rumah tangga Bintang dan Bastian, namun, kepintaran itu tidak banyak berpengaruh dalam relasi kuasa antar suami-istri. Bintang tetaplah sebagai istri yang bertindak umumnya pasangan muda lain. Mereka saling membahagiakan, saling melayani dan tidak terlihat ada yang lebih dominan dalam relasi mereka di dalam rumah tangganya.

Perempuan Berpenghasilan

Mari cermati kehidupan sehari-hari di dalam rumah tangga kita, atau orang tua kita. Apakah ada yang lebih dominan dalam relasi suami-istri? Jika ada, dari manakah sumber munculnya sikap tersebut? Apakah itu terkait dengan sumber pendapatan sang pelaku? oleh watak dan ego seseorang? atau oleh sikap yang bersumber dari pemahaman tentang dogma yang mengharuskan dirinya menjadi pemimpin di dalam rumah tangga?

Aku berpandangan, bahwa seorang istri, hendaknya memiliki penghasilan sendiri dari hasil kemandiriannya. Apakah harus bekerja di luar rumah, atau mengelola usaha dari rumah sendiri, itu soal pilihan. Hematku, seseorang yang memiliki penghasilan sendiri, dan dikelola secara mandiri, maka ia akan lebih memiliki kepercayaan diri yang lebih baik. Sebagai manusia, ia lebih bebas untuk menggunakan uangnya sendiri. Jauh lebih penting, adalah bisa mengurangi ketergantungan kepada orang lain. Itulah makna kemerdekaan manusia yang sesungguhnya.

*Ketua PRM Legoso – Ciputat Timur, Tangerang Selatan

Related posts
Kebijakan Politik

Peran Politik Perempuan: Belajar dari Seruan Aisyiyah Tahun 1955

Oleh: Hajar Nur S Majalah Suara ‘Aisyiyah, Dzul-Qo’dah 1374, Juni 1955, memuat Seruan Pusat Pimpinan ‘Aisyiyah tentang Pemilihan Umum. Terdapat empat hal…
Berita

Menghadapi Pemilu 2024, LPPA PP Aisyiyah Kaji Urgensi Peran Perempuan di Sektor Politik

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) PP ‘Aisyiyah menyelenggarakan Webinar Politik “Tantangan ‘Aisyiyah Menghadapi Pemilu 2024”. Kegiatan ini…
Perempuan

Fatwa dan Perhatian Muhammadiyah tentang Perempuan

Oleh: Niki Alma Febriana Fauzi Fatwa adalah suatu penjelasan atau jawaban yang diberikan oleh mufti kepada mustafti (orang yang bertanya) tentang suatu…

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.