Pendidikan

Menumbuhkan Karakter Murid TK ABA di Abad Kedua Aisyiyah

karakter anak
karakter anak

karakter anak (foto: pixabay)

Oleh: Masyitoh Chusnan

Convention on the Rights of the Child menegaskan bahwa suatu bangsa akan menjadi bangsa yang besar jika mereka dapat memberikan perlindungan yang layak pada anak, memberikan kesejahteraan lahir, batin, dan sosialnya. Konvensi Hak Anak yang disahkan oleh Majelis Umum PBB berdasarkan Resolusi 44/23 tahun 1989 tersebut diadopsi oleh hampir semua bangsa di dunia, tak terkecuali Indonesia yang telah mengakomodasinya sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Regulasi tersebut kemudian diperbarui menjadi Undang-undang Nomor 17 tahun 2016 (E. Yulaelawati, 2018: 87). Berangkat dari kesadaran bahwa masa depan anak bangsa dan umat manusia ditentukan oleh kesejahteraan anak saat ini, maka pemenuhan hak-hak anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, serta pengembangan potensi yang dimilikinya, menjadi isu strategis yang harus menjadi perhatian kita semua.

‘Aisyiyah sebagai organisasi yang telah menginisiasi berdirinya lembaga pendidikan anak usia dini sejak tahun 1919 dengan nama Frobel School, telah berpikir bahwa pendidikan anak merupakan pendidikan yang sangat penting dan strategis. ‘Aisyiyah menyadari bahwa pendidikan adalah kunci untuk mengubah nasib bangsa sehingga berdirinya Frobel School dengan mengedepankan nilai-nilai keislaman berkemajuan merupakan hal yang sangat perlu.

Sejalan dengan perkembangan zaman dan berbagai isu yang muncul terkait dengan pendidikan dan pelayanan anak, maka Bidang Pendidikan ‘Aisyiyah menghadapi tantangan yang luar biasa dan cukup signifikan. Tantangan dan permasalahan yang muncul merupakan hal yang sangat fundamental bagi perkembangan anak. Oleh karena itu, ‘Aisyiyah harus terus-menerus melakukan evaluasi dan langkah strategis serta pemikiran untuk merespons tantangan dan perkembangan yang terjadi. Hal ini juga perlu dihadapi dengan membuat inovasi-inovasi baru.

Baca Juga: Mengenal Siti Umniyah: Sosok Pendiri TK ABA

Menguatnya isu pembangunan karakter mengantar alam pikir kita pada nilai-nilai religiusitas/spiritualitas, nasionalisme, integritas, kemandirian, dan gotong royong. Saripati dari kelima nilai tersebut sesungguhnya merujuk kepada disiplin dan etos kerja dalam konteks menyiapkan generasi yang siap bersaing di kancah global yang memerlukan kesadaran kolektif para pemangku kepentingan untuk mengejawantahkannya.

Tidak ada satupun bangsa di dunia ini yang maju tanpa dilandasi kedisiplinan dan etos kerja. Nilai-nilai tersebut tentu dapat ditanamkan pada diri anak sejak dini. Penanaman nilai tersebut dilakukan dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat (E. Yulaelawati: 70).

Sejalan dengan itu, perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat telah menggeser pola perilaku anak. Tanpa disadari, begitu banyak yang terlewati oleh anak dari kearifan alam dan lingkungan yang menjadi ruang hidup mereka.

Inovasi Pendidikan ‘Aisyiyah

Sebagai pionir pendidikan anak usia dini di Indonesia, telah banyak inovasi yang dikembangkan dan prestasi yang diraih oleh ‘Aisyiyah. TK ABA terus melaju menjadi percontohan dan memperoleh penghargaan di tingkat nasional.

Memasuki abad kedua, Majelis Pendidikan ‘Aisyiyah mengokohkan karakter pendidikan TK ABA dengan berlandaskan iman, ilmu dan amal, untuk mendidik jiwa merdeka, penuh toleransi, kedamaian dalam keragaman yang dilandasi pada nilai-nilai Islam berkemajuan. Harapannya, anak didik akan kuat karakternya, kokoh nilai keislamannya, cinta pada lingkungannya, cinta pada sesama, dan menjadi orang yang mencintai kedamaian.

Tiga nilai dasar yakni iman, ilmu, dan amal akan menjadi fondasi bagi pembelajaran anak-anak TK ABA. Iman, sebagai sebuah keyakinan dalam hati, akan lebih kokoh, jika disertai dengan pengembangan ilmu. Inilah yang akan mendasari setiap langkah amal perbuatan. Tiga nilai dasar itu memiliki landasan yang termaktub dalam al-Quran, misalnya saja surat al-Mujadilah [58]: 11, surat Luqman [31]: 12-13, dan lain sebagainya.

Selain itu, nilai-nilai tersebut juga dilandasi berbagai landasan filosofis lain seperti Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Disebutkan dalam butir 4 PHIWM, kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian tidak terpisahkan dengan iman dan amal saleh yang menunjukkan derajat kaum muslimin.

Menumbuhkan Karakter Murid TK ABA

Pendidikan karakter adalah usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk kepribadian anak didik dalam pembentukan moral, etika, dan rasa berbudaya yang baik serta berakhlakul karimah. Harapannya, akan tumbuh kemampuan pada diri anak untuk mengambil keputusan menentukan baik atau buruk, serta mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh rasa tanggung jawab. Nilai di atas dikembangkan menjadi “Karakter Pendidikan Anak Usia Dini/TK ABA ‘Aisyiyah, yaitu berupa spiritualitas, kebajikan, berkemajuan, nasionalisme, dan perdamaian”.

Nilai pertama, spiritualitas. Anak memiliki kesadaran dan penghayatan ilahiah yang terekspresikan dalam ucapan-ucapan dan perilakunya. Misalnya, suka diajak beribadah dan belajar tentang agama, suka mengucapkan kalimat thayyibah, dan mengetahui serta meyakini bahwa alam dan lingkungannya merupakan ciptaan Allah swt.

Nilai kedua, kebajikan. Anak terbiasa melakukan dan menebar perbuatan terpuji, terbaik, dan mulia. Misalnya, menghormati orang tua, suka menolong, berbagi kepada sesama, ramah, rendah hati dalam pergaulan, menyayangi binatang, merawat tanaman, serta suka menjaga kebersihan lingkungan.

Baca Juga: A Reflection of A Century of ‘Aisyiyah

Nilai ketiga, berkemajuan. Anak memiliki semangat untuk belajar, menyukai hal-hal yang baru, suka bertanya tentang apa saja yang dihadapinya, suka berkreasi untuk menghasilkan karya sendiri, berusaha meraih prestasi dan unggul, serta percaya diri dan mandiri.

Nilai keempat, nasionalisme. Anak merasa bangga sebagai warga negara Indonesia, menyukai Indonesia sebagai tanah airnya, ingin tahu tentang berbagai kehidupan di Indonesia, bersemangat apabila cerita tentang Indonesia, dan lain sebagainya.

Nilai kelima, perdamaian. Anak suka berteman, suka menolong, dan bersikap positif terhadap teman-temannya dari berbagai suku dan agama, menghargai keyakinan agama teman dan orang lain, dengan tetap istikamah terhadap agama yang dianutnya untuk mewujudkan ketenangan dan kedamaian hidup (Keputusan Tanwir II ‘Aisyiyah 2015-2020).

Strategi yang Dilakukan

Setidaknya ada empat strategi yang dapat dilakukan dalam menanamkan serta mewujudkan nilai-nilai dasar di atas kepada anak. Pertama, keteladanan. Keteladanan disebut uswah hasanah, yang berarti perilaku baik yang dapat ditiru dalam membina dan mendidik anak. Tidak hanya dapat dilakukan dengan model pembelajaran modern, tetapi juga dilakukan dengan pemberian contoh teladan.

Kedua, pembiasaan. Metode pembiasaan adalah suatu cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak berpikir, bersikap, bertindak sesuai dengan ajaran agama Islam. Metode ini sangat praktis dalam pembentukan karakter anak usia dini. Inti pembiasaan adalah pengulangan yang terus menerus agar dapat menjadi kebiasaan.

Ketiga, nasihat. Metode ini merupakan metode fleksibel yang dapat digunakan oleh para pendidik. Metode menasihati peserta didik dalam konteks menanamkan nilai-nilai keagamaan mempunyai ruang yang sangat luas untuk dapat diaplikasikan kepada peserta didiknya, baik di kelas secara formal maupun informal di luar kelas.

Keempat, hukuman/tsawab. Salah satu upaya mewujudkan tujuan pendidikan adalah perlunya ditanamkan sikap disiplin dan tanggung jawab dalam proses pembelajaran. Salah satu metode tersebut adalah pemberian hukuman atau punishment. Adapun proses pemberian hukuman harus disesuaikan dengan tingkat kesalahan.

Metode ini mempunyai syarat-syarat yang harus dilakukan antara lain harus dilandasi dengan cinta dan kasih sayang, pemberian hukuman merupakan cara dan alternatif yang terakhir, hukuman harus menimbulkan jera kepada anak didik, dan mengandung unsur edukasi.

Kualitas karakter amat menentukan jalan pikiran dan kesuksesan anak didik. Oleh karena itu, anak yang berkarakter kuat akan dapat beradaptasi dengan lingkungan global yang terus berubah. Untuk itu diperlukan reaktualisasi dan pengembangan nilai-nilai dalam dinamika peradaban yang semakin maju dan penuh tantangan.

Wallahu A’lam Bishawab

Related posts
Lensa Organisasi

Memperkuat Tata Kelola Aisyiyah di Era yang Berubah

Oleh: Hajar Nur S. Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi modern pembaharu Islam. Muhammadiyah lahir di tengah kejumudan yang melanda warga bangsa, tidak terkecuali…
Berita

Refleksi Akhir Tahun 2022, Salmah Orbayinah Soroti Berbagai Masalah Indonesia Kekinian

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Di penghujung tahun 2022, Masjid Gedhe Kauman DI Yogyakarta menggelar Refleksi Akhir Tahun dan Pasca Muktamar Muhammadiyah-‘Aisyiyah ke-48…
Berita

Entaskan Masalah Gizi Anak Indonesia, Aisyiyah dan Muslimat NU Jalin Kolaborasi

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Dalam rangka mengentaskan masalah gizi masyarakat Indonesia, PP ‘Aisyiyah melakukan kolaborasi dengan Muslimat Nahdhatul ‘Ulama (NU). Kolaborasi ini…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *