Keluarga

Menumbuhkan Nilai Perdamaian, Menghargai Kemajemukan

masyarakat majemuk

Oleh: Mahsunah Syakir

Di antara tujuan pernikahan adalah terciptanya keluarga sakinah yang diliputi suasana aman, tenteram, dan damai karena terjaganya hubungan yang saling menyayangi, melindungi, dan saling menghargai. Namun, untuk mewujudkan semua itu tidaklah mudah karena memerlukan proses panjang, sejak usia dini sampai dewasa. Sejauh mana usaha orang tua dalam membentuk karakter anak juga menjadi faktor yang mempengaruhi.

Saat seseorang dilahirkan di tengah-tengah keluarga, itu artinya ia juga menjadi bagian dari suatu masyarakat yang tentu memiliki keragaman budaya, agama, dan corak kehidupan yang berbeda. Kehadiran yang disambut dengan suka cita dan penuh limpahan kasih sayang akan menenteramkan jiwa anak sehingga ia tumbuh menjadi individu yang sehat, baik fisik, psikis, maupun sosial.

Tantangan di Tengah Keberagaman

Tidak dapat dimungkiri bahwa hidup dalam masyarakat yang beragam, baik budaya, agama, bahkan etnis, merupakan tantangan tersendiri dan memerlukan penyikapan yang bijaksana. Kemajuan teknologi serta kemudahan transportasi dan komunikasi antardaerah, antarpulau, bahkan antarnegara telah memudahkan mobilitas penduduk dari suatu daerah ke daerah lain. Arus migrasi dari desa ke kota juga menunjukkan angka yang semakin tinggi. Beberapa hal tersebut akan berpengaruh pada perubahan gaya hidup dan budaya.

Permasalahan lain adalah realitas kehidupan dalam masyarakat pada bidang ekonomi sebagai salah satu pilar tegaknya keluarga sakinah. Hal ini karena kondisi ekonomi akan berpengaruh pada banyak aspek, seperti pendidikan, kesehatan, dan sosial. Perbedaan masing-masing kondisi ekonomi keluarga dapat menyebabkan adanya stratifikasi sosial. Hal tersebut dapat menimbulkan kecemburuan sosial yang diekspresikan dengan tindakan yang tidak diinginkan. Terjadilah kesenjangan antara miskin dan kaya atau antara pejabat dan rakyat biasa sehingga sering memicu terjadinya konflik.

Terjadinya konflik sosial sangat meresahkan karena merusak tatanan kehidupan yang stabil. Potret masyarakat yang rukun dengan budaya gotong royong berubah sebaliknya, menjadi egoistis, individualis, dan acuh tak acuh, bahkan sebagian cenderung anarkis.

Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya-upaya meminimalisasi terjadinya konflik dengan cara indah untuk mewujudkan perdamaian. Hal tersebut menjadi tugas bersama pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk mencari akar masalah terjadinya konflik, kemudian melakukan pendidikan perdamaian, termasuk melalui keluarga.

Keluarga dan Perdamaian

Fungsi keluarga antara lain menanamkan nilai-nilai agama, moral, dan akhlakul karimah, menjalin persaudaraan atau ukhuwah, anti kekerasan, serta menjauhi perseteruan, permusuhan, dan prasangka buruk terhadap saudara maupun orang lain. Islam selalu mengajarkan kepada umatnya pentingnya ukhuwah sehingga beberapa kali disebut dalam al-Quran, yaitu ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah, dan ukhuwah wathaniyah.

Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan sesama muslim. Dalam Q.S. al-Hujurat ayat 10 disebutkan (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Baca Juga: Anak Membutuhkan Perdamaian

Dalam beberapa hadis sangat jelas disebutkan bahwa sesama muslim itu harus memenuhi haknya, bahkan Rasulullah saw. mengibaratkan muslim satu dengan lainnya itu bagaikan satu badan, jika yang satu sakit, semua akan merasakan sakit.

Ukhuwah basyariyah adalah persaudaraan sesama manusia. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya), “Demi Zat yang Menguasai Jiwaku, tidak termasuk beriman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai diri sendiri.” (H.R. Muslim)

Ukhuwah wathaniyah adalah persaudaraan sesama bangsa. Dalam Q.S. al-Hujurat ayat 13 bahkan disebutkan bukan hanya satu bangsa tetapi antarbangsa. Artinya, “Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsabangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

Kiat Menghargai Kemajemukan

Menciptakan keluarga tangguh dalam menghadapi berbagai situasi dan perkembangan zaman di era globalisasi yang tidak ada lagi batas antara negeri satu dengan negeri lainnya harus dilakukan setiap keluarga. Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri atas berbagai suku, agama, dan budaya. Agar tetap bersatu dan terjalin persaudaraan, diperlukan kiat-kiat yang diawali dari dalam keluarga antara lain sebagai berikut.

Pertama, penanaman sifat saling memahami dan saling pengertian baik dalam lingkup kecil maupun luas. Setiap orang diciptakan oleh Allah dengan beberapa karakteristik yang satu dengan lainnya tidak sama sehingga diperlukan sikap saling memahami terhadap perbedaan yang timbul dalam pergaulan.

Kedua, saling toleransi dan menghormati tanpa meninggalkan prinsip syariah dan kebangsaan. Setiap kelompok masyarakat atau keluarga memiliki budaya yang berbeda, kebiasaan berbeda, pola asuh berbeda (keluarga), serta pengamalan agama berbeda, sesuai dengan agama yang dianutnya. Oleh karena itu, diperlukan saling toleransi dan saling menghormati dalam berbagai intetraksi.

Dalam hal ritual keagamaan, ada rambu-rambu yang tetap harus dipegang teguh, yaitu “lakum diinukum waliyadiin”, bagimu agamamu, bagiku agamaku. Hal ini tertuang dalam Q.S. al-Kafirun ayat 6. Adapun dalam alBaqarah ayat 139 disebutkan “…lanaa a’maalunaa wa lakum a’maalukum wa nahnu lahu mukhlishun”, artinya…bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.

Ketiga, membangun pribadi pemaaf. Manusia adalah tempat salah dan lupa. Dalam pergaulan, tak selamanya yang dilakukan orang lain sesuai dengan kehendak kita. Boleh jadi seseorang merasa tersakiti karena ulah sahabat, tetangga, atau saudara. Jika ingin enjoy, baik di dalam keluarga maupun pergaulan masyarakat, seseorang harus mampu melupakan kesalahan orang lain dan memaafkannya.

Dalam Q.S.al-A’raf ayat 199 disebutkan (yang artinya), “Jadilah kalian pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang- orang yang bodoh”. Allah juga berfirman dalam Ali ‘Imran ayat 134 (yang artinya), “…orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Keempat, menghidupkan budaya memberi daripada meminta karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dalam ajaran Islam termaktub dalam banyak ayat bahwa senang memberi itu bagian dari manifestasi keimanan seseorang dan termasuk amal saleh yang sangat dianjurkan. Bahkan dalam al-Quran juga dipaparkan bahwa belum termasuk kebaikan jika dia belum memberikan sesuatu yang disenangi.

Baca Juga: Harmoni dalam Kemajemukan

Kelima, semangat berbuat baik kepada orang lain dan tidak mengharapkan kebaikan dari orang lain. Sebenarnya, hakikat hidup itu untuk melakukan kebaikan. Perbuatan baik akan kembali kepada dirinya sendiri tanpa mengharapkan imbalan dari orang lain. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ad-dunya mazra’atul akhirah, yang artinya, dunia itu tempat menanam tanaman akhirat. Sedangkan dalam Q.S. al-Isra’ ayat 7 disebutkan in ahsantum, ahsantum li anfusikum. Wa in asa’tum falaha …” Artinya, jika kamu berbuat baik, (berarti) berbuat baik kepada dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri.

Keenam, menumbuhkan semangat suka menolong. Manusia sebagai makhluk sosial tentu memerlukan kehadiran dan bantuan orang lain sehingga satu dengan lainnya saling membutuhkan. Oleh karena itu, penanaman karakter suka menolong menjadi hal penting yang ditekankan dalam keluarga. Dalam Q.S. al-Maidah ayat 2 disebutkan (yang artinya), “…dan bertolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan…”

Ketujuh, menjauhi prasangka buruk karena akan merusak persahabatan dan persaudaraan. Dalam Q.S. al-Hujurat ayat 12 disebutkan (yang artinya), “Wahai orangorang yang beriman, jauhilah prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain …”

Kedelapan, menghargai keunggulan orang lain dan menyadari bahwa masing-masing bangsa maupun daerah tentu menyimpan potensi dan memiliki keunikan budaya. Meskipun demikian, kita tidak boleh memandang diri rendah karena hanya akan menghambat pergaulan serta memunculkan watak pesimistis dan apatis.

Kesembilan, membalas kejelekan dengan kebajikan. Semua orang tentu menginginkan untuk menerima perilaku baik dari orang lain. Padahal kesan orang terhadap orang lain tidak selamanya sesuai dengan yang diharapkan, bahkan kadang sebaliknya. Sikap itu dapat ditunjukkan dengan kata-kata merendahkan, menyakitkan, kritik pedas, sikap mengacuhkan, apalagi jika menggunakan anggota badan.

Penyikapan terhadap hal tersebut telah dituntunkan dalam Q.S. Fusshilat ayat 34 sebagai berikut (yang artinya), “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan di antara kamu dan dia akan menjadi seperti teman yang setia.”

Semoga Allah mudahkan upaya kita dalam menumbuhkan diri, anggota keluarga, dan masyarakat sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna kedamaian.

Related posts
Keluarga

Kerja Tidak Harus ASN dan Kantoran

Oleh: Alimatul Qibtiyah* Bekerja secara umum adalah suatu proses kegiatan yang melibatkan mental dan fisik serta dilakukan seseorang untuk mendapatkan imbalan, baik…
Keluarga

Pentingnya Pendidikan Pranikah Sebelum Mengarungi Bahtera Rumah Tangga

Menikah adalah fitrah manusia. Setiap insan yang memiliki akal yang sehat pastinya memiliki keinginan untuk menikah. Tentunya menikah pada waktu yang tepat,…
Berita

Majelis Tabligh PWA DIY dan PDA Bantul Gelar Bimwin Balita: Kuatkan Kesakinahan Berkeluarga

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Majelis Tabligh (MT) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bekerja sama dengan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA)…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *