Menunggu Surat

Aksara 5 Mei 2021 0 32x
menunggu surat

menunggu surat (foto: punakawan.net)

Oleh: Affan Safani Adham

Ia, lelaki tua pembuat bata yang bekerja setelah fajar dan berhenti saat pudar matahari. Bekerja selama tujuh hari sepekan, tiga puluh hari sebulan, diselingi kegiatan lain yang tak dapat diabaikan: makan, tidur, salat ke masjid, bersapaan dengan tetangga atau kenalan yang lewat. Juga dengan tukang pos yang selalu berhenti di tepi jalan, di luar pagar halaman.

Tiap kali sepeda motor tukang pos itu terdengar, si tua itu akan menelengkan kepala yang nyaris botak serta beruban. Menegak-negakkan punggung yang bungkuk, mendekat tertatih-tatih.

“Wah, kosong, Pak,” sambut tukang pos.

“Kosong?”

“Mungkin besok,” suara tukang pos seperti membujuk.

“Ya, mudah-mudahan,” harap pembuat batu bata itu dengan manggut-manggut.

“Banyak surat diantar hari ini?”

“Lumayan, Pak. Semoga isinya pun berita gembira.”

“Mudah-mudahan. Menyenangkan dapat menggembirakan orang, Pak Pos.”

“Tapi saya hanya tukang pos, Pak.”

“Tidak ada Pak Pos kegembiraan malah tak sampai.”

“Terima kasih. Mudah-mudahan besok giliran Pak Bata.”

Tukang pos itu selalu berhenti di luar pagar meski tahu tidak ada surat untuk laki-laki tua itu: pembuat bata. Ia tidak punya siapa-siapa dalam hidupnya. Kecuali tetangga, pemesan bata dan penjual tanah liat bahan untuk bata.

***

Istrinya meninggal belasan tahun lalu. Satu-satunya anaknya lelaki, meninggal waktu kecil. Tetapi si tua itu mengesankan seolah anak itu masih ada, sudah dewasa, dan merantau seperti lazimnya anak-anak muda kota itu. Lama ia mendengar si tukang pos baru bertugas di kota itu, menggantikan tukang pos tua yang kini pensiun.

“Kurang waras?” tukang pos baru itu bertanya pada tukang pos tua.

“Tidak. Malah ramah, juga rajin. Kerja sejak pagi, berhenti menjelang Magrib. Bayangkan. Tiap hari begitu, berpuluh tahun.”

“Sejak muda membuat bata?”

“Kata orang, sejak kecil,” ujar tukang pos tua. “Langganannya tidak cuma dari kota ini saja. Dan tak pernah dia pasang tarif.”

“Maksud Bapak?”

“Ia hanya menyebut modal pembuat bata. Terserah, mau dibayar berapa.”

“Wah!”

“Punggungnya pun tambah bungkuk tiap selesai bikin bata.”

Tukang pos baru itu kembali melongo.

“Maksudnya bagaimana? Punggung pembuat bata itu bagaimana?”

Tukang pos tua menjelaskan, “Tiap kali selesai membuat bata tampak makin lengkung sehingga mukanya seperti mendekat terus ke tanah. Seolah-olah ingin mencium tanah!”

Mungkin karena cerita-cerita itu, atau iba pada kesendirian lelaki tua itu serta takjub melihat ketabahannya menanti surat yang tak kunjung tiba, si tukang pos baru akhirnya mengabulkan permintaan tukang pos tua. Selain hari libur dan Ahad, ia berhenti di pinggir jalan, mengucapkan tidak ada surat dan bicara sejenak dengan si pembuat bata. Saat ia melaju lagi di jalan, dilihatnya lelaki tua itu kembali bekerja. Punggungnya lengkung, amat lengkung tak ubahnya batang-batang padi.

“Nah! Betul, kan?” sambut tukang pos tua ketika tukang pos baru itu bertamu sore-sore dan bercerita.

Tukang pos baru itu membenarkan.

“Tapi kenapa bisa begitu?” tanyanya.

“Tidak ada yang tahu. Sejak tugas di kota ini saya dapati seperti itu. Boleh jadi hanya pembuat bata itu sendiri yang tahu.”

“Tidak pernah Bapak tanya?”

“Tak tega saya. Dia baik dan ramah sekali. Saya cuma singgah tiap hari, bicara sebentar, saling bertanya kabar, lalu bilang tidak ada surat dan mungkin besok.”

Tetapi suatu saat, tukang pos tua tega bertanya. Dan pembuat bata itu terkekeh mendengarnya.

“Ada-ada saja. Padi memang begitu, pak Pos. Eh mestinya hati manusia juga, ya. Tetapi punggung saya, hehehe, ada-ada saja orang-orang itu.”

“Jadi pak Bata sama sekali tidak merasa bahwa punggung…”

“Punggung ini tentu tambah bungkuk, pak Pos. Maklum, makin tua. Agaknya setua ayah pak Pos. Ah, tidak. Pasti saya lebih tua. Pasti. Tapi anak saya ya, anak saya mungkin sebaya pak Pos. Eh, belum ada surat dari dia?” potongnya.

“Oh. Belum, Pak. Kosong. Mudah-mudahan besok.”

“Ya, ya. Mudah-mudahan,” pembuat bata itu manggut-manggut.

***

Sejak itu si tukang pos baru berhenti di pinggir jalan, di luar pagar si pembuat bata. Bercakap-cakap dengan pembuat bata sambil bekerja dan tukang pos itu memperhatikan serta bertanya-tanya. Wajah lelaki tua itu dilihatnya berseri-seri meski kulitnya keriput. Lengannya coklat, kukuh serupa kayu. Urat-urat di tangannya hijau bertonjolan, melingkar-lingkar. Tangan tua itu amat cekatan membuat adonan dari tanah liat. Semua dilakukan pembuat bata itu tanpa buru-buru sambil bercakap-cakap dengan si tukang pos.

“Hebat!” puji si tukang pos. “Hebat benar pak Bata bekerja. Seolah mudah saja pekerjaan itu buat pak Bata.”

“Hehehe. Alah bisa karena biasa, pak Pos. Seperti pak Pos mengantar surat dengan sepeda motor.”

“Dan ikhlas,” ujar si tukang pos.

“Ya, ya. Kalau tidak tentu berat terasa,” sambut si pembuat bata.

Mereka terus bercakap-cakap dan tukang pos terus pula memperhatikan tangan si pembuat bata. Juga tubuhnya. Tubuh lelaki tua itu tentu akan tampak lebih tinggi, juga besar, kalau saja punggungnya tidak melengkung bungkuk dan badannya lisut. Tetapi wajahnya selalu berseri meski kulitnya keriput. 

Tukang pos itu berpikir, apakah wajah ayahnya, yang samar-samar saja ia ingat, akan keriput dan berseri andai sempat jadi tua. Jika tak wafat saat dia di masih sekolah di SD. Wajahnya juga. Apakah nanti keriput, juga berseri, bila Allah swt. memberi dia usia panjang seperti tukang pembuat bata itu?

“Berapa umur pak Bata tahun ini?”

“Hehehe. Tidak jelas, pak Pos. Tapi pasti sudah panjang. Sebab, punggung ini tak kuat lagi menyangga tubuh.”

Musim hujan kemudian singgah di kota itu. Meski tidak selalu lebat. Kadang-kadang sore, sepanjang malam, pagi atau siang hari. Tukang pos itu berteduh di bawah pohon atau emperan toko bila hujan turun deras dan kembali berkeliling ketika hujan menjelma gerimis. Tubuhnya tertutup mantel. Dan mukanya ditutupi sapu tangan seperti perampok.

***

Pembuat bata itu sudah menggeser tempat kerjanya dari bawah pohon jambu ke emperan rumah agar terhindar dari hujan. Sedikit jauh dari pagar. Tetapi telinga si tua itu tajam. Tiap kali terdengar suara sepeda motor si tukang pos ia selalu menyapa. Tukang pos itu mulanya hendak lewat saja karena sapu tangannya sudah kuyup, mukanya perih ditusuk-tusuk gerimis. Atau cukup melambai dan teriak, “Kosong, Pak!” Namun, dia tepikan juga sepeda motor begitu tiba dekat pagar rumah laki-laki tua itu. Dan pembuat bata itu mendekat tertatih-tatih setelah menegak-negakkan punggung.

“Wah kosong, Pak. Tapi mungkin besok.”

“Ya, ya. Besok. Mudah-mudahan. Singgahlah dulu. Ngopi.”

“Terima kasih. Masih banyak surat harus diantar.”

Seperti biasa, musim hujan cukup lama di kota itu. Atap, pohon dan jalan-jalan tidak pernah kering. Orang-orang berpayung ke mana-mana. Berbaju hangat, jas, jaket atau mantel, sebab angin juga rajin bertiup meski tak pernah berubah jadi badai.

Tukang pos itu juga tak lepas dari mantel dan sapu tangan menutup sebagian wajahnya. Dan walau sejenak dengan muka terlihat makin putih juga perih ditusuk gerimis, ia berhenti dekat pagar dengan suara, bibir dan dada bergetar ia berucap: “Kosong, Pak. Mungkin besok.” Kemudian dilihatnya lelaki tua itu kembali melangkah, terbungkuk-bungkuk di bawah gerimis menuju emperan rumah.

Tetapi suatu hari, tukang pos itu merasa jadi manusia paling bahagia sedunia. Meski masih pucat, malah kian perih ditusuk gerimis yang terus mendesis, wajahnya berseri-seri. Belum tiga menit lalu dia bersorak kepada pembuat bata itu, dan kali ini tidak dengan dada serta suara yang bergetar.

“Ada surat, Pak!”

“Surat?”

“Ya. Surat dari anak pak Bata!”

Pembuat bata itu menerimanya dengan jari-jari bergetar. Dan saat si tukang pos itu melaju pula di jalan, dilihatnya laki-laki tua itu masih berdiri di bawah rintik hujan sambil melambai-lambaikan tangan.

“Terima kasih!”

“Sama-sama, Pak Bata. Semoga beritanya bagus-bagus.”

Tinggalkan Balasan