Menyediakan Menu Sehat bagi Warga Anak Panti

Info Sehat 11 May 2020 0 73x

Oleh : Ana Ratnawati,.S.Kep,.M.Kep (Anggota ‘Aisyiyah Ranting Pandowan, Galur Kulon Progo, Dosen Poltekes Kepmenkes DIY)

Asupan gizi yang baik dibutuhkan oleh manusia sehingga dapat menjalankan aktivitas dalam keadaan sehat. Demikian halnya konsumsi gizi yang baik sangat penting pada usia pertumbuhan dan perkembangan untuk tumbuh, berkembang, beraktivitas sekaligus sebagai penentu kualitas sumber daya manusia.

Usia anak dan remaja identik dengan usia pelajar. Mereka membutuhkan gizi yang baik untuk berfikir dan bergerak, namun apabila gizi pada masa tersebut tidak tercukupi dengan baik maka akan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya hingga dewasa apabila tidak segera ditangani. Sedangkan asupan gizi yang kurang tepat juga dapat mengakibatkan permasalahan gangguan kesehatan yang dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia.

Makan bukan hanya dapat mencegah serangan penyakit. Memberikan makanan bergizi bagi anak memiliki banyak manfaat seperti, pertama, menstabilkan persediaan energi di dalam tubuh; kedua, memperbaiki suasana hati (mood); ketiga, membantu menjaga berat badan ideal; keempat, membantu mencegah timbulnya masalah pada kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, hingga obesitas di kemudian hari.

Gizi dapat diperoleh dari beberapa zat seperti energi, karbohidrat, protein, dan lemak. Kebutuhan gizi pada tiap individu berbeda-beda, yang dapat diukur dari beberapa parameter sebagaimana terdapat pada tabel AKG (Angka Kecukupan Gizi). Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah angka kecukupan rata-rata gizi perhari yang dikonsumsi oleh  mayoritas individu sehat dilihat dari beberapa kate-gori, meliputi umur, jenis kelamin, ukuran tubuh aktifitas fisik, genetik, dan keadaan fisiologis untuk  mencapai  titik kesehatan optimal.

Dalam kampanye program gizi, dahulu dikenal pedoman makan berslogan “4 Sehat 5 Sempurna” (4S5S). Pedoman tersebut dianggap tidak lagi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi gizi. Hal ini juga sesuai dengan perubahan pedoman “Basic Four” di Amerika Serikat -sebagai acuan awal 4S5S pada masa itu- menjadi “Nutrition Guide for Balance Diet”. Di Indonesia, “Nutrition Guide for Balance Diet” diterjemahkan menjadi “ Pedoman  Gizi  Seimbang” (PGS). 

Selain jenis  makanan, pola makan berdasarkan PGS menekankan pada proporsi yang berbeda untuk setiap kelompok yang disesuaikan atau diseimbangkan dengan kebutuhan tubuh. PGS juga memperhatikan aspek kebersihan makanan, aktivitas fisik, dan  kaitannya  dengan  pola hidup sehat lain.

Susu sejatinya bukan “makanan sempurna” seperti anggapan umum selama ini. Dengan anggapan itu, banyak orang menganggap susu merupakan “jawaban” atas masalah gizi. Sebenarnya, susu adalah sumber protein hewani yang juga terdapat pada telur, ikan, dan daging. Oleh karena itu di dalam PGS, susu ditempatkan satu kelompok dengan sumber protein hewani lain. Dari segi kualitas protein, telur dalam ilmu gizi dikenal lebih baik dari susu karena daya cerna protein telur lebih tinggi daripada susu.

Pemerintah memang telah banyak melakukan kampanye dalam rangka menanggulangi masalah gizi. Peran penting teknologi di era globalisasi juga telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak terkait  dalam  menyebarkan  informasi mengenai gizi yang baik. Meskipun demikian, belum terdapat sistem yang digunakan untuk memudahkan masyarakat  terutama pihak panti  asuhan  atau LKSA dalam mengatur menu makanan untuk anak panti asuhan yang sesuai dengan kebutuhan gizi. 

Peraturan Menteri Sosial (Permensos) No.30 Tahun 2011 tentang Standar Nasional Pengasuhan untuk Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak sendiri telah menyebutkan dalam salah satu poinnya mengenai makanan.  Dalam peraturan tersebut mengharuskan anak mengkonsumsi makanan dengan kualitas gizi dan nutrisi yang terjaga, sesuai kebutuhan dari segi usia dan tumbuh kembang selama tinggal dalam Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyajian makanan untuk anak di panti, pertama, siklus menu hendaknya tetap, makan sehari tiga kali yaitu pada  waktu pagi sebelum berangkat ke sekolah, siang setelah pulang sekolah, dan malam sesudah sholat isya. Kedua, makanan harus  lebih bervariasi dan dapat mencapai makanan dengan gizi seimbang pada setiap kali makan. Ketiga, menyiapkan makanan yang bersih, karena jika kotor sedikit akan meningkatkan risiko terserang berbagai penyakit. Keempat, usahakan untuk membeli dan menyiapkan bahan makanan yang berbeda setiap minggunya agar menu makanan anak senantiasa bervariasi.

Kelima, biasakan anak untuk sarapan setiap hari. Sarapan sangatlah penting karena menyumbang sejumlah energi untuk mendukung aktivitas anak sejak pagi hari. Terlebih karena mulai dari pagi hari, anak sudah membutuhkan banyak energi untuk beraktivitas dan belajar di sekolah. Keenam, tidak ada makanan paling sempurna yang dapat memenuhi kebutuhan gizi, selain mencukupi kebutuhan gizi harian dan mengombinasikan berbagai variasi menu makanan untuk mencegah timbulnya rasa bosan.

Beberapa contoh menu bagi anak, menu sarapan seperti roti tawar, irisan tomat dan selada, susu. Makan siang dapat mengembalikan energi anak yang hilang setelah beraktivitas sejak pagi, sekaligus mempertahankannya sampai waktu makan malam tiba. Usahakan menu makan siang memenuhi sekitar sepertiga jumlah energi, vitamin, serta mineral untuk anak.

Contoh menu makan siang seperti nasi putih, pepes, tempe bacem, tumis bayam, makanan selingan bubur kacang hijau. Menu makan malam dikonsumsi setelah energi anak habis untuk beraktivitas di siang dan sore hari. Isi kembali melalui asupan makan malamnya. Penuhi kebutuhan energi anak dengan menyediakan beragam sumber zat gizi makro dan mikro, seperti nasi putih, sup tahu, dan tumis kacang panjang.

Tulisan ini pernah di publikasikan pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 1 Januari 2020

Sumber Ilustrasi : https://jatimnet.com/humanity-food-truck-berikan-makan-istimewa-untuk-peziarah-makam-gus-solah-dan-santri-tebuireng

Leave a Reply