Menyemai Peradaban Utama dalam Keluarga (1)

Keluarga Sakinah 10 Jul 2020 0 78x

Oleh : Siti ‘Aisyah (Ketua PP ‘Aisyiyah)

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ …

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah … (Q.S. Ali ‘Imran (3) : 110).

Ketika dua insan mengikat janji kokoh (mītsāqan ghalīzhan) di depan penghulu dan disaksikan banyak keluarga, saudara, dan teman-teman dekat, sejatinya mereka berdua sedang meletakkan fondasi bangunan keluarga menuju Keluarga Sakinah. Hal ini merupakan salah satu upaya mewujudkan maqāshid al-syarīah (tujuan syariah). Dalam pandangan Amin Abdullah, tujuan syariah di era modern, menekankan pada maqāashid ‘āmmah (kemanusiaan universal). Kaitannya dengan keluarga, tujuan syariah di era modern ini, bukan saja melindungi keturunan dari yang lahir di luar perkawinan (perbuatan zina), tetapi kemaslahatan yang berorientasi pada perlindungan keluarga dan kepedulian yang lebih terhadap institusi keluarga (hifzh al-nasl). 

Fungsi keluarga sebagai persemaian peradaban merupakan salah satu dari sepuluh fungsi keluarga dalam Keluarga Sakinah ‘Aisyiyah yang tercantum dalam Buku Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah, hasil Munas Tarjih XXVIII pada tahun 2014 di Palembang.

Sepuluh fungsi dimaksud adalah : 1. fungsi keagamaan,  2. fungsi biologis dan reproduksi, 3. fungsi  penyemaian peradaban,  3. fungsi cinta kasih (kasih sayang), 4. fungsi perlindungan, 5. fungsi kemasyarakatan, 6. fungsi pendidikan, 7. fungsi ekonomi, 8. fungsi pembinaan lingkungan, 9. fungsi rekreasi, 10. internali-sasi nilai-nilai keislaman dan kaderisasi.

Fungsi ini, sejalan dengan visi gerakan ’Aisyiyah yang dituangkan dalam Pokok-pokok Pikiran ’Aisyiyah Abad Kedua, bahwa paham Islam yang diusung Muhammadiyah adalah Islam yang berkemajuan (dīn al-adhārah) untuk pencerahan peradaban, yang kehadirannya membawa rahmat bagi seluruh alam. Tulisan ini khusus mengangkat fungsi keluarga sebagai penyemaian peradaban.

Keluarga, sebagai elemen terkecil dari masyarakat, memiliki peran strategis dalam menyemaikan benih-benih peradaban. Selain itu, merupa-kan elemen awal dalam mewujudkan masyarakat berkeadaban yang merupakan wujud nyata dari masyarakat yang dicita-citakan Muhamamdiyah dalam wujud masyarakat madani (civil-society). 

Karakteristik masyarakat madani tercermin dalam masyarakat yang maju, adil, makmur, demokratis, mandiri, bermartabat, berdaulat, dan berakhlak-mulia (al-akhlaq al-karimah) yang dijiwai nilai-nilai Ilahiah. Masyarakat berkeadaban merupakan implementasi terhadap pesan normatif Q.S. Ali ’Imran (3): 110 yang tertulis di awal tulisan ini yaitu masyarakat utama (khairu ummah) yang ditegakkan atas pilar emansipasi (ukhrijat li al-nās), humani-sasi (ta`murūna bi al-ma’rūf), liberasi (tanhauna ’an al-munkar), dan transendensi (tu`minūna bi Allāh).

Fungsi Keluarga sebagai Penyemai Peradaban

Keluarga Sakinah memiliki kedudukan strategis dalam kehidupan kemanusiaan. Ia memiliki fungsi utama yang tidak dapat digantikan oleh institusi sosial lainnya. Di antara fungsi dimaksud adalah fungsi penyemai peradaban. Kata peradaban, secara kebahasaan, berasal dari kata adab yang mengan-dung pengertian tata krama, perilaku atau sopan santun. Dengan demikian, peradaban adalah segenap perilaku sopan santun dan tata krama yang diwujudkan oleh umat muslim dari waktu ke waktu baik dalam realitas politik, ekonomi dan sosial lainnya. 

Persemaian peradaban dalam keluarga nampak dalam perilaku dan tata karma atau akhlak karimah anggota keluarga dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pergaulan di internal keluarga,  tetangga, dan masyarakat luas, baik sebagai individu maupun dalam ikatan komunitas dan institusi di mana dia hidup, bergaul, dan bekerja. Dari sisi istilah, peradaban merupakan kebudayaan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi di mana kebudayaan tersebut tidak hanya berpengaruh di daerah asalnya, tapi juga mempengaruhi daerah-daerah lain yang menjadikan kebudayaan tersebut berkembang.

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 3, Maret 2020

Sumber ilustrasi :Mommiesdaily.com

Leave a Reply