Menyemai Peradaban Utama dalam Keluarga (2)

Keluarga Sakinah 26 Jul 2020 0 95x

Sumber Ilustasi : gontornews.com

Nilai-Nilai Dasar  (Al-Qiyam Al-Asasiyyah) Keluarga Pilar Persemaian Peradaban

Terdapat tiga nilai-nilai dasar Keluarga Sakinah yaitu nilai al-syumūl (universalitas) ar-ramah (kasih sayang) dan al-musāwāh (kesetaraan). Nilai al-syumūl merupakan nilai dasar pertama dalam Keluarga Sakinah. Al-Syumūl adalah nilai-nilai universalitas agama Islam yang muatan ajarannya mencakup seluruh aspek bidang kehidupan manusia, aspek tempat yang mencakup seluruh jagad raya, tidak hanya dibatasi tanah Arab tempat di mana Islam diturunkan, dan aspek waktu yang tidak terbatas sampai akhir kehidupan di jagad raya ini. 

Paling tidak, ada dua ayat yang menjadi rujukan yaitu Q.S. al-Maidah (5): 3 dan Q.S. Saba` (34): 28.  Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa Islam agama universal, agama yang membawa rahmah bagi seluruh alam, baik itu alam manusia, tumbuhan, binatang, jin, malaikat maupun seluruh jagad raya. Islam juga agama yang mengatur seluruh lingkup  kehidupan umat manusia, baik kehidupan individu, keluarga, masyarakat maupun bangsa. Dari nilai universalitas Islam, persemaian peradaban dalam keluarga mencakup seluruh aspek kehidupan, seperti aspek spiritual, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, ekonomi, sosial, budaya, dan politik.   

Kedua, ar-ramah yang merupakan nilai dasar dalam Keluarga Sakinah. Ramah dimaknai dengan riqqah taqtadlî al-ihsân ilâ al-marhûm, perasaan halus (kasih) yang mendorong memberikan kebaikan kepada yang dikasihi ( Al-Asfahani dalam Lisan al-’Arab). Nilai rahmah mencakup perasaan halus, kelembutan sebagai wujud rasa kasih sayang dan memberikan kebaikan atau salah satu di antara keduanya. 

Nilai rahmah merupakan sifat Allah Yang Dia telah menetapkan dirinya dengan sifat rahmah itu (Q.S. al-An’am (6): 12), misi ajaran Islam pembawa rahmah bagi seluruh alam (Q.S. al-Anbiya` (21): 107, dan misi risalah Nabi Muhammad saw. sebagai pembawa rahmah, sebagaimana sabda beliau :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ  اُدْعُ  عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ  إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah (diriwayatkan bahwa) ia berkata, ”kepada Rasulullah dikatakan, ”Berdoalah untuk keburukan orang-orang musyrik!” Beliau menjawab, ”Saya diutus tidak untuk menjadi pelaknat. Saya diutus hanyalah untuk menjadi rahmah (H.R. Muslim).

Dengan melandaskan pada nilai-nilai rahmah maka tidak ada kamus kekerasan dalam menyemaikan peradaban Islam di lingkungan keluarga, baik kekerasan verbal, fisik, seksual, ekonomi, dan sosial. Kelembutan atau kasih sayang dan kebaikan yang merupakan esensi rahmah mewarnai kehidupan keluarga. Karakter yang dikembangkan sebagai ciri keluarga berkeadaban antara lain kasih sayang, saling menghargai, menghormati, dan saling memuliakan.

Ketiga, al-musāwāh yang dimaknai kesetaraan hamba di hadapan Allah. Islam mengajarkan kepada pemeluknya bahwa perempuan dan laki-laki setara di hadapan Allah. Relasi laki-laki dan perempuan dalam posisi setara, tidak ada superioritas dan subordinasi (diunggulkan dan direndahkan). Masing-masing memiliki potensi, fungsi, peran dan kemungkinan pengembangan diri. Perbedaan fitrah laki-laki dan perempuan menampakkan adanya kekhususan yang dimiliki laki-laki dan perempuan agar keduanya saling melengkapi dalam melaksanakan fungsi dan perannya baik di ranah domestik (rumah tangga) maupun publik (masyarakat).  

Prinsip-prinsip relasi kesetaraan perempuan dan laki-laki telah diisyaratkan Allah dalam al-Quran sebagai berikut: Pertama, perempuan dan laki-laki sama-sama sebagai hamba Allah, keduanya memiliki kedudukan setara dan memiliki fungsi ibadah. Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk beriman dan beramal saleh. Yang membedakan kedudukan keduanya di hadapan Allah hanyalah kualitas iman, takwa, pengabdian kepada Allah dan amal salehnya. (Q.S. adz-Dzâriyât (51): 56, an-Nahl (16): 97, an-Nisâ’ (40: 124). 

Kedua, laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai khalifah (wakil) Allah di muka bumi. Mereka berdua memiliki kesempatan dan wewenang sama dalam menjalankan fungsi  mengelola, memakmurkan dunia dan memimpin sesuai dengan potensi, kompetensi, fungsi, dan peran yang dimainkannya (Q.S. al-Baqarah (2): 30, at-Taubah (9): 71. 

Ketiga, Adam dan Hawa bersama-sama sebagai aktor dalam kisah al-Quran tentang penciptaan manusia. Seluruh ayat tentang kisah Adam dan Hawa sejak di surga hingga turun ke bumi menggunakan kata ganti mereka berdua (humâ) yang melibatkan Adam dan Hawa aktif secara bersama-sama. (Q.S. al-Baqarah (2) : 35, al-A’râf (7): 20-23). Doa Adam dan Hawa ketika keluar dari surga adalah

قَالاَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ 

 Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmah kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. 

Keempat, laki-laki dan perempuan sama-sama berpotensi untuk meraih prestasi dan kesuksesan. (Q.S. an-Nisâ’ (4): 124 dan an-Nahl (16) : 97). Kelima, laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan setara di depan hukum. Perempuan yang berbuat salah akan mendapatkan sanksi atas pelanggaran yang telah dilakukannya sebagaimana laki-laki. Keduanya bertanggung jawab atas kesalahan yang telah diperbuatnya. (Q.S. an-Nûr (24): 2, al-Mâidah (5): 38). 

Nilai-nilai dasar al-musāwāh ini menjadi landasan dirumuskannya Pokok-Pokok Pikiran ’Aisyiyah Abad Kedua, diformulasikan menjadi Perempuan Berkemajuan yang menjadi salah satu Visi Gerakan ’Aisyiyah Abad Kedua. Nilai-nilai kesetaraan dimaksud adalah bahwa perempuan memiliki  martabat  yang  sama  dengan  laki-laki  karena keduanya sebagai makhluk ciptaan Allah yakni insan fi ahsan at-taqwim (Q.S. at-Tin (95): 4). Laki-laki dan perempuan sama mulianya dan derajatnya yang diukur dari ketakwaan dan amal salehnya (Q.S. al-Hujarat (49):13, al-Mulk (67): 2). Laki-laki dan perempuan juga memiliki kesempatan yang sama untuk beramal saleh dan meraih prestasi, (Q.S. An-Nahl (16): 97),  laki-laki dan perempuan memiliki fungsi ibadah dan kekhalifahan (Q.S. adz-Dzariyyat (51): 56, al-Baqarah (2): 30) serta meneguhkan keberadaan kemulian laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi (Q.S. al-Isra` (17): 70).  

Asas Keluarga Sakinah, Pilar Persemaian Peradaban 

Nilai-nilai dasar Islam terkait keluarga diwujudkan dalam asas-asas Keluarga Sakinah yang merupakan perwujudan nyata nilai-nilai dasar dimaksud. Terdapat lima asas dalam bangunan Keluarga Sakinah yaitu asas kemuliaan manusia (karamah insâniyyah), Q.S. al-Isra` (17): 70; asas pola hubungan kesetaraan (al-musāwāh), Q.S. al-Hujurat (49 : 13; asas keadilan (al-’adl), Q.S. an-Nahl (16): 90; asas cinta dan kasih sayang (mawaddah wa rahmah), Q.S. ar-Rum (30): 21; serta asas pemenuhan kebutuhan hidup sejahtera dunia akhirat (al-falâh), Q.S. al-Baqarah (2): 201. 

Untuk menyemaikan peradaban utama, lima asas dimaksud harus dikonkretkan dalam kehidupan keluarga menuju keluarga Sakinah. Dalam keluarga berkeadaban, disemaikan akhlak mulia saling memuliakan, meski sebelumnya mereka datang dari strata sosial, kedudukan, suku bangsa, dan bahasa berbeda. Suami istri, ayah-ibu, anak-anak dan asisten rumah tangga semua dimuliakan tanpa diskriminasi. 

Pola hubungan setara menempatkan suami-istri menjadi pasangan (zawāj), yang keduanya saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Di antara keduanya tidak ada yang superior atau inferior. Mereka saling memberdayakan dan mendukung peran dan karir dalam meraih prestasi. Demikian juga saling menutup kekurangan, kelemahan, dan membantu untuk bangkit kembali dan mengatasi permaslahan yang dihadapi masing-masing pasangan, menjadi permasalahan bersama untuk diatasi bersama-sama. 

Siti ‘Aisyah
Ketua PP ‘Aisyiyah

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah, Edisi 4 April 2020

Leave a Reply