Menyemai Toleransi di Lembaga Pendidikan

Berita 31 Agu 2021 0 50x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Menurut Abdul Mu’ti, Indonesia merupakan bangsa yang memiliki indeks kerukunan cukup tinggi. Indeks kerukunan yang ada di Indonesia saat ini berada pada angka 70 ke atas. Angka tersebut menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tergolong bangsa yang tinggi nilai penghormatan dan penghargaannya atas perbedaan dan tingginya praktik toleransi.

Pernyataan tersebut ia disampaikan dalam acara Podcast TVShow yang disiarkan di akun YouTube @tvMuh Channel pada Senin (30/8). Acara ini mengambil tema “Toleransi dalam Pendidikan adalah Keniscayaan”.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menjelaskan tentang peran sentral pendidikan sebagai ruang membangun perilaku toleransi masyarakat Indonesia. “Pendidikan merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat yang toleran. Pendidikan formal dapat dikembangkan menjadi miniatur sehingga diharapkan lembaga pendidikan tersebut menjadi model bagi perilaku toleransi,” jelas Abdul Mu`ti.

Toleransi dalam pandangan Mu’ti adalah mengakui dan menerima berbagai perbedaan di dalam masyarakat. Menurutnya, perbedaan semestinya tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk berbuat baik dalam segi sosial. Akan tetapi, apabila perbedaan itu berada di ruang pembahasan kepercayaan atau keyakinan, maka itu menjadi urusan masing-masing setiap individu ataupun kelompok.

Dalam hal ini, Abdul Mu`ti juga menjelaskan mengenai lima hal penting dalam toleransi, yaitu: pertama, pemahaman dan kesadaran. Indonesia merupakan negara majemuk, plural, dan heterogen, baik segi etnis maupun agama. Oleh karena itu, masyarakat harus memahami dan menyadari setiap perbedaan antara satu dengan lainnya.

Kedua, memahami penyebab terjadinya perbedaan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengetahui apa yang menyebabkan perbedaan tersebut. Mengetahui perbedaan dari dalam maupun luar akan membuat seseorang mengetahui titik dari perbedaan tersebut sehingga tidak berupaya menyamakan pemikiran atau perilaku dalam suatu permasalahan.

Ketiga, mencari titik persamaan. Dengan menemukan persamaan di tengah perbedaan, setiap individu atau kelompok akan dapat berpartisipasi dalam upaya membantu menyelesaikan permasalahan sosial yang terjadi.

Keempat, menentukan sikap. Masyarakat yang telah memiliki sikap dalam menghadapi perbedaan akan lebih mudah memahami setiap perbedaan tersebut.

Kelima, mempunyai sikap terbuka. Sikap terbuka ini akan membuat seseorang lebih mudah berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Selanjutnya, Mu`ti menjelaskan bahwa dalam dunia pendidikan, pelajar membawa sikap dan sifat mereka dari rumah atau lingkungan sosial ke dalam lingkungan pendidikan. Hal inilah yang mencerminkan perilaku pelajar saat berada di lingkungan sekolah, baik perilaku positif ataupun negatif.

Baca Juga: Muhammadiyah Menyemai Damai

Menurut Mu’ti, terdapat beberapa permasalahan yang menyebabkan seorang pelajar menjadi intoleran terhadap satu sama lain, yaitu: (a) apabila ia sudah merasakan ketidakadilan dalam hidup; (b) kesenjangan yang cukup besar dalam masyarakat, baik dalam hal materi maupun sosial; (c) media sosial yang menjadi alat orang untuk menyampaikan pendapat seringkali juga menjadi ruang intoleransi.

Lembaga pendidikan, menurut Mu’ti, merupakan tempat pertemuan anak-anak yang memiliki beragam perbedaan. Adanya interaksi satu sama lain akan membuat mereka membaur walaupun perbedaan tersebut berada di tengah interaksi tersebut.

Mu`ti menjelaskan bahwa sekolah jangan sampai membuang perbedaan dalam jati diri peserta didik, namun sekolah dapat menjadi tempat dalam mendorong peserta didik dalam mengamalkan keyakinannya pada setiap proses toleransi. Lebih lanjut, ia menjelaskan pembiasaan dapat dibangun dalam interaksi, proses memahami, menerima, dan melayani bagi mereka yang berbeda dapat dibiasakan dalam proses pendidikan, kemudian diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat nantinya. (cheny)

Tinggalkan Balasan