Menyempurnakan Ibadah dengan Zakat

Berita 29 Okt 2021 0 47x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Zakat adalah ibadah wajib yang termasuk rukun Islam urutan ketiga. Ada banyak ayat al-Quran dan hadits yang memerintahkan umat Islam untuk menunaikan zakat.

Nia Fauziah Kurniasih selaku Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Banyumas dalam acara Dakwah ‘Aisyiyah yang disirakan di kanal YouTube @tvMu Chanenel dengan tema “Urgensi Zakat Maal dan Bedanya dengan Zakat Fitrah” menjelaskan bahwa zakat dibagi menjadi dua, yakni zakat fitrah dan zakat mal. Menurut Nia, ada kesamaan dan perbedaan di antara dua jenis zakat tersebut. pada Kamis (28/10).

Nia menyampaikan, persamaan dari keduanya terkandung dalam Q.S. at-Taubah: 60, yang berisi 8 (delapan) ashnaf (golongan orang yang berhak menerima) zakat, yakni fakir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharimin, fi sabilillah, dan ibnu sabil.

Sementara itu, Nia mengatakan, ada dua perbedaan antara zakat maal dan zakat fitrah. Pertama, dari segi pengertian, maal (jamak: amwal) berarti harta. Harta adalah segala sesuatu yang diinginkan manusia untuk dikuasai, dimiliki, disimpan, bahkan diambil manfaatnya, sehingga jika nilainya telah melebihi nisabnya sesuai dengan ketentuan syariat, maka seseorang diperintahkan untuk berzakat. Sedangkan zakat fitrah adalah zakat jiwa.

Kedua, dari aspek syarat. Syarat harta yang wajib dizakati dalam zakat maal yaitu harta milik sendiri secara penuh, harta yang tidak berhutang, harta yang melebihi kebutuhan pokok, dan yang paling utama yaitu harta itu telah melebihi nishab dan haul-nya. Kemudian, syarat orang yang wajib menunaikan zakat fitrah adalah semua umat Islam, termasuk bayi yang baru dilahirkan pada bulan Ramadhan.

Baca Juga: Redefinisi Ashnaf Zakat dalam Perspektif Tarjih

Ketiga, waktu menunaikan. Zakat fitrah ditunaikan pada akhir bulan Ramadhan sebelum salat idul fitri, sedangkan zakat maal ditunaikan bisa sepanjang tahun dengan syarat harta sudah mencapai nishab dan haul-nya.

Keempat, dari segi jumlah. Jumlah zakat maal sesuai dengan ketentuan syariat, sesuai dengan jenis harta yang dizakatkan. Sedangkan zakat fitrah yakni 2,5 kg beras.

Nia mengatakan bahwa persentase zakat tidak besar jika dibandingkan dengan ibadah yang lain. Akan tetapi, jika tidak didasari dengan keimanan dan ketakwaan, manusia terkadang masih suka memperhitungkan untung dan rugi ketika hendak menunaikan zakat.

Ia menyampaikan, Allah sangat mencintai hamba-Nya yang memberi manfaat untuk orang lain. Hal ini sebagaimana hadist Rasulullah riwayat at-Thabrani dan ad-Daruquthni, (khair an-nas anfa’uhum li an-nas) “sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi manusia lain”.

Lebih lanjut, Fauziah menjelaskan, zakat mengandung dua dimensi, yakni hablun min Allah (dimensi vertikal) dan hablun min an-nas (dimensi horizontal). hablun min Allah artinya Allah ingin menguji sejauh mana ketaatan manusia sebagai hamba-Nya. Sedangkan hablun min an-nas artinya bukti kepedulian kita kepada orang lain.

“Pada hakikatnya, semua harta yang ada di dunia ini hanya hak guna pakai, bukan hak milik. Artinya, ada hak orang lain terhadap harta kita sebesar 2,5%,” ucap Fauziah.

Di akhir paparannya, Fauziah berpesan bahwa di sisa umur kita di dunia yang fana ini, marilah kita berusaha menyempurnakan ibadah dengan cara menunaikan zakat. (silvi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *