Menyempurnakan Puasa Tanpa Ghibah

Hikmah 14 Apr 2021 0 60x
Ghibah

Ghibah (foto: beritalangitan.com)

Oleh: Muhsin Hariyanto

Motivasi seseorang dalam beribadah bisa beragam, termasuk ketika berpuasa. Banyak orang berpuasa karena mengharapkan pahala, namun tak sedikit pula yang berpuasa karena menjalani tradisi. Atau bahkan hanya sekadar mengikuti trend, karena umat Islam melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Padahal hanya ada satu yang paling utama dari harapan setiap orang yang beriman ketika berpuasa, yaitu berharap ridha Allah swt. Sebab dari ridha-Nya-lah setiap orang yang berpuasa bisa berharap meraih tujuannya ketika berpuasa, menggapai ketakwaan.

Ketakwaan adalah pencapaian tertinggi setiap manusia yang mendambakan hadiah terbesar dari Allah dalam perjalanan hidupnya, karena ketakwaan hanya akan diperoleh bagi orang yang benar-benar telah mendapatkan hidayah-Nya. Orang bertakwa ditandai dengan kesediaan untuk hanya beribadah kepada Allah dalam seluruh aktivitas kehidupannya.

Dalam sebuah hadits qudsi dinyatakan bahwa Allah swt. berfirman, “puasa itu untuk-Ku dan biarlah Aku sendiri yang menganugerahkan pahalanya” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Sa’ad al-Khudri).

Hadits di atas mengisyaratkan bahwa pahala puasa akan dihitung oleh Allah sendiri, karena Allah-lah yang paling tahu seberapa sempurna kualitas puasa seseorang. Banyak orang berpuasa dengan menghitungnya selayaknya seorang pedagang. Dia jalani lapar dan dahaga dalam rangka mendapatkan pahala puasa, tetapi justru dia tidak mendapatkan apapun yang diharapkannya. Tak sedikit pun dia memperoleh manfaat puasa di sisi Allah, karena terjebak pada proses ritual puasa tanpa mampu mengisi puasanya dengan tindakan nyata untuk menggapai ridha Allah. Dia justru lebih mengikuti hawa nafsunya untuk menikmati rasa malas ketika berpuasa.

Selama bulan Ramadhan, dia cenderung bersikap kontra-produktif. Dengan alasan berpuasa, ia malas berkreasi dan berinovasi dengan amal-amal saleh. Dan pada saat tertentu, ia bahkan terjebak dalam tindakan-tindakan yang dapat mereduksi pahala puasanya. Misalnya dengan melakukan, atau minimal terlibat dalam aktivitas ‘tajassus’ (menelisik keburukan orang lain) dan ‘ghibah’ (menggunjing). Serangkaian tindakan yang sangat menyenangkan bagi banyak orang.

Perintah Menjauhi Tajassus dan Ghibah

Dalam al-Quran Allah swt. berfirman, “hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. al-Hujurat [49]: 12).

Tajassus dan ghibah adalah dua aktivitas yang dibenci Allah. Ironisnya, kebiassan ini justru disukai banyak orang. Di mana pun kita bisa temui, terlebih di forum arisan ibu-ibu. Penulis, yang kebetulah adalah guru ngaji ibu-ibu, sering mengingatkan kaum ibu untuk tidak mengulangi kebiasaan-kebiasaan itu. Apalagi ditunjang oleh kehadiran televisi di setiap rumah yang banyak menayangkan berita gosip, dua aktivitas itu mendapatkan pemacu yang luar biasa.

Acara infotainment di hampir semua stasiun televisi menghadirkan cerita kehidupan para artis atau selebritis yang dikemas dalam bentuk paket yang dengan –tanpa basa-basi—menyebutnya sebagai serangkaian informasi yang sangat menghibur, sebagai bagian dari nama acaranya. Bahkan pada salah satu acara infotainment, pembawa acaranya menyebut diri dan menyapa pemirsanya dengan istilah ‘biang-gosip’. Mereka dengan bangga mengaku sebagai tukang gosip.

Dampak Negatif

Sepintas, acara tajassus dan ghibah ini terkesan sangat menghibur. Tetapi dampak negatifnya sangat besar. Karena aktivitas yang dilarang agama (baca: Islam) ini telah menjelma menjadi sebuah acara character assasination (pembunuhan karakter) seseorang, atau bahkan sekelompok orang dengan sangat sistemik dan sistematik. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw., “apa itu ghibah?” tanyanya. “Ghibah adalah memberitahukan kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaannya memang benar?” tanya sahabat lagi. “Jika benar itu ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasulullah saw. Percakapan tersebut diambil dari hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah.

Dalam QS. al-Hujurat [49]: 12, orang yang suka melakukan tajassus dan ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Berkaitan dengan hal ini, Jabir bin Abdullah r.a. meriwayatkan, “ketika kami bersama Rasulullah saw. tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai. Maka Rasul pun bersabda, ‘tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang menggibah orang lain’” (HR. Ahmad).

Bahkan dalam hadits lain dikisahkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “bahwa pada malam isra mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril: siapa mereka? Jibril pun menjawab, bahwa mereka itu adalah orang yang suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain, mereka inilah orang-orang yang gemar melakukan ghibah” (HR. Abu Daud dari Anas bin Malik r.a.).

Ghibah yang biasanya dimulai dan diiringi dengan tajassus adalah perbuatan yang dilarang dalam Islam. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keharmonisan dan kerukunan hidup bermasyarakat. Betapa banyak konflik terjadi dalam masyarakat berawal dari perilaku ghibah sekelompok orang kepada kelompok lainnya. Bahkan tidak jarang ghibah menjadi penyebab hilangnya nyawa seseorang. Perilaku ghibah ini –dalam berbagai ragamnya—jelas bertentangan dengan prinsip ukhuwah dan solidaritas yang dijunjung tinggi oleh Islam.

Dijelaskan oleh Rasulullah saw. bahwa keburukan ghibah bukan hanya dalam konteks hablun min an-nas. Dalam konteks hablun min Allah, ghibah juga dinyatakan dapat menghapus pahala ibadah seseorang. Pahala yang telah diperolehnya hangus terbakar oleh perilaku ghibah yang diperbuatnya. Ini membuktikan bahwa hubungan horizontal sangat menentukan kualitas hubungan vertikal.

Dalam hal ini, Rasulullah saw. bersabda, “puasa adalah perisai (dari azab Allah swt.) bagi orang yang berpuasa selama perisai itu tidak berlubang” (HR. al-Darimi dari Abu Ubaidah bin al-Jarrah). Mengutip pernyataan Abu Muhammad, salah seorang ulama hadits terkemuka, ad-Darimi menjelaskan bahwa yang ditengarai dapat melubangi perisai itu adalah ghibah.

Nah, apakah kita mau mencederai puasa kita –sebagai perisai dari azab Allah—dengan aktivitas tajassus dan ghibah?

Na’udzu billahi min dzalik.

Tinggalkan Balasan