Meraih Keluarga Sakinah dengan Meningkatkan Spiritualitas

Keluarga Sakinah 27 Feb 2021 0 188x
Spiritualitas Keluarga Sakinah

Spiritualitas Keluarga Sakinah

Oleh: Siti ‘Aisyah

Spiritualitas merupakan landasan dan pilar utama penegak bangunan keluarga sakinah. Esensi dari spiritualitas adalah daya kepasrahan dan ketaatan pada Allah yang Maha Esa berupa dorongan penggantungan diri hanya pada Allah serta adanya keyakinan bahwa segala derap langkah kehidupan tidak lepas dari iradah Allah. Dengan adanya nafas spiritualitas ini, rasa tentram, aman, dan damai pada jiwa setiap anggota keluarga akan tetap terpelihara. Selain itu, spiritualitas juga mendorong lahirnya kesalehan individual, sosial, dan institusional.

Spiritualitas tercermin dalam perilaku ibadah khusus dalam hubungannya dengan Allah dan mu’āmalah dunyawiyyah dalam hubungannya dengan sesama manusia serta alam sekitar. Spiritualitas dan ekspresinya tidak dapat hadir dengan sendirinya, tapi harus diupayakan agar dapat dimiliki oleh setiap anggota keluarga. Apalagi pada era industri 4.0 ini, tantangan keluarga semakin berat dan masif. Beberapa permasalahan seperti kekerasan terhadap perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, perkawinan anak, perkawinan siri maupun perceraian masih menjadi dinamika persoalan keluarga yang belum bisa dituntaskan. Jika dicermati dengan seksama, inti utama dari permasalahan tersebut adalah adanya ketidakadilan dan kecenderungan orientasi hidup yang bersifat materialistis serta kering dari nuansa spiritualitas.

Spiritualitas Dinamis K.H. Dahlan

Terkait hal di atas, menarik kiranya jika kita simak pemikiran Kiai Dahlan dalam tafsir tematik yang ditulis oleh KRH. Hajid, murid termuda Kiai Dahlan yang sangat rajin mencatat apa saja yang beliau ajarkan. Salah satu tema dari 17 ayat tafsir tematik yang diajarkan Kiai Dahlan kepada para muridnya, berkenaan dengan spiritualitas dinamis sebagai upaya pembersihan jiwa (tazkiyatun-nafs) dari sikap mempertuhankan hawa nafsu. Ayat-ayat yang diangkat Kiai Dahlan itu masih relevan untuk merespon permasalahan keluarga di era kekinian. Tafsir tematik yang dimaksud adalah  ”Membersihkan Diri Sendiri” yang mengkaji QS. al-Jāṡiyah [45]: 23, QS. asy-Syams [91]: 9, QS. al-Jumu’ah [62]: 2, QS. al-A’la [87]: 14-17,  QS. Ṭaha [20]: 14, QS. ar-Ra’du [13]: 28, serta QS. al-Fajr [89]: 17-20. Sikap manusia yang menuhankan harta (QS. al-Jāṡiyah [45]: 23) hanya dapat diatasi dengan tazkiyatun-nafs yang merupakan sarana menuju kebahagiaan hakiki (QS. asy-Syams: 9, Q.S. al-A’la [87]: 14). Tazkiyatun-nafs sendiri merupakan salah satu misi risalah kenabian (QS. al-Jumu’ah [62]: 2).

Tazkiyatun-nafs dalam pandangan Kiai Dahlan dilakukan melalui zikir, salat dan żikr al-maut. Zikir merupakan kesadaran insani akan hadirnya Allah dalam setiap denyut kehidupan yang diekspresikan dengan lantunan lisan dan amal perbuatan. Zikir yang paling utama dan khusus diwujudkan dalam ibadah salat, baik salat wajib maupun sunnah, sebagai komunikasi spiritual yang bersifat formal antara hamba dengan Allah. Salat yang sampai pada derajat ihsan adalah salat yang dapat menghadirkan suasana dialog hati dengan Allah dan dapat menjadi benteng atas lahirnya kemungkaran.

Selain itu, ada juga zikr al-maut atau mengingat mati sebagai awal perjalanan panjang yang bermula dari kehidupan di alam barzah. Berapa lamakah keberadaan diri di alam barzah itu? Tidak ada manusia yang tahu. Boleh jadi, kita akan berada di dalamnya selama ribuan tahun sampai datangnya hari kiamat, masa dibangkitkan, dan menghadapi pengadilan amal yang akan berakhir dalam kehidupan abadi, entah di surga atau justru di neraka. Na’ūżu billāhi min żālik. Żikr al-maut dalam pandangan Kiai Dahlan dikaitkan dengan QS. al-Fajr [89]: 17-20 yang intinya kesadaran, penghayatan, dan sikap tidak tergantung pada kehidupan dunia yang bersifat materialistik. Untuk itu, tazkiyatun-nafs-nya diekspresikan melalui aktivitas gemar berbagi serta melayani para du’afa musta’afīn yaitu saudara-saudara kita yang yatim maupun yang hidup dalam kemiskinan dan penindasan.

Spiritualitas dalam makna esensi tauhid juga merupakan landasan pembentukan keluarga sakinah. Esensi tauhid ada pada kesadaran bahwa semua proses dan keadaan kehidupan kekeluargaan harus berpusat pada Allah Swt. Semua kepemilikan berasal dari Allah dan kembali kepada Allah. Oleh karena itu, semua kegiatan harus dilakukan karena Allah Swt. Allah berfirman dalam surah al-Baqarah [2]: 284:

للهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya, “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Tauhid sebagai landasan pembentukan keluarga sakinah tercermin dalam tauhid rubûbiyyah, mulkiyyah, dan tauhid ulûhiyyah yang merupakan  esensi  ajaran  tauhid  yang ada  dalam  surah al-Fâtihah [1]: 2, 4, dan 5. Tauhid rubûbiyyah merupakan keyakinan bahwa Allah Swt adalah satu-satunya Tuhan Pencipta, Pemelihara, Pemberi hidup, dan Pengendali semua makhluk dan semua urusan.

Dalam keluarga, tauhid rubûbiyyah antara lain tercermin dalam kesadaran dan keyakinan bahwa Allah-lah yang menciptakan diri dan pasangannya. Allah-lah yang mempertemukan mereka berdua dalam satu rumah tangga. Allah-lah yang memberi rezeki untuk mencukupi seluruh kebutuhan keluarga. Allah yang menjaga kehidupannya, semua anggota keluarga dan semua yang dimilikinya. Allah pula yang mengatur kehidupannya. Lā khāliqa illā Allāh (Tidak ada yang Maha Mencipta selain Allah) Lā rāziqa illā Allāh (Tidak ada yang Maha Memberi rizki kecuali Allah), āfia illā Allāh (Tidak ada yang menjaga selain Allah), Lā mudabbira illā Allāh (Tidak ada yang Maha Mengatur kecuali Allah).

Adapun tauhid mulkiyyah merupakan keyakinan bahwa Allah Swt adalah satu-satunya Tuhan yang memiliki dan menguasai seluruh makhluk dan alam semesta. Dalam keluarga, tauhid mulkiyyah mewujud dalam kesadaran, keyakinan, dan sikap bahwa semua yang kita miliki sifatnya relatif karena pemilik mutlak adalah Allah. Manusia mendapat amanah untuk mengelola milik Allah itu sejalan dengan tata nilai dan norma yang telah digariskan oleh Allah dalam al-Quran, dituntunkan oleh Rasulullah Saw, serta tata aturan yang disepakati dalam hidup bersama dan sejalan dengan kebenaran dan kebaikan universal.

Dengan tauhid mulkiyyah, muncul kesadaran, penghayatan, serta sikap arif dan adil dalam menunaikan amanah yang dipercayakan kepada dirinya. Amanah kekuasaan yang dipercayakan kepada manusia dari Allah itu berdasarkan rahmah-Nya. Oleh karena itu, amanah tersebut seharusnya senantiasa memberikan kebaikan nyata dalam kehidupan. Implikasinya dalam keluarga, tidak ada yang merasa paling berkuasa dan merasa memiliki otoritas penuh untuk berbuat sewenang-wenang dan melakukan kekerasan terhadap anggota keluarga lainnya.

Budaya yang dikembangkan adalah budaya musyawarah, ingin melindungi, menebar kebaikan dan kasih sayang.  Itulah esensi dari Lā mālika illā Allāh (tidak ada yang Maha Memiliki kecuali Allah), Lā wāliyya illā Allāh (Tidak ada yang Maha Memimpin kecuali Allah), Lā ākima illā Allāh (Tidak ada yang Maha Mengadili dengan bijak kecuali Allah).

Sedangkan tauhid ulûhiyyah merupakan keyakinan bahwa Allah Swt adalah satu-satunya Tuhan, yang dijadikan Ilah, yang harus dipatuhi, ditaati, diagungkan dan dimuliakan, serta menjadi sumber pengabdian dan menjadi tujuan dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, implementasi konsep tauhid ulûhiyyah dalam keluarga diwujudkan dalam keyakinan bahwa yang berhak mendapatkan pengabdian absolut hanyalah Allah. Dalam konteks ini, suami istri hendaknya saling mengingatkan dan menguatkan untuk senantiasa melakukan pengabdian kepada Allah. Selain itu, seluruh akvifitas anggota keluarga hanya diarahkan pada keridaan Allah. Suasana religiusitas sebagai ekspresi tauhid ulûhiyyah juga perlu senantiasa diwujudkan dalam keluarga.

Nuansa Spiritual Keluarga Sakinah

Dalam buku Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah telah dituntunkan bagaimana mewujudkan nuansa spiritualitas dalam keluarga. Suasana spiritual tauhidiyah merupakan faktor pendukung yang sangat menentukan terwujudnya rumah tangga atau keluarga muslim yang sakinah. Suasana ini harus diciptakan, dipupuk, dan dibina oleh penanggung jawab keluarga beserta segenap anggotanya sepanjang masa. Suasana religiusitas secara khusus me-nyangkut aspek  aqidah dan ibadah. Sedangkan secara umum, suasana religiusitas merupakan kebermaknaan dalam sikap mulia (akhlak karimah) dan ke-bermaknaan dalam hubungan kemanusiaan. Suasana tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari keluarga melaui rangkaian ’amaliyah yaumiyyah berikut ini:

Pertama. Pembiasaan berdoa sebelum dan sesudah bangun tidur yang per-lu ditanamkan sejak masa kanak-kanak

Kedua. Pembiasaan menjawab azan dan segera menyiapkan diri untuk shalat.

Ketiga. Pembiasaan mengerjakan shalat berjamaah di masjid disertai kultum maupun bimbingan terkait yang memuat tata cara wudu dan shalat. Anggota keluarga juga dibim-bing menunaikan shalat sunah rawatib, shalat dluha, dan qiyamul-lail.

Keempat. Pembiasaan anggota keluarga untuk selalu ingat dan berdoa kepada Allah Swt dalam suka dan duka.

Kelima. Membudayakan ucapan kalimah thayyibah, misalnya: (a) Bismilâhhir-Rahmânir-Rahîm apabila hendak memulai pekerjaan yang baik, (b) Alhamdu lillâh apabila telah melakukan pekerjaan atau mendapat kenikmatan. (c) Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn apabila mendapat musibah, (d) Mâa syâa Allâh apabila terjadi sesuatu yang mengagumkan, (e) Subhânallâh apabila
terjadi hal yang kurang baik, (f) Astaghfirullâh apabila melakukan kesalahan, (g) Allâhu Akbar apabila berhasil melakukan pekerjaan sesuai dengan apa yang diharapkan, (h) Na’ûdzu billâh apabila ingin terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan.

Keenam. Pembiasaan makan bersama keluarga yang diawali dan diakhiri dengan doa.

Ketujuh. Pembiasaan puasa wajib pada bulan Ramadan dengan segala aktivitas ibadah yang mengiringinya serta beragam ibadah puasa sunnah lainnya seperti puasa Senin-Kamis.

Kedelapan. Penyelenggaraan pertemuan keluarga yang rutin dilakukan untuk saling berbincang tentang kondisi anggota keluarga, seperti aktivitas sekolah dan hambatan pergaulan yang ditemui, sehingga komunikasi antara ayah, ibu, dan anak-anak selalu harmonis.

Kesembilan. Segera menyelesaikan percekcokan antar anak dengan cara bijaksana dan  berlaku adil.

Kesepuluh. Pembiasaan diri dan anggota keluarga untuk mengucapkan dan menjawab salam.

Kesebelas. Berpakaian sopan sesuai dengan ajaran Islam, baik di rumah maupun ketika bepergian.

Keduabelas. Pembiasaan dalam keluarga untuk mengantar anggotanya yang akan meninggalkan rumah hingga ke pintu depan atau teras dan berpesan untuk berhati-hati di jalan.

Ketigabelas. Pembiasaan mengucapkan Assalâmu’alaikum wr.wb. walaupun rumah kosong.

Keempatbelas. Pembiasaan pergaulan suami isteri yang  tetap mengedepankan tata krama Islam karena merupakan bagian dari ibadah.

Kelimabelas. Pembiasaan silaturahmi dengan tetangga, keluarga, dan sanak kerabat terutama pada waktu ada musibah atau perayaan momen istimewa.

Keenambelas. Pembiasaan bersedekah sebagai ekspresi suka berbagi untuk membantu tetangga dan orang-orang yang membutuhkan.

Ketujuhbelas. Pembiasaan menjaga kesehatan serta kebersihan rumah dan lingkungan sebagai ekspresi cinta hidup bersih dan sehat.

Pelaksanaan beberapa ’amaliyah yaumiyyah di atas diharapkan dapat  mewujudkan nuansa spiritualitas dinamis yang menjadi landasan dan pilar keluarga sakinah sebagai basis Qaryah Tayyibah menuju terwujudnya masyarakat religius yang berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *