Merek Vaksin Bukan untuk Dipilih

Berita 21 Sep 2021 0 55x
Vaksin Covid-19

Vaksin Covid-19

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah  Senin (20/9), akun Instagram @kemenkes_ri mengadakan siaran langsung dengan mengusung tema “Vaksin Covid-19 di Indonesia, Apa Aja, Sih?”. Kegiatan ini menghadirkan Dokter sekaligus Tim Komunikasi Gugus Tugas Covid-19 Reisa Kartikasari atau yang dikenal sebagai Reisa Broto Asmoro sebagai narasumber.

Dalam kesempatan tersebut, Reisa menegaskan bahwa untuk memenuhi jumlah target sasaran masyarakat Indonesia yang berjumlah 208,5 juta jiwa atau sekitar 420 juta dosis, apabila dilakukan dua kali penyuntikan, tidak ada satupun produsen vaksin dapat menyediakan dan mengirimkan vaksin dengan jumlah banyak dalam satu waktu.

Untuk memenuhi target sasaran sebesar itu, pemerintah melakukan berbagai macam upaya. Reisa menyebutkan 6+1 merek vaksin yang dimiliki Indonesia saat ini, yaitu Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer, Janssen, dan satu lagi vaksin yang diproduksi oleh PT Bio Farma yang mengelola bahan baku dari PT Sinovac.

Reisa menyampaikan bahwa vaksin-vaksin tersebut berasal dari berbagai sumber; ada yang dibeli langsung oleh pemerintah Indonesia, ada yang merupakan kerja sama multilateral maupun bilateral, ada yang hibah dari negara-negara sahabat, ada juga yang merupakan pembelian secara aktif dari perusahaan-perusahaan melalui skema vaksin gotong royong.

Baca Juga: Epidemiolog: Vaksinasi dan Protokol Kesehatan Kunci Penanganan Pandemi Covid-19

Meski bermacam-macam, tetapi pemerintah selalu memastikan bahwa vaksin-vaksin tersebut memiliki mutu, berkhasiat, dan sudah terjamin keamanannya. “Beragamnya merek bukan karena kita butuh untuk memilih yang mana, tapi kita butuh karena kita butuh jumlah yang banyak dalam waktu singkat. Jadi semakin cepat kita divaksinasi, semakin cepat pula kita terlindungi,” ujar Reisa.

Reisa menjelaskan bahwa perbedaan setiap vaksin, selain produsennya yang berbeda, pendekatan setiap vaksin juga berbeda-beda. Ada yang dibuat dari virus yang dimatikan (seperti Sinovac dan Sinopharm), ada yang dibuat dengan pendekatan verenvector (Astrazeneca dan Janssen), ada pula yang dibuat dari mRNA (Pfizer dan Moderna).

Kemudian jarak penyuntikan dosis pertama dan dosis kedua pun berbeda-beda. Untuk jenis Sinovac dan Moderna jaraknya hanya 28 hari, untuk Astrazeneca 12 minggu, untuk Sinopharm dan Pfizer jaraknya hanya 21 hari, sedangkan untuk Janssen sementara ini cukup dengan 1 kali penyuntikan saja.

Lebih lanjut, Reisa menyampaikan bahwa KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi) itu adalah efek dari tubuh sebagai bentuk antisipasi adanya vaksin yang masuk ke tubuh, dan KIPI yang dialami setiap orang berbeda-beda tergantung pada vaksinnya itu sendiri. Solusi pada KIPI yang bisa dilakukan ialah dengan mengkonsultasikan kepada dokter yang nama dan kontaknya tertera di kartu vaksin. (fathia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *