Millah Ibrahim: Tuhan Hanya Satu, Allah Semata

Kalam 17 Mar 2021 1 65x
Millah Ibrahim

Millah Ibrahim

Oleh: Rahmat KH

Sepanjang sejarah, manusia mengenal adanya kekuatan rahasia di luar dirinya. Kekuatan rahasia itu dikenal dengan nama yang berbeda-beda, tetapi maksudnya sama, yakni Tuhan. Kepercayaan terhadap Tuhan adalah inti setiap ajaran agama. Mengutip pernyataan Max Muller, bahwa sejarah rill manusia adalah sejarah agama. Maksudnya, bahwa sepanjang hidup manusia selalu ada kepercayaan kepada Yang Suci di samping kepercayaan kepada yang duniawi.

Ada dua aliran berkenaan dengan asal-usul kepercayaan agama. Pertama ialah aliran evolusionisme yang berpendapat bahwa kepercayaan agama kepada Tuhan timbul dari politeisme yang berevolusi menuju monoteisme. Yang kedua ialah aliran ur-monoteisme (monoteisme asli) yang berpendapat bahwa kepercayaan kepada Tuhan timbul tanpa melalui evolusi dari bertuhan banyak menjadi bertuhan satu, tetapi sejak sediakala adalah monoteistis dan bertuhan satu.

Dari penyelidikan terhadap berbagai masyarakat primitif secara luas dan merata meliputi berbagai macam golongan dan suku, Wilhem Schmidt berkesimpulan bahwa kepercayaan tentang adanya Tuhan Yang Agung dan Esa adalah bentuk kepercayaan yang tertua sebelum ada elemen-elemen lain seperti animisme, totemisme atau magisme, fetishisme dan penyembahan setan yang digunakan oleh aliran evolusionisme dalam teorinya tentang asal-usul kepercayaan agama.

Tuhan dalam Islam

Menurut Islam, kepercayaan yang benar adalah monoteistik. Al-Quran dengan khusus menyebutkan Nabi Ibrahim mengajarkan monoteisme dalam bentuk yang amat jelas. Dan Nabi Muhammad saw. sendiri menyatakan berulang kali bahwa beliau mengambil jalan yang dilalui Nabi Ibrahim yang menolak penyembahan berhala dan menolak anggapan berbagai gejala alam sebagai Tuhan.

Allah berfirman dalam QS. an-Nahl [16]: 123, yang artinya, “kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik”.

Semua Nabi mengajarkan kebenaran yang fundamentil itu, tetapi kepercayaan itu dari waktu ke waktu dikaburkan oleh tangan manusia. Dan Nabi demi Nabi diutus Allah kepada berbagai bangsa dan kelompok umat manusia untuk mengembalikan kebenaran yang asasi itu.

Islam menekankan bahwa kepercayaan tentang keesaan Tuhan adalah sama tuanya dengan lahirnya manusia. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-A’raf [7]: 172 yang menjelaskan bahwa sebelum ruh dihembuskan/ditiupkan, ia sudah bersaksi di hadapan Tuhan bahwa Allah adalah Tuhannya.

Jadi, sebenarnya kepercayaan adanya Tuhan sudah ada dengan sendirinya dalam hati sanubari setiap insan. Yang menjadi masalah bukanlah perihal percaya dan tidak mempercayai keberadaan-Nya. Masalah yang pokok adalah bagaimana mentauhidkan Allah, meng-Esa-kan-Nya. Al-Quran menegaskan kemurnian ke-Esa-an Allah dan menolak segala kemusyrikan dan menerangkan bahwa tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya.

Qul huwa Allāhu ahad. Allāhu ash-Shamad. Lam yalid wa lam yūlad. Wa lam yakun ahū kufuwan ahad.

 

Sumber: Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi September 1985

One thought on “Millah Ibrahim: Tuhan Hanya Satu, Allah Semata”

Leave a Reply